Inspirasi Berry ‘Saint Loco’, Nikmat Shalat Berujung Kalimat Syahadat

Inspirasi Berry ‘Saint Loco’, Nikmat Shalat Berujung Kalimat Syahadat

0 534
User comments

 

Saban hari Berry tak lepas dari barang-barang haram; minuman keras, narkoba, dan ragam kemaksiatan lainnya. Uang yang dengan cepat masuk ke kantongnya, cepat pula habis sia-sia.

ALHIKMAH.CO–Berry Saint Loco, begitu ia dikenal publik. Vokalis grup band kenamaan, Saint Loco ini begitu memikat penggemar dengan kepiawaiannya di atas panggung. Tak heran, Berry menjelma menjadi seseorang yang digandrungi banyak kalangan. Tawaran manggung, roadshow membuat jadwalnya kian padat. Pundi-pundi rupiahnya kian menebal.

Namun di balik hingat bingar semua itu, Berry merasakan ada sesuatu yang terasa sumir. Ada hal yang dirasa hilang. Ada rasa kehampaan hidup yang luar biasa. Kepada Alhikmah, saat lawatannya ke Bandung sepenggal Oktober 2015 lalu, ia bercerita banyak hal tentang kehidupannya. Pun proses ia berhijrah dari seorang Nasrani hingga memutuskan menjadi seorang Muslim.

“Sejak SMP saya memang sudah tertarik dengan musik. Waktu SMA saya punya Band. Saat dewasa, saya putuskan fokus menjalani karir di dunia musik,” kisah pemilik nama Berry Monach mengawali pembicaraan dengan Alhikmah.

Berkecimpung di panggung hiburan, membuat Berry bertemu dengan berbagai macam karakter dan sifat. Termasuk mereka-mereka yang membuatnya terjebak dalam pusaran kegelapan. Saban hari Berry tak lepas dari barang-barang haram; minuman keras, narkoba, dan ragam kemaksiatan lainnya. Uang yang dengan cepat masuk ke kantongnya, cepat pula habis sia-sia.

Seiring dengan ketenarannya, ia malah merasa hampa. Kuatnya pengaruh dunia malam di kehidupannya, membuat ia terperosok begitu dalam pada jurang kesesatan. Kala itu ia berada di titik terendah dengan segala permasalahan hidup. Mulai dari kondisi mental, kesehatan, keuangan hingga kondisi tak menentu.

Hampa di tempat yang riuh. Keglamoran dunia yang ia genggam tak bisa menjawab mengapa jiwanya terasa kosong. Merasa hidup tapi mati. Apalagi untuk mencari solusi, jalan keluar dari keadaannya saat ini, Blank.  “Saya sudah bingung mau bagaimana lagi. Hingga suatu ketika sebuah pengalaman sederhana menjadi titik tolak perubahan saya,” kata Berry mengenang.

Satu saat, saat perhelatan untuk sebuah single lagu bersama koleganya, ia kemudian melihat temannya itu tengah menunaikan Shalat. Ada rasa yang berbeda ketika ia melihat pemandangan tersebut. Ada ketenangan yang merangsak lembut ke relung hatinya. Momentum itu ia simpan baik-baik dalam memorinya.

Ia pun penasaran. Ia datangi kawannya, hingga di sebuah padepokan kajian keislaman, ia terpekur cukup lama, ketika mendengar adzan, melihat mereka sedang shalat,  sementara ia sendiri dalam kondisi ‘maksiat’. Pengaruh sabu-sabunya, tetiba hilang, Berry merasa tenang.

“Sampai tiga kali, saya melihat teman-teman shalat dan merasakan hal tersebut. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Merasa terharu sekali. Bagaimana tidak tenang, efek narkoba itu benar-benar hilang,” tuturnya.  Setelah mendapat pengalaman spiritual yang tak tergambarkan, dalam pikiran Berry, terbesit mungkin ini bisa menjadi cara dia untuk menyembuhkan diri dari ketergantungan narkoba. Walhasil, ia meminta tolong kepada temannya itu untuk mengajarkannya shalat.

Shalat dulu baru bersyahadat

“Saya tidak merasa malu, karena saya pikir tidak ada salahnya. Berbagai cara telah ditempuh, tapi nihil. Siapa tahu dengan belajar Salat saya bisa sembuh. Akhirnya, saya pun diajarkan bagaimana shalat, mulai dari gerakan, bacaan, dan surat-suratnya,” sambung Berry.

Pada awalnya, Berry merasa kesulitan mempelajari Islam. Tapi berkat kegigihannya, biiznillah, dalam dua pekan saja ia sudah lancar melakukan gerakan Salat, bahkan sampai bisa menghapal surat-surat pendek. Tak terasa, sebulan ikhtiar ia tersentak pada satu hal.

“Saya kaget, ternyata selama itu sedikitpun tidak tergoda menyentuh obat-obatan terlarang. Bahkan meminum bir pun tidak. Tidak ada niatan untuk keluyuran malam,” ungkapnya.

Berry tersadar, ia mulai merasakan kehidupan yang normal. Hidupnya teratur, tidur tepat waktu. Mungkin terdengar berlebihan bagi pembaca, tapi tidak baginya, itu sebuah anugerah yang luar biasa. “Tidak ada satupun metode rehab yang dapat menguatkan saya, kecuali Salat lima waktu,” akunya.

Pengalaman itu yang membuat Berry terharu syahdu. Selepas menunaikan Subuh. Terketuk hatinya untuk berislam secara total. 25 Februari 2015, Berry berikrar dua kalimat syahadat, lantas berganti nama menjadi Muhammad Berry Al Fatah.

Al Fatah, bermakna dibukakan. Berry berharap saat menjadi mualaf satu pintu hidayah sudah dibukakan Allah Swt. Ke depannya, pintu-pintu lain semoga juga ikut terbuka.

Sementara, nama Muhammad. Diambil karena kekagumannya kepada Nabi Muhammad Saw. Dulu, Berry memandang yang namanya orang Islam itu rasis, penuh kekerasan, teroris, selalu negative thinking. Namun setelah membaca sendiri, mencari referensi-referensi tentang keluhuran budi Rasulullah Saw, pikirannya berubah.

“Saya mulai mengerti, dan ternyata benar-benar jauh dari stigma yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Sosok Rasulullah Saw, itu benar-benar luar biasa. Sama sekali tidak ada yang namanya rasis, jauh dari kata diktator. Sosok yang membawa kedamaian sejati di era jahiliyah yang gelap,” puji Berry.

“Menurut saya itu indah banget, satu orang yang Wow, gentleman sejati, penuh kasih sayang, rendah hati, berkharisma. Saya kagum, belum pernah saya temukan sosok seperti itu kecuali ada pada Baginda Rasulullah Saw,” lanjutnya.

Kini, Berry kian menunjukkan perubahan menuju Muslim Kaffah. Meski keluarga besar masih kaget dan belum bisa menerima sepenuhnya, ia tetap yakin seiring waktu, lewat perubahan positif yang ia lakukan, sikap mereka akan berubah. “Biar waktu yang menjawab, mungkin itu harga yang harus saya bayar, tidak seberapalah cobaan ini, pasti Allah tunjukkan jalannya,” pungkas Berry.

(dita/ed.senandika/rl/alhikmah)