Islam di Amerika: Masa Depan Negeri Abang Sam

Islam di Amerika: Masa Depan Negeri Abang Sam

0 222

Tahun 1970, hanya ada 100 ribu Muslim di AS. Survei 2008 mencatat, ada lebih dari 9 juta muslim di negeri tempat patung Liberty ini berdiri.

Sedetik dua para peserta marathon itu masih berlari ringan. Garis finish sudah tampak melambai-lambai di depan pandangan. Menjejak garisnya tinggal selangkah lagi ke depan. Duaaarrrr… tiba-tiba bumi bergetar. Duaaarrrr… kembali terdengar sepuluh detik kemudian.  Asap putih membumbung di antara tiang-tiang bendera yang berderet rapi, berkibar di tepi jalan. Kerumunan yang bersiap menyambut kegembiraan di gurat finish, berubah panik berlari tak tentu tujuan.

Selasa 16 April 2013. Boston Marathon seketika berubah, Boston Explosions. Tiga orang tewas, dan lebih dari 130 orang terluka. Terparah sejak tragedi runtuhnya menara kembar WTC 11 tahun lalu, 11 September 2001.

Tak lama usai kejadian, Shamsi Ali, Imam Besar Jamaica Muslim Center, Queens,  New York langsung merilis pernyataan melalui jejaring sosial:

“On behalf of my community and myself I condemn to the fullest extent possible the evil act that just took place at the Boston Marathon. I urge all to avoid jumping to any conclusion on what or who was behind this tragedy. But whosoever the perpetrators are, I pray that law enforcement finds them as speedily as they can correctly identify them, and brings them to justice. As a marathoner, a human being, and a man of God, I send my heartfelt sympathy and prayers for the victims and their loved ones.

(Atas nama komunitas kami (muslim: red) dan saya pribadi, Saya mengutuk sebesar-besarnya tindakan jahat yang baru saja terjadi di Boston Marathon. Saya mendorong semua untuk menghindari melompat kepada kesimpulan tentang apa atau siapa yang berada di balik tragedi ini. Tapi siapa pun pelakunya, saya berdoa bahwa penegakkan hukum dapat menemukan dan mengidentifikasi mereka secepat mungkin, dan membawa mereka ke pengadilan. Sebagai pelari maraton, manusia, dan hamba Allah, saya menyampaikan simpati setulus hati dan doa bagi para korban dan orang-orang yang mereka cintai.)

Sebagai salah satu tokoh Muslim berpengaruh di negeri Abang Sam, pria kelahiran Sulawesi Selatan ini mencoba melakukan langkah antisipasi, mencegah persepsi miring tentang Islam di kalangan masyarakat non-Muslim Amerika. Seperti halnya yang terjadi 11 tahun silam, ketika gedung kembar WTC lantak. Ketika media AS, bahkan dunia menyorot umat Islam sebagai tertuduh utama. Teroris besar, tak berperikemanusiaan.

Kekerasan dan intimidasi terhadap warga Muslim pun tak terelak. Sarana ibadah menjadi sasaran pengrusakan. Saat itu Imam Shamsi Ali bahkan kerap mengalami hambatan untuk check in ketika akan terbang menaiki pesawat. “Biasanya mereka akan menelepon dulu ke kantor Homeland Security (Kantor Keamanan dalam negeri) untuk mencari tahu siapa gerangan si Ali (saya). Saya pernah tanya ke mereka kenapa saya selalu mengalami hal ini. Mereka jawab ada sekitar 3000-an Ali di sistem yang harus di check sebelum penerbangan,” katanya kepada Alhikmah, sepenggal waktu ke belakang.

Maka dalam sebuah momen undangan untuk mendampingi Presiden GW Bush ketika melakukan kunjungan pertama kali ke Ground Zero, setiap pimpinan agama ada kesempatan untuk berjabat tangan dan menyampaikan belasungkawa. Di saat itulah Imam Shamsi pergunakan untuk menyampaikan pesan kepada presiden AS ketika itu:

“Mr. President, on behalf of my community, please my heartfelt and deepest condolence to you and to the Americans. Certainly Mr. President, God will be with the Truth. But I ask you Mr. President, to go publicly and tell Americans that this tragedy has nothing to do with my faith and my community

(Pak Presiden, atas nama komunitas saya (Islam;red), belasungkawa sedalam-dalamnya kepada Anda dan masyarakat Amerika. Tentu Bapak Presiden, Tuhan akan bersama Kebenaran. Tapi saya meminta Bapak Presiden, untuk menyampaikan kepada publik, memberitahu warga Amerika bahwa tragedi ini tidak ada hubungannya dengan keyakinan dan komunitas saya”.

Alhamdulillah, keesokan harinya GW Bush sempat berkunjung ke sebuah masjid di Washington DC dan menyampaikan pesan seperti yang Imam Shamsi minta. Meski pernyataan itu tak mampu mengurungkan niat invasi Amerika ke Irak dan Afganistan, tapi bisa kita saksikan, betapa Islam yang menjadi sasaran pencitraburukkan, justru kian berkembang tak terhalang.

Survei ‘Muslim Demography’ (2008) mengatakan bahwa di AS angka rata-rata kelahiran adalah 1.6 jiwa. Dengan tambahan dari orang latin, angka rata-rata kelahiran menjadi 2.11. Angka minimun untuk mempertahankan peradaban (kristen). Bandingkan dengan pertumbuhan umat Muslim. Tahun 1970, hanya ada 100 ribu Muslim di AS. Survei 2008 mencatat, ada lebih dari 9 juta muslim di negeri tempat patung Liberty ini berdiri.
 

Zaytuna College di Amerika (pic.google)
Zaytuna College di Amerika (pic.google)

Muslim di AS sejak Kali Pertama

Seperti dilansir laman Wikipedia, sejarah mencatat kehadiran Muslim  di negeri abang Sam, lebih berfokus pada kedatangan para imigran Timur Tengah, yang bermigrasi di akhir abad ke-19 (1875 dan 1912). Mereka berasal dari kawasan, yang saat ini menjadi Suriah, Yordania, Palestina, dan Israel. Wilayah ini sebelumnya dikenal sebagai Suriah Raya yang diperintah oleh Kekhilafahan Utsmaniyah. Setelah kekhilafahan runtuh pada Perang Dunia I (PD I), terjadi gelombang imigrasi kaum Muslimin dari Timur Tengah, dimana dalam periode ini pula dimulainya kolonialisme Barat di sana. Pada tahun 1924, aturan keimigrasian AS disahkan, yang segera membatasi gelombang imigrasi ini dengan memberlakukan “sistem kuota negara asal”.

Periode imigrasi selanjutnya terjadi pada 1947-1960, dimana terjadi peningkatan jumlah Muslim yang datang ke AS, yang kini berasa dari negara-negara di luar Timur Tengah. Kemudian tahun 1965, Presiden Lyndon Johnson menyokong rancangan undang-undang keimigrasian yang menghapuskan sistem kuota negara asal yang sudah bertahan lama.

Riset Pew Research pada tahun 2007, dua pertiga Muslim di AS adalah keturunan asing. Di antara mereka telah bermigrasi ke AS sejak tahun 1990. Sedangkan sepertiga dari Muslim AS adalah penduduk asli yang beralih ke Islam, dan keturunan Afro Amerika. Pada tahun 2005, menurut New York Times, lebih banyak lagi orang dari negara-negara Muslim yang menjadi penduduk AS – hampir 96 ribu – setiap tahun dibanding dua dekade sebelumnya.

Sedangkan menurut Council on American-Islamic Relations (CAIR), jemaah masjid Sunni yang diperuntukkan bagi umum di AS berasal dari latar belakang bangsa yang berbeda: Asia Selatan (33%), Afro Amerika (30%), Arab (25%), Eropa (2,1%), Amerika kulit putih (1,6%), Asia Tenggara (1,3%), Karibia (1,2%), Turki Amerika (1,1%), Iran Amerika (0,7%), dan Hispanik/Latin (0,6%).
Di Ranah Ekonomi

Survei Pew Research Center ‘Muslim Americans: Middle Class and Mostly Mainstream’ (2007), menggambarkan bawa di bidang ekonomi (pendapatan), Muslim Amerika yang berada di garis kemiskinan hanya sekitar 2%, sedangkan di Prancis dan Spanyol masing-masing 18% dan 29%.

Jika dulu, kebanyakan imigran Muslim yang datang ke AS bekerja sebagai buruh, kini tak sedikit yang mengais nafkah sebagai seorang profesional. Pekerjaan lain yang dilakoni oleh Muslim di AS adalah guru, tentara, penjaga toko, sopir taksi, dokter, wiraswasta, dan profesi lainnya.

Bahkan baru-baru ini, sebagian lembaga keuangan dan korporasi mulai mencari cara membidik segmen Muslim AS. Beberapa program pendanaan lokal syariah yang dirintis Korporasi Pengembangan Komunitas Phillips (Phillips Community Development Corp.) maupun Badan Pengembangan Komunitas Minneapolis (Minneapolis Community Development Corp.), masing-masing telah memberi dana bagi pemiliki usaha Islam dengan biaya administrasi sebagai pengganti bunga. Delsan Auto Dealer, tempat usaha mobil bekas miliki seorang Somalia, menyediakan pendanaan bebas bunga kepada pelanggannya.

Fajar Kebangkitan Islam? Wallahu a’lam.

(habe sungkaryo/alhikmahco)