Ini Delapan Pernyataan Sikap Hasil Muzakarah Nasional ANNAS

Ini Delapan Pernyataan Sikap Hasil Muzakarah Nasional ANNAS

ALHIKMAHCO,– Muzakarah Nasional Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang digelar di Bandung dihadiri ratusan ulama dan tokoh masyarakat dari pelbagai daerah. Kyai Athian Ali Da’i, selaku Ketua ANNAS Pusat merilis delapan Bulir Pernyataan Sikap Hasil Muzakarah.

Di bulir pertama, Kyai Athian menegaskan bahwa kata Anti dalam nama ANNAS tidak menunjukkan dukungan terhadap radikalisme. Melainkan sikap tegas mereka dalam mewaspadai penyimpangan dan bahaya ajaran Syiah.

“Kedua, kami mengingatkan umat dan pemerintah bahwa Syiah bukan semata sekte Teologis, melainkan suatu gerakan politik yang berpotensi membangun konflik dan makar, untuk merebut kekuasaan dengan ideologi Imamah,” ungkap Kyai Athian di Masjid Al-Fajr, Ahad (29/11/2015).

Ketiga, imbuh Kyai Athian, Indonesia berada dalam posisi “darurat Syiah” karenaadanya  intervensi keagamaan, kebudayaan, ekonomi, dan politik dari Negara Syiah Iran. Karenanya, ia mengimbau agar pemerintah harus lebih peka terhadap gerakan ideologi transnasional Syiah ini.

Keempat, Kyai Athian juga menyarankan agar Perwakilan Kantor Pemerintah (Atase) Kebudayaan Kedubes Iran ditutup. Dikarenakan, dinilai menyimpang dari tugas diplomatiknya dengan memberi dukungan pengembangan Syiah dengan dana, bantuan pendidikan, maupun lobi politik ke pusat kekuasaan.

“Investasi bisnis telah menjadi alat politik pula. Persona non grata-kan diplomat Iran dari Indonesia,” tegas Ketua Forum Ulama Umat Indonesia ini.

“Kelima, awasi ketat dan bila perlu segera tutup dan bubarkan lembaga pendidikan, penerbitan, dan yayasan-yayasan yang telah terafiliasi dengan paham sesat Syiah. Keenam, mendesak MUI untuk meningkatkan hasil kajian tentang penyimpangan Syiah di Indonesia dengan segera mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syiah,” lanjut Kyai Athian.

Kyai Athian juga menyinggung ihwal ajaran khas Syiah, yaitu taqiyah (dusta), la’nah (menghujat dan memaki), serta mut’ah (kawin kontrak). Menurutnya, semua itu dapat membahayakan karakter masyarakat bangsa.

Menurutnya, ini merupakan wujud dari gerakan radikal takfiri (pengkafiran) serta gerakan hate speech penganut Syiah yang harus diberantas. Termasuk, kawin kontrak (mut’ah Syiah) yang dinilai sebagai dasar kebebasan berzina dan kedok prostitusi.

Terakhir, tandas Kyai Athian, secara intens akan mendorong Kemenag untuk bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri melakukan pengawasan kepada misionaris Syiah yang masuk ke Indonesia. Demikian juga, imbuhnya, mewaspadai para “pengungsi” Syiah di berbagai rumah detensi-imigrasi di Indonesia.

“Solusi membangun kedamaian di negeri ini bukan dengan taqrib Sunni-Syiah, tapi dengan meminimalisasi dan mengeliminasi Syiah dari bumi Indonesia,” pungkas Ustadz Athian. (Aghniya/Alhikmah)