Islamic Worldview; Ghazwul Fikr (Bag.1)

Islamic Worldview; Ghazwul Fikr (Bag.1)

0 98
pict_pijar

oleh : Maharevin *

ALHIKMAHCO,– Sulitnya umat Islam dikalahkan lewat perang jihad fisik, membuat musuh Islam mencari alternatif perlawanan. Salah satu yang dianggap efektif adalah dengan menyerang generasi muslim lewat pemikirannya, atau yang disebut Ghazwul Fikr.

Keberadaan Perang Pemikiran ini kerap dianggap sebagai sebuah isu kekinian. Namun sebenarnya, jauh sebelum manusia turun ke muka bumi, keberadaan perang pemikiran sudah terjadi sejak Iblis menyatakan janjinya untuk menggoda manusia.

Hal tersebut bisa dilihat dari pernyataan Iblis di Surat Al-Hijr [15]: 39, “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.

Demikian janji Iblis untuk menyesatkan anak-cucu Adam hingga Hari Akhir. Di mana cara yang dilakukannya adalah dengan membisikan godaannya itu agar manusia melakukan perbuatan maksiat tersebut, tanpa terpikir bahwa yang dilakukannya itu berdosa. Kalaupun manusia itu sudah tahu bahwa yang akan dilakukannya itu sebuah dosa, Iblis tak pernah menyerah. Ia akan mengubah cara pandang manusia, agar ketika terlanjur melakukannya pun dipandang sebagai hal yang lumrah (red_baik).

Misalnya, fenomena kebudayaan pacaran yang terus menggeliat di masyarakat, khususnya pada generasi penerus bangsa. Di mana, notabene sepasang insan yang tidak halal itu tahu hukum berpacaran, namun tetap melakukannya dengan dalih ingin mengetahui karakter calon pasangannya lebih dalam. Padahal, bila digali kembali, alasan utamanya tak lebih dari nafsu semata.

Atau ketika sudah masuk waktu shalat, Iblis dan rengrengannya selalu mengembuskan godaan untuk menunda-nunda. Ah, masih lama, bentar lagi masih nanggung, terus seperti itu hingga di batas waktu baru kita shalat, alhasil kendati melakukan sembahyang tapi tidak bisa khusyuk sebab terburu waktu shalat berikutnya. Astaghfirullah.

Begitulah cara iblis menggoda. Bisikannya halus namun ikatannya begitu kuat. Sulit bagi siapapun untuk berlepas diri dari godaan tersebut. Allah menegaskan hanya orang yang keimanannya murni (ikhlas) kepadaNya-lah yang bisa bertahan dari godaan Iblis.

Jadi, kembali lagi ke topik, sebetulnya perang pemikiran telah terjadi di masa yang begitu lampau. Adalah Nabi Adam yang menjadi korban pertama hasutan Iblis ini. Dibisikannya bahwa dengan memakan khuldi, ia dan Hawa bisa abadi di Syurga. Siapa yang tak ingin mengenyam syurga selamanya? Dan Adam As pun terperdaya sebab pikirannya telah tergoda oleh serangkaian kalimat indah yang dibisikan syetan. Tidak sadar ia telah melanggar aturanNya.

Bila kita tarik ke kondisi kekinian, kerap kita temukan bantahan-bantahan yang dibuat sedemikian rupa seolah logis. Semisal, walaupun mayoritas penduduk Indonesia itu muslim, namun karena agama yang tumbuh bukan hanya Islam, maka bila ditegakan syariat Islam, justru itu akan memarjinalkan kelompok minoritas (non-Islam), karena itu penerapan syariat Islam hanya akan memecah belah kemajemukan Indonesia. Dan masih banyak contoh pembahasaan kalimat lainnya yang seolah baik, namun tak lebih dari sebuah pendalihan dan berujung kesesatan.

Karena masifnya pergerakan Ghazwul Fikr ini, tak heran banyak kita temui tokoh-tokoh yang beragama Islam, dengan tingkat pendidikannya yang tinggi, namun cara berpikirnya sama sekali tidak berazaskan nilai-nilai keislaman. Kaum inilah yang dalam pandangan Al Quran dikatakan sebagai iblis berwujud manusia. Ia tidak akan rela bila Islam tegak dan menjadi way of life. Mereka itulah musuh yang nyata. []

bersambung,,,

*Penulis adalah Jurnalis Tabloid Alhikmah, alumnus UIN Bandung 2008

Komentar ditutup.