Impian Rahmad Agus Dwianto, Rumah Di Atas Awan

Impian Rahmad Agus Dwianto, Rumah Di Atas Awan

0 158

 

Membaca buku, lantas mempraktikkannya merupakan salah satu jalan menggenggam kesuksesan

ALHIKMAH.CO–Di ruangan itu terdapat dua buah meja. Satu meja khusus untuk arsitek dan satu lagi untuk sekretarisnya, plus sebagai penerima tamu. Tak ketinggalan dua unit komputer terpasang di atas meja. Pada tembok terdapat foto-foto desain interior ruangan. Di sudut ruangan terdapat rak berisi beraneka macam buku. Tidak banyak, tapi tersusun rapi. Ruangan itu nampak cantik dan sederhana.

Itu baru lantai bawahnya. Di loteng suasananya tak jauh bebeda, hanya saja ruangan itu khusus untuk rapat pemilik kantor dan mitra-mitranya. Kantor perusahaan properti ini baru dibuka satu semester tahun 2013. Pemiliknya masih muda dan bersemangat.berkat kesenangan dan ketekunannya menekuni dunia bisnis, saat ini Rahmad Agus Dwianto  telah memiliki 3 perusahaan.

Bisnis propertinya dimulai saat ia bertemu kompatriotnya, Ricak yang saat tulisan ini dibuat sedang menempuh pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur dan seorang konsultan arsitektur. Banyak hasil karya desain Ricak yang menarik perhatian Agus. Agus pun berinisiatif untuk menjual karya Ricak ke publik dengan mendirikan perusahaan bersama.

Tak hanya Ricak yang ia gaet menjadi partnernya. Mantan Ketua BEM Unpad, Supri yang telah lebih dulu menggeluti bisnis properti pun ia “bajak”. “Saya punya konsep besar soal properti. Kemudian ada Kang Supri, Mantan Ketua BEM Unpad. Dia sudah jalan duluan Cuma tidak berbendera. Akhirnya, di evolution properti ini saya di CEO, Ricak  sebagai desian director, dan Kang Supri finding dan marketing, pencarian uang, pasar dan bagaimana menjual konsep-konsep kita.”tutur Agus.

Agus memimpikan dapat membangun rumah untuk segmen kelas menengah ke bawah. Ia berencana memadukan konsep suasana kampung dan apartemen.  Sebuah konsep perumahan  dengan cita rasa  kampung tetapi layak huni.  Laiknya orang tinggal di kampung, ada taman bermain, ada pemandangan yang bagus, dan juga sirkulasi udara bersih.

“Walaupun bentuknya rusun tapi seperti kampung dan bentuknya vertikal. Di situ kita ingin jadi ikon,” kata lelaki yang beristri seorang dokter itu.

Agus adalah salah satu alumnus Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS). Dua tahun ia dibina dengan kemampuan leadership profetik. Di sana ia diajari bagaimana tarnsaksi dengan baik, halal, dan berkah. Kecintaannya pada dunia perniagaan, Agus rela melepas status sebagai mahasiswa jurusan kelautan ITB. Sampai kemudian ia masuk ke jurusan manajemen bisnis di Universitas Sangga Buana. Satu prinsip yang ia pegang dalam mengelola bisnisnya, memberikan hak-hak pegawai secara penuh dan tepat waktu.

“Bayarlah kerja keras pegawai itu sebelum keringatnya mengering. Sebisa mungkin kita mengusahakan agar gaji pegawai tidak telat diberikan,” imbuh Agus mengutip sebuah hadits.

Sambil berbisnis juga beribadah. Bermanfaat bagi rang lain, sebanyak-banyaknya manfaat. Agus terus melakukan inovasi, menggodok sistem bagaimana orang mencari rumah diberi tahu yang bagus seperti apa dan  bagaimana merencanakan keuangannya. Baginya bissnis properti tidak sekadar membangun rumah, tapi pendekatan personal terhadap klien sehingga ia cerdas memilih rumah.

Media Ibadah

Pabrik garmen itu terletak tak jauh dari perumahan penduduk. Di plang tertulis “CV Amanah Garmen Indonesia”.  Di garmen inilah Agus memproduksi berbagai kaos. Ia mempekerjakan 40 orang. Diterapkan disiplin yang ketat pada para pegawainya. Karena semua pekerjanya adalah muslim, alhasil saat azan tiba semua aktivitas produksi wajib dihentikan.

Agus meyakini bahwa Allah swt menyukai orang-orang yang bekerja keras. Namun, ia tak menjadikan pekerjaan itu lalai untuk beribadah kepada-Nya. Menjadikan pekerjaan sebagai media beribadah kepada Allah menjadi tagline dari berbagai basis bisnis yang Agus geluti.

“Bekerja tidak semata-mata untuk cari untung saja (uang). Konsepnya semaksimal mungkin kita menyejahterakan karyawan. Kalau sudah menyejahterakan orang lain, mana mungkin Allah swt tidak memberi kesejahteraan kepada kita?” Kata Agus yang asli kelahiran Sleman, Provinsi DIY.

“Di jogja ada agrobisnis. Kita punya 5 kolam ikan dan peternakan. Agrovision farm and fish, dikelola adik saya yang di peternakan UGM. Karena 4 tahun lama di konveksi saya lebih paham daripada di bisnis properti,” ungkap Agus.

“Kalao properti tidak belajar secara habis habisan, Cuma baca buku-bukunya. Bagaimana  bikin perumahan tanpa modal, beli rumah tanpa uang, gitu aja,”

Kesulitan yang Memudahkan

Kesuksesan Agus sampai mengelola tiga perusahaan di usianya yang masih muda, tidak langsung saja terjadi begitu saja. Ada beragam tantangan pada perjalanannya. Dari berjualan sepatu keliling sampai mengikuti beragam MLM ia pernah lakukan.

“Saya pernah kena tipu 55 juta investasi. Dan dari situ saya belajar tentang riba. Satu dirham setara dengan menzinahi ibu sendiri dosanya. Itu kamu ditampar  dengan 55 juta hilang hanya karena investasi di tempat yang tidak benar,” kenang Agus sambil sesekali menghela nafas tak kuasa mengingat kejadian nahas itu.

Satu waktu ia sudah memproduksi kaos dengan nilai jutaan rupiah. Bukan untung yang diperoleh malah buntung. Hasil produksi selama berbulan-bulan itu dikembalikan tanpa bayaran sepeser pun.

“Kesulitan itu membuat kita mudah. Misalnya  kita dapat kesulitan hole-nya 50 kemudian dapat yang hole 40 itu kita lebih mudah menghadapainya. Sampai saat ini masih ada masalah-masalah itu. Kita berusaha meminimalisir risiko saja,” kata Agus.

Terkahir, Agus berpesan, “Ketika kita benar-benar bekerja keras, Allah SWT itu tidak akan dikasih sesuatu yang bukan dari buah dari kerja keras itu. Tinggal kita itu seberapa layak kita diberikan amanah rejeki itu.”

(Faisal Fadhillah)