Ir. Achmad Noe’man, Maestro Arsitektur Masjid Kebanggaan Indonesia

Ir. Achmad Noe’man, Maestro Arsitektur Masjid Kebanggaan Indonesia

0 528
Ir. H. Ahmad Noe'man Arsitek seribu masjid

Noe’man muda tak patah arang. Suatu hari ia berkesempatan audiensi dengan Presiden Soekarno yang kebetulan berkunjung ke ITB. Pada pertemuan itu ayah empat anak ini menyampaikan keinginannya untuk mendirikan Masjid. Akhirnya Soekarno pun merestui keinginan tersebut.

ALHIKMAHCO,– Masjid pada umumnya memiliki ciri khas yang mudah dikenali. Yakni bangunan berkubah dan memiliki tiang-tiang sebagai penyangga. Tetapi di tangan seorang putra Garut, Masjid dibangun menjadi tak berkubah dan tidak bertiang. Perubahan ini tentu memerlukan keberanian yang hebat. Dan Ir. Achmad Noe’man telah membuktikannya.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”  (Q.S. Al-Baqarah: 170)

Ayat inilah titik tolak dari keberanian Ir. Achmad Noe’man dalam merombak tradisi tua arsitek pembangunan Masjid di Indonesia dan beberapa negara lain yang pernah dijajakinya, dengan tidak memakai kubah dan tiang.

Ir. Achmad Noe’man dilahirkan di Garut, Jumat, 10 Oktober 1925. Ayahnya, H. Muhammad Jamhari adalah seorang saudagar sekaligus pendiri Muhammadiyah Garut. Sebagai ulama, H. Jamhari dituntut untuk membangun fasilitas pendidikan, mulai dari bangunan sekolah, asrama sampai masjid. Di saat pembangunan demi pembangunan infrastruktur pendidikan tadi dimulai, Noe’man kecil selalu berada di samping sang ayah. Salah satunya ketika mendirikan Masjid Muhammadiyah Lio di bilangan Pasar Baru, Garut – Jawa Barat.

Pendidikan formil Noe’man dimulai di HIS (Hollandsch Inlandsche School) –setingkat SD– Budi Priyayi Ciledug, Garut. Kemudian berlanjut ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs) –setingkat SMP— di kota yang sama. Namun karena kekuasaan beralih ke tangan Republik, MULO Garut pun ditutup dan anak ke delapan dari 13 saudara ini memutuskan untuk meneruskan pendidikannya ke MULO Jogjakarta. Selesai dari MULO, ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah, Jogjakarta.

Sewaktu Achmad Noe’man di Jogjakarta, sang ayah jatuh sakit. “Jangan diberitahu, biarkan dia menyelesaikan sekolah. No’eman itu kalau bisa di mana saja sekolahnya harus cucud (beres). Setelah cucud jangan menjadi PN (Pegawai Negeri), tapi harus berdiri sendiri,” ujar Noe’man mengenang wasiat mendiang ayahnya yang disampaikan melalui sang ibu, Siti Rukmanah. Tak lama kemudian, H. Jamhari pergi menghadap sang Khalik.

Wajar jika Noe’man kecewa. Ia sangat bersedih kehilangan orang yang dicintainya. “Kenapa saya tidak diberitahu bahwa ayah sakit keras, kan saya bisa pulang,” kenang penulis buku The Mosque as A Community Development Centre. Namun, Noe’man tak mau larut dalam kesedihan. Ia harus bangkit melangkah, tunaikan amanah ayahanda tercintanya.

Sekitar tahun 1948, untuk meraih cita-citanya sebagai arsitek, salah satu pendiri HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Bandung ini, meneruskan pendidikannya ke Universitas Indonesia di Bandung. Namun ternyata, kampus yang menjadi cikal bakal ITB ini tidak menyediakan jurusan Arsitektur. Akhirnya Achmad Noe’man memilih Fakultas Teknik Sipil.

Setahun kemudian, 1949 terjadi penyerahan kekuasaan dari Belanda ke TNI. Kemudian, dibentuklah CPM (Corp Polisi Militer) dan Noe’man termasuk di dalamnya dengan pangkat Letnan Dua, setelah sebelumnya ia meninggalkan kuliah di Fakultas teknik Sipil, karena peraturan Wajib Militer yang dibuat oleh pemerintah saat itu.

Dunia Militer dijalaninya hingga tahun 1952, setelah itu Achmad Noe’man kembali ke UI, karena kampus ini telah membuka Fakultas Teknik Sipil, Jurusan Arsitektur. “Kenapa ayah meninggalkan tentara padahal kesempatan untuk menjadi Jendral itu ada?” ujar anggota Majelis Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini, mengutip pertanyaan anak-anaknya dulu. Noe’man pun menjawab ringan, “Kalau bapak jadi jendral maka pahlawan yang berhasil dibunuh PKI itu jadi 8 orang,” katanya sembari tertawa lepas.

