Ini Lima Rahasia Menarik Islam di Amerika

Ini Lima Rahasia Menarik Islam di Amerika

0 964
source: Ilmfeed.com

Sebagian besar sejarah peninggalan Islam di Amerika Serikat dinilai masih tak terhiraukan. Kendati beberapa spekulasi penjelajahan muslim sebelum masa Colombus, atau diskusi-diskusi terkait imigran muslim baru-baru ini, topik tentang sejarah Islam masih sulit dieksplorasi.

Di bawah ini adalah lima rahasia menarik terkait Islam di Amerika:

  1. Benarkah Raja Mulim berkulit hitam mendarat di Amerika sebelum Colombus?

Dewasa ini, masyarakat telah secara luas bersepakat bahwa Christoper Colombus bukanlah penjelajah pertama yang mendarat di Amerika. Beberapa bahkan menyatakan, penjelajahannya ini didahului oleh muslim.

Kisah yang paling mengesankan adalah mengenai Abubakari II, sultan abad pertengahan dari kerajaan sejahtera bernama Mali. Ia diperkirakan masuk ke daratan Pernambuco (saat ini dikenal sebagai wilayah Recife di Brazil) pada 1312.

Abubakari IIAbubakari II adalah seorang pemimpin dari kerajaan yang dikenal sangat kaya saat itu. Ia banyak dipengaruhi oleh cendekiawan-cendekiawan muslim seperti Al Idrisi, Istakhri, Abu Zaid, Masudi dan Albufda.

Cerita dimulai saat tahun 1310. Abubakari II mengirim 400 armada kapal berlayar ke Atlantik, sekaligus mencari tahu apa yang ditemukan sepanjang jalan. Beberapa bulan berlalu, sebelum akhirnya seorang kapten kembali dari lautan dan memberi tahu sang raja bahwa ia melihat perahu lain terseret dalam ‘sungai’ berarus kuat dalam laut (saat ini disebut garis ekuator). Ekuator yang dilihatnya tersebut mengalir dari Afrika Barat sampai Recife.

Tak memedulikan peringatannya, Abubakarii II segera merancang rencana untuk ekspedisi berikutnya dengan armada kapal yang lebih besar (sejumlah pakar menyebut sekira 2 ribu kapal). Yang mengejutkan, ia pun ikut dalam ekspedisi itu! Sebelum berangkat melintasi Atlantik, ia menyerahkan tahtanya pada saudaranya, Kankan Musa. Benar saja, pada 1312, ia berlayar ke batas equator itu .. dan tak pernah terlihat lagi.

Tak keterangan yang jelas tentang nasib Abubakari II. Namun beberapa peneliti meyakini ia berhasil mencapai Pernambuco. Satu teori pun menyatakan nama Pernambuco berasal dari bahasa Mande kuno ‘Boure Bambouk’, yang berarti ‘kaya ladang emas’, merujuk pada kekayaan kekaisaran Mali saat itu.

Colombus sendiri dikabarkan melalui para pedagang muslim di sepanjang lepas pantai New World. Uniknya, ia kembali dengan membawa emas yang tercampur emas Mali. Mereka yang meyakini cerita ini menunjukan bukti linguistik, bukti fisik dan arkeologi, terutama penemuan batu raksasa yang berserakan di Amerika Latin, yang tak terbantahkan lagi, adalah khas bangunan Afrika Barat.

  1. Alhambra khas Spanyol ‘ditemukan’ oleh seorang New York!

Mayoritas masyarakat sepakat, Alhambra adalah representatif bangunan artistik terbaik di Eropa. Bangunan benteng berwarna kemerahan itu pun masih ada saat Kerajaan Katolik, Raja Ferdinand menaklukan Spanyol pada 1492.Alhambra

Seiring dengan perubahan kekuasaan, Alhambra pun mulai kehilangan artinya. Pada akhir abad 18, bangunan tersebut mulai ditelantarkan, dan menjadi tempat bernaung populasi tak-berhukum: Contrabandista.

Adalah Washington Irving, penulis asal New York yang menulis fakta tersebut pada 1829. Terkesan dengan temuannya, dia memutuskan tinggal dan akhirnya menulis sebuah buku berjudul “Tales of the Alhambra”. Dalam buku tersebut, ia membandingkan Alhambra dengan Ka’bah di Mekah.

“Bagi umat Islam, Alhambra adalah wujud pengabdian dan kesetiaan mereka pada Ka’bah. Begitu banyak legenda, tradisi Spanyol bercampur Arab yang menakjubkan dan luar biasa. Juga lagu, dan kisah cinta, perang, dan kisah keksatriaan yang sangat berbau Timur di sini!” serunya.

Buku Irving kemudian menjadi best-seller. Tak lama setelah itu, pada 1870, Spanyol mendeklarasikan Alhambra sebagai monumen nasional. Dewasa ini, Alhambra merupakan salah satu situs yang paling banyak dikunjungi di dunia.

  1. Umat Islam merancang sebagian besar Amerika Latin

Pasca Alhambra ditaklukan oleh kerajaan Katolik, Christoper Colombus menghadap sang Raja untuk meminta persetujuan berlayar melintasi Atlantik.

Kala mereka tiba di Amerika, seni dan arsitektur Islam masih sangat lekat, dan Mudejar (istilah untuk pengrajin kayu muslim) sulit dicari. Menurut sejumlah ilmuwan, termasuk Dr Thomas B Irving, penerjemah Alquran pertama di Amerika Utara, para mudejar itu berpindah ke New World untuk membantu pembangunan negara Spanyol.3

“Pada abad ke 16 dan 17, para Mudejar yang terampil itu dikontrak dan pergi ke negeri-negeri  koloni Spanyol, seperti Meksiko, Bolivia, New Granada (Colombia), Guatemala, dan Kuba. Di negara-negara ini, bangunan-bangunan menampakkan bukti jelas khas arsitektur Mudejar,” ungkapnya.

Dr. Irving juga menyebut pengaruh umat Islam di beberapa kota, termasuk Recife di Brazil (berasal dari kata Ar Rasif yang bermakna dermaga) dan Guadalajara di Meksiko (dari kata Wadi Al Hijara, yang bermakna sungai berbatu). Dia pun menunjukan gaya arsitektur di kota-kota, seperti Queretaro (Meksiko), Popayan, Tunja, (Colombia), dan Quito (Ekuador),yang halaman dan teras-terasnya menyerupai bangunan Alhambra dan Moorish. Biara La Merced di Lima, dan biara di Universitas San Carlos di Antigua, misalnya. Dr. Irving menyoroti geometri Moor yang ditemukan di langit-langit bangunan tua abad 17, di kota seperti Tzintzuntzan dan Tunja.

  1. Muslim Eropa membangun masjid tertua di Amerika

Muslim Tatar dari wilayah Baltik adalah muslim pribumi di Eropa yang memiliki sejarah panjang 618 tahun lalu. Kisah mereka dimulai pada 1398, saat mereka dibawa dari Krimea oleh Grand Duke asal Lithuania, Vytautas. Tujuannya, untuk mempertahankan kerajaannya yang diserang pasukan kristen yang tak toleran bernama Ksatria Teutonik. (baca: Komunitas Islam Ini Berhasil Pertahankan Berdirinya Masjid Selama 6 Abad di Lithuania)

oldVytautas menghargai pertolongan bangsa Tatar, dengan membiarkan mereka tinggal di bawah perlindungannya. Beberapa keturunan Tatar itu lalu berkelana ke Amerika dan Brooklyn pada pergantian abad 20. Pada 1931, mereka membeli sebuah gereja kecil dan mengubahnya menjadi sebuah masjid. Saat ini, Masjid Brooklyn disebut sebagai masjid tertua di Amerika. Masjid tersebut masih dirawat oleh keturunan Tatar.

  1. Al Qur’an menginspirasi hukum Amerika terkait toleransi beragama

Bukanlah sebuah mitos jika ternyata founding father Amerika, Thomas Jefferson mempunyai terjemah Al Qur’an miliknya sendiri.

Terjemahan yang diperkirakan merupakan yang pertama di Amerika itu kini tersimpan di rak Jefferson Library, di Perpustakaan Kongres Washington DC. Ke tempat inilah Jeffersonj pribadi mengirimi buku-bukunya, dan mengatur semua buku sesuai jenisnya. Dan Al Qur’an, disimpan di bagian hukum.

Bagi presiden ketiga Amerika (yang juga penyusun Declaration of Independence) ini, hukum Al Qur’an lah yang membuatnya terpesona. Itulah sebabnya, beberapa peneliti mengklaim Al Qur’an Jefferson yang dipesan langsung dari London pada 1764 itu memengaruhi pandangannya tentang toleransi beragama pada RUU Kebebasan Beragama (yang berlaku pada 1786).

Jefferson menulis dalam autobiografinya, bahwa RUU tersebut dimaksudkan untuk memasukan semua golongan agama, tak hanya Kristen. Bagi kaum Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, dan orang tak beragama.

Al Qur’an Jefferson ini adalah bukti fisik paling awal dan paling jelas yang membuktikan budaya Islam mempengaruhi Amerika.

source: Ilmfeed.com
source: Ilmfeed.com

Namun, jika Anda menyempatkan diri ke Perpustakaan Kongres, sempatkan diri Anda untuk mengagumi kubah gaya Renaisans yang menjulang tinggi di ruang bacanya. Perhatikan baik-baik, dan Anda akan menemukan petunjuk lain yang mengisyaratkan peran Islam dalam perkembangan Amerika Serikat. (Aghniya/Alhikmah/Ilmfeed)