Ini Dia Tiga Kedudukan Anak dalam Islam

Ini Dia Tiga Kedudukan Anak dalam Islam

0 125

ALHIKMAHCO,– Perhelatan Islamic Book Fair (IBF), selain menyajikan pameran buku, juga kerap diisi dengan kajian keislaman yang mengundang tokoh terkemuka. Pada IBF 2015 kali ini, di hari ketiga, panitia IBF mengundang daiyah asal Bandung, ustadzah Sasa Esa Agustina.

Teh Sasa, demikian sapaan akrabnya, membahas ihwal kedudukan anak di dalam Islam. Ia mengatakan, anak merupakan amanah Allah kepada para orangtua agar mereka dididik sebaik-baiknya. Kesalehan seorang anak tergantung pada cara orangtua memerhatikan tumbuh kembang mereka.

“Ada tiga fungsi dan kedudukan anak dalam Islam, agar menjadi bahan pelajaran orangtua dalam mendidik anak,” terang Teh Sasa ditemui Alhikmah usai Talkshow “Rumahku Surgaku” di Landmark Convention Hall Bandung, Rabu (03/06/2015).

“Pertama, anak sebagai fitnah atau ujian. Anak bisa menjadi ujian kala anak tersebut memiliki potensi berbuat maksiat. Di sini orangtua diharapkan bisa sabar mendidik anak dan mengarahkannya pada hal yang baik,” lanjutnya.

Kedua, imbuh Teh Sasa, anak sebagai ziinah atau perhiasan. Maksudnya, sang anak mampu membanggakan hati orangtua dengan prestasi yang baik. Lebih jauh lagi, katanya, sang anak menyadari kewajiban-kewajibannya, dan menjadi percontohan bagi lingkungan sekitarnya.

Ketiga, anak sebagai qurrota a’yun atau penyejuk mata. Menurut Teh Sasa, penyejuk mata memiliki arti sang anak mampu menyegerakan ibadah dengan sukacita ketika diperintahkan padanya. Istilah ini juga diberikan apabila sang anak memiliki budi pekerti dan akhlak yang terpuji.

Maka, lanjut Teh Sasa, orang tua tak boleh menempatkan hubungan orangtua-anak seperti hubungan atasan-bawahan. Ia berpendapat, menempatkan diri sebagai partner akan memberikan kenyamanan dan anak akan lebih terbuka. “Misalnya seperti Nabi Ibrahim bercerita pada anaknya mengenai mimpinya menyembelih Ismail kecil. Beliau (Nabi Ibrahim) berdialog sebagai partner dengan menanyakan pendapat Nabi Ismail,” tuturnya.

Dalam pertemuan tersebut, Teh Sasa menegaskan, orangtua dan anak yang ingin saling membahagiakan adalah fitrah. Sebab itu, melalui doa-doa meminta kebaikan, orangtua dan anak bisa saling menitipkan. (Aghniya/Alhikmah)