Tahun 1958, Noe’man berhasil menyelesaikan studinya. Semula ia hendak dikirim ke Kentukcy, Amerika Serikat, untuk mengambil program Master. Namun ia memilih membuka biro Arsitektur Birano (Biro Arsitek Achmad Noe’man), sekaligus mengajar sebagai dosen di ITB.

Di ITB, Sebagai seorang Muslim, Achmad Noe’man tidak mungkin meninggalkan shalat jamaah yang hukumnya fardhu ‘ain. Sementara di Kampus ITB untuk mendirikan Masjid dirasa sulit, karena saat itu kebanyakan mahasiswa didominasi oleh orang China dan Belanda.

Keinginan Noe’man untuk mendirikan Masjid di ITB mendapatkan dukungan dari Prof. Khairo Umam, gurunya di ITB. Akan tetapi, Entang Kosasih, Rektor ITB saat itu, beserta Walikota Bandung, Aspriana, tidak menyetujui keinginan Achmad Noe’man.

Noe’man muda tak patah arang. Suatu hari ia berkesempatan audiensi dengan Presiden Soekarno yang kebetulan berkunjung ke ITB. Pada pertemuan itu ayah empat anak ini menyampaikan keinginannya untuk mendirikan Masjid. Akhirnya Soekarno pun merestui keinginan tersebut.

Tahun 1959, dibuatlah rancangan bangunan mAsjid tanpa tiang dan kubah di ITB. Tak seberapa lama kemudian, sebuah Masjid sederhana tanpa kubah dan tiang berdiri tegak di kampus produsen teknokrat itu. Atas instruksi Soekarno, Masjid tersebut kemudian diberi nama Masjid Salman.

Pendirian masjid tanpa kubah dan tiang itu, bagi mantan Ketua Yayasan Universitas Islam Badung ini memiliki alasan tersendiri. Masjid yang berkubah harus ditopang oleh pondasi yang kuat. Sedangkan pondasi tidak akan kuat tanpa bantuan dari tiang-tiang yang menyangga bangunan. Bagi Noe’man keberadaan tiang jelas menjadi penghalang shaf-shaf shalat. “Syarat wajib shalat berjamaah,kan harus bershaf, bahkan Sayyidina Umar melurukan shaf itu pakai pedang. nah saya ingat itu,” ujar penulis buku Mosque in Malaysia ini.

Selain Masjid Salman ITB, melalui tangan kreatif seorang Achmad Noe’man, lahir pula masjid-masjid lain seperti Masjid Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar, Masjid At-Tin, Jakarta, serta banyak masjid lainnya.

Tak hanya di dalam negeri, arsitektur Masjid karya Achmad Noe’man pun banyak bertebaran di luar negeri. Di antaranya, Masjid Istiqlal di Bosnia, masjid renovasi dari bangunan Gereja di Amsterdam, Belanda, serta Masjid yang terdapat di Cape Town, Afrika Selatan. Di antara arsitektur Masjid yang dibangun Achmad Noe’man, terdapat pula peran anaknya, Fauzan. Anak ketiga dari empat saudara ini, menurut Noe’man mewarisi keahlian ayahnya.

Saat ditanya jumlah masjid yang pernah diarsitekinya, Noe’man hanya mengatakan, “Saya lupa menghitungnya!” Namun ia berharap, setiap masjid yang pernah dibuat semoga bisa mengalirkan bermanfaat bagi umat, dan tentu menjadi jalan baginya untuk meraih ridla Allah. [] (Yasin/Alhikmah)

Tulisan ini merupakan salah satu artikel dari Tabloid Alhikmah edisi 33 

dewan_pembina_sinergifoundation

Nama Lengkap          : Ir. Achmad Noe’man

Lahir                          : Garut, Jumat, 10 Oktober 1925

Istri                           : A. Kurniasih

Anak                           : 4

Karya Tulis                 :

–          The Mosque as A Community Development Centre: Programmes and architectural Guidelines (UTM 1998)

–          Peranan Kurikulum dan Reka Bentuk Masjid Sebagai Pusat pembangunan(Penerbit UTM 1999)

–          The Architectural Heritage Of The Malay World : The Traditional Mosque(Penerbit UTM 2000)

–          Mosque in Malaysia : Styles and Social Political Influences (Utusan Publication)

Organisasi

–          Anggota Majelis Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)

–          Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)

–          Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

–          Pengajar Luar Biasa ITB

–          Dewan Pembina Sinergi Foundation