INSISTS, Pada Mulanya Diskusi

INSISTS, Pada Mulanya Diskusi

10 tahun insists (pic:alhikmah.co)
Teguh di jalan lurus dengan tujuan membangun kembali peradaban Islam yang gilang gemilang. Apakah bisa? Alternatif jawabannya pada sebuah kelompok studi Islam, INSISTS (Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizatons).

ALHIKMAH.CO– Awal milenium tahun 2000 masehi ini adalah masa persimpangan jalan. Di mana berbagai pemikiran saling beradu dan menjungkalkan pihak lain. Seperti kata Nabi ribuan tahun silam, umat silam terombang-ambing di tengah riak gelombang. Tak punya tujuan dan pegangan yang jelas. Hingga tak jarang sebagian dari mereka malah berada pada jalan yang gelap, lalu jatuh pada lubang kenistaan.

“Fenomena sekularisme, liberalisme, dan pluralisme memilukan hati kami. Bagaimana tidak, banyak dari pemuda dan cendekiawan muslim yang justru mendukung paham-paham yang notabene sangat jauh dari kaidah Islam. Masyarakat dibawa bingung dan tersesat. Inilah yang membuat kami berpikir harus ada jalan keluar untuk meng-counter hal tersebut,” ungkap Ustadz Dr. Hamid Fahmi Zarkasy, salah seorang pendiri Insists kepada Alhikmah seperti dikutip tabloid Alhikmah Edisi 66 silam.

Hamid Fahmy Zarkasy
Dr. Hamd Fahmy Zarkasy (Direktur INSISTS)

Dan salah satu solusi atas kegelisahan itu digulirkan lewat diskusi-diskusi keilmuan yang dilakukan oleh Hamid beserta kawan-kawannya seperjuangan pada tahun 2003 di Desa Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia. Hamid, yang kala itu baru saja merampungkan studi Ph.D.-nya di kampus The International Institute of Islamic Thought and Civilization- International Islamic University (ISTAC-IIUM), melakukan diskusi kecil dengan para mahasiswa ISTAC lain asal Indonesia dan sejumlah dosen di sana.

Nama-nama seperti Adnin Armas, Dr. Ugi Suharto, Syamsuddin Arif, Dr. Anis Malik Thoha, Adian Husaini adalah sosok-sosok yang kerap mengikuti diskusi Insists. Dari diskusi tersebut, menurut Fahmi, ia temukan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri sedemikian rupa. Ia sadar bahwa umat Islam di Indonesia berada dalam jurang degradasi pemikiran yang teramat dalam.

“Dari hal itu kami yakin bahwa kami harus segera melakukan sebuah aksi. Dalam diskusi itu kami sepakat bahwa gagasan dan pemikiran yang muncul dari diskusi ini harus disebar dan diketahui oleh khalayak,” ujar putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini.

Maka dibuatlah buletin INSISTS yang dicetak hanya sekitar 150 eksemplar, dengan tebal 10 halaman hasil urunan semua anggota diskusi. Harganya dibanderol Rp 2000 saja. Sebuah angka yang kelewat murah untuk muatan ilmu yang terkandung di dalamnya. Buletin ini tidak hanya disebarkan di Malaysia tapi juga masuk ke wilayah Indonesia.

 

Gerakan Kontra Pemikiran

logoSemua itu dilakukan tentu bukan tanpa alasan. Salah satu diantaranya adalah untuk membuka mata umat Islam tentang bahaya perabadan Barat yang sekuler dan liberal. Pun mengajak untuk tidak silau dengan peradaban Barat dengan melawan hegemoninya lewat pemikiran serta tingkat intelektual umat Islam yang semakin terasah dan mumpuni.

“Hingga akhirnya buletin itu berubah menjadi majalah atau semacam jurnal ilmiah bernama Islamia. Edisi pertamanya membuat orang-orang, terutama kaum sekular dan liberal, kaget dan menoleh pada kami,” kata Hamid, yang juga Pemimpin Redaksi Jurnal Islamia ini.

Di edisi perdananya itu, Insists seolah menegaskan bahwa mereka adalah corong utama umat dalam melawan kekuatan dan hegemoni barat, utamanya di bidang pemikiran dan kajian keilmuan.

Kemunculan kelompok Insist ini bukan tanpa hambatan. Berbagai cemoohan pernah hinggap pada para pendiri Insists, utamanya datang dari mereka yang merasa terganggu dengan jalan pemikiran yang coba ditawarkan oleh Hamid dan kawan-kawan. Namun, semua itu mereka biarkan mengendap dengan sendirinya. Lewat workshop, kegiatan diskusi, seminar hingga pelatihan, Insists mencoba menularkan virus kesadaran untuk mengambil jalan pemikiran yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam Islam.

“Islam itu tradisinya ilmu. Sejak Rasul turun ke bumi hingga saat ini tradisi itu perlu kita jalankan dan pelihara. Ilmu yang membawa umatnya lebih dekat pada sunnah dan aturan Allah SWT,” tegas Hamid.

Dengan semangat itulah Hamid beserta sahabat-sahabat seperjuangannya di Insists istiqamah menekuni jalan dan prinsip yang selama ini mereka yakini. Padahal, reward atau imbalan material yang mereka terima tidaklah sebanding dengan pemikiran dan kajian keilmuan yang mereka terima. Namun, Insists jalan terus dan yakin dengan jalan yang dipilih. Bagi mereka ketika orang-orang merasa tercerahkan dengan apa yang dilakukan oleh Insist, itu merupakan anugerah yang kelewat besar bagi dirinya.

“Di Insists, bahu membahu kami berupaya menelurkan orang-orang yang mau dan mumpuni, sekaligus mempunyai semangat kelimuan dan keislaman yang tinggi. Melawan pemikiran-pemikiran sekular-liberal yang merusak Islam dengan tradisi intelektual dan keilmuan. Ingat, peradaban Islam hanya bisa ditegakkan di atas bangunan pemikiran Islam, bukan yang lain,” kata Hamid mantap.

Maka, bagi mereka yang aktif di Insists tidak ada kata pensiun atau menyerah saat menebarkan khazanah pemikiran Islam ke tengah khalayak. Bagi mereka, selama hayat masih dikandung badan tak ada alasan untuk berhenti berpikir menciptakan tradisi keilmuan yang telah dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat. Setiap waktu adalah ilmu. Dan Insists, telah banyak menginspirasi kita, bahwa berbekal ilmu yang mumpuni, jalan lurus itu harus menjadi satu-satunya pilihan. Tanpa kecuali.

(Ferry Fauzi Hermawan/ ed:hbs)