Ikhsan ‘Snada’ Nur Ramadhan: Hidayah Di Sudut Garasi

Ikhsan ‘Snada’ Nur Ramadhan: Hidayah Di Sudut Garasi

1 615

Ketertarikan Ikhsan semakin mantap saat ia membaca Injil Yohanes 16 ayat 7 & 13 di mana Nabi Isa meramalkan kedatangan Rasulullah.

ALHIKMAH.CO– “Musik bagi saya merupakan penyeimbang antara kehidupan sehari-hari dengan perasaan saya di suatu saat. Di waktu sedih, marah, jengkel, kecewa, musik bisa mencairkan itu semua. Terlebih kalau mendengarkan alunan ayat Alquran, membuat saya segar kembali. Musik bagi saya ibarat oksigen dan nafas itu sendiri,” ungkap Ikhsan Nur Ramadhan, salah satu anggota grup musik nasyid Snada, sepenggal waktu silam.

Ikhsan mengaku semenjak kecil dirinya sudah bersentuhan dengan musik. Pada usia 2 tahun ayahnya selalu memutar gelombang radio Australian Broadcasting yang memutarkan musik-musik jazz seperti Louis Armstrong, Aretha Franklin, Frank Sinatra, hingga John Denver.

Dari sinilah Ikhsan mulai berkenalan dengan musik. Beranjak dewasa dirinya mulai aktif dalam dunia musik, lewat paduan suara, vocal group dan band yang ia ikuti. Ikhsan mengaku bahwa selalu ada keindahan yang dirasakan olehnya dalam musik. Dari komposisi musik hingga perkenalannya dengan Islam.

“Saya mengenal Islam sejak kecil sebenarnya, saya suka sekali dengan suara adzan, syahdu dan membuat saya tenang,” kata Ikhsan.

Bersua Snada

Terlahir dengan nama baptis Ignatius Vincsar Hadipraba dari keluarga Katolik, dirinya sedikit sekali mendapatkan gambaran soal Islam. Hanya menurutnya, anggota keluarganya yang bernama Mbah Hadi, bercerita bahwa salah satu kebiasaan baik yang biasa dilakukan oleh umat Islam adalah mereka selalu bersalaman satu dengan yang lain setelah selesai shalat.

“Wah itu pelajaran baru pikirku waktu itu,” ujar suami dari Titin Fatmi ini.

Perkenalannnya dengan Islam berlanjut saat Ikhsan hijrah ke Jakarta pada tahun 1998. Di ibu kota dirinya bekerja di salah satu restoran cepat saji di kawasan Jakarta Selatan. