Inisiator IndonesiaTanpaJIL Luruskan Definisi Pluralisme

Inisiator IndonesiaTanpaJIL Luruskan Definisi Pluralisme

0 38

ALHIKMAHCO,– Pluralisme berada dalam sebuah tataran sistem ko-eksistensi, di mana segala sesuatu bisa eksis dan berdampingan. Dalam konteksnya dengan agama, pluralisme mengakui adanya perbedaan, namun tetap bisa hidup bersamaan. Demikian sepenggal pendapat dari inisiator gerakan #IndonesiaTanpaJIL, Akmal Sjafril dalam kajian Islamic World View dengan tema “Wacana Pluralisme Agama”.

“Dengan definisi Pluralisme tersebut, penganut agama mana pun akan nyaman dengan agama yang dianutnya, tanpa merasa takut dengan perbedaan,” terang Ustadz Akmal di Aula Rabbani Hipnofashion Hall Bandung, Kamis (12/3/2015).

“Muslim bisa hidup nyaman sebagai penganut Islam, orang Kristen bisa hidup nyaman sebagai penganut Kristen. Mereka bisa hidup nyaman dalam tatanan masyarakat yang sama, kan itu bagus,” ujar penulis buku “Islam Liberal 101” ini.

Sayangnya, lanjut Ustadz Akmal, definisi tersebut tak bisa diterapkan di lapangan. Ia sering menemukan masyarakat yang menganggap Pluralisme adalah toleransi, namun disertai dengan pemahaman bahwa semua agama adalah benar. Ia bahkan pernah menemukan adanya proyek pembuatan LKS untuk SMP mengenai Pluralisme.

“Di dalamnya tak hanya pemahaman semua agama adalah benar, tapi juga homoseksual dan lesbian itu normal,” tukasnya.

Menurut Alumnus Pascasarjana Program Studi Pendidikan dan Pemikiran Islam Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) – Bogor ini, definisi pluralisme perlu diluruskan dan ditegaskan. Jika menyangkut hal ini, ujarnya, definisi pluralisme bukanlah sekadar sastra dan permainan kata. Definisinya harus jelas, karena jika tidak, pemahaman masyarakat akan rusak.

Sejak dulu, jelas Ustadz Akmal, agama itu satu. Namun sering terjadi dalam sejarah, agama disimpangkan oleh manusia. Bahkan seiring waktu, imbuhnya, manusia kerap mengubah agama dan pemahamannya. “Allah, tidak pernah menciptakan beragam agama. Tapi manusia merusak apa yang diciptakannya (agama),” tandasnya. (Aghniya/Alhikmah)

Komentar ditutup.