Ini Kiat Bertindak Saat Menghadapi Teror

Ini Kiat Bertindak Saat Menghadapi Teror

0 47
pic source: okezone.com

ALHIKMAHCO,– Banyak pihak tidak bersiap dalam kondisi darurat saat ledakan bom dan serangan terorisme di Jl. MH thamrin, Kamis (14/1/2015) siang tadi. Menurut Wakapolri Budi Gunawan, empat orang menjadi korban tewas dan lima orang polisi terluka parah dalam aksi teror itu.

Sebagai orang awam, tentu warga sipil pun perlu mengantisipasi diri dari kejadian tak terduga seperti kejadian teror. Disitat dari bbc.com, berikut tips bertindak saat terjadi serangan teror:

Pertama, bersiaga dan bereaksi cepat. Menurut instruktur militer asal Inggris, John Leach, kebanyakan masyarakat mengira suara tembakan awal adalah suara kembang api. Dan masyarakat rentan menjadi panik karena mereka tidak langsung merespon saat menyadari perkiraan mereka salah.

Ia berpendapat, terlambatnya respon masyarakat ini bisa membahayakan nyawa jika tidak segera menyadari situasi. “Jika sudah tahu ada yang sudah beres, yang pertama harus dipikirkan adalah: apa yang harus saya lakukan? Jika berada dalam ruangan, sesegera mungkin carilah pintu keluar,” kata Leach.

Sebagian besar orang, katanya, terlalu bingung akan bertindak apa jika berada dalam kondisi tersebut. Dalam penelitiannya, ia menemukan hanya 15% orang yang benar-benar bergerak cepat untuk menyelamatkan diri. Sebanyak 75% tak bereaksi dan bingung dengan kejadian di sekitar, dan 10% lainnya bertindak sesuatu yang membahayakan diri.

Selain itu, Leach juga melihat bahwa masyarakat cenderung menunggu orang lain bertindak. Ia pernah membuat sebuah percobaan, dimana ia menempatkan sejumlah orang dalam ruangan, dan mengisinya dengan asap. Hasilnya, orang-orang yang sendirian cenderung mengambil tindakan lebih cepat dari orang yang bergerombol.

“Itu tidak baik. Bertindaklah tegas dan cepat, yang bisa membantu hidup Anda sendiri,” ujar Leach.

Kedua, minimalisir kesempatan menjadi target. Pakar lainnya, Ian Reed menyarankan agar sesegera mungkin mencari pelindung. Setelah mencari jalan keluar, jatuhkan diri agar tak terkena serangan, atau lebih baik lagi, mencari benda yang bisa dipakai bersembunyi dan berlindung. Benda keras seperti dinding beton adalah salah satu pilihan yang baik.

“Dalam film Hollywood, orang sering berlindung dalam mobil anti-peluru. Tapi kenyataannya, belum tentu orang bisa melakukan itu,” katanya. Kendati demikian, bersembunyi dalam mobil jauh lebih baik. Menjaga diri dari pandangan pelaku serangan akan memperkecil kemungkinan seseorang menjadi target.

Dalam insiden Paris, para korban selamat melakukan tips kedua ini secara instingtif. Banyak diantara mereka yang membalikkan meja sebagai tameng, atau bersembunyi dibalik pengeras suara. Sepasang warga Irlandia bahkan selamat dengan berpura-pura tewas.

“Seorang pria terluka dan ia meringis. Lalu kami katakan padanya: ‘Sshh, tenanglah, jangan bergerak. Tetaplah hidup,’. Sebab kami tahu, semakin banyak bergerak, maka semakin banyak pula pelaku melempar tembakan,” jelas Theresa Cede, salah seorang saksi insiden Paris.

Menurut Reed, cara-cara tersebut menjadi cara yang jitu, terutama jika berada di tempat gelap. Dalam beberapa kasus, melarikan diri bisa menjadi solusi. Ia menuturkan, beberapa orang di insiden Paris berlari saat  para penyerang lengah.

Ini juga sesuai dengan yang disarankan pemerintah Inggris, yang meminta masyarakat mencari rute melarikan diri yang aman. Namun jika tak ada rute yang aman, mereka menyarankan agar masyarakat bersembunyi saja. Beberapa saksi mata dalam insiden Paris, memilih bersembunyi di toilet sampai bantuan datang.

Ketiga, menyerang balik. Dalam sebuah pembajakan bis di Paris, para penumpang bis disandera oleh seorang penyerang tunggal. Diantara para sandera, terdapat dua orang pria yang berasal dari Angkatan Udara dan Garda Nasional. Keduanya membalikkan keadaan saat si penyerang kesulitan menggunakan pistolnya.

Tapi menurut Reed, menyerang balik tanpa pengalaman bukan lah hal yang baik. Ia menuturkan, banyak dari pelaku penyerangan akan bekerja tim. Diantara mereka, ada yang mengenakan baju anti-peluru, dan bahkan membawa bahan peledak.

Menimbang risikonya, banyak ahli berselisih mengenai pentingnya menyerang balik jika diperlukan. Salah satu argumennya, adalah karena beberapa pelaku sperti ISIS tidak termotivasi untuk menyandera.

“Jika saya dalam keadaan terdesak dan terancam ditembak, saya rasa saya tak akan berdiam diri saja,” kata James Alvarez, seorang psikolog.

Keempat, tetap waspada. Reed menuturkan, kendati sudah melarikan diri, seseorang harus tetap waspada. “Pergi sejauh mungkin, bawa tameng, dan pergilah ke kantor polisi terdekat,” katanya.

Ia melanjutkan, selalu asumsikan bahwa akan selalu ada kemungkinan adanyaserangan lanjutan. Sebab itu, dianjurkan untuk pergi ke pihak berwenang, yang jauh lebih mengetahui solusi lebih baik dalam mengatasi situasi tersebut.

Kelima, saling tolong menolong. Jika kemungkinan diserang sudah lebih kecil, psikolog sosial asal Inggris mengusulkan untuk bekerjasama dengan orang lain mengevakuasi korban lainnya. Ia menyatakan, kebanyakan orang cenderung membantu sama lain, bahkan dalam kondisi yang sangat darurat.

“Banyak asumsi mengatakan bahwa tindakan itu dilakukan untuk menolong diri sendiri. Tapi itu tidak sepenuhnya benar,” tutupnya. (Aghniya/Alhikmah/bbc.com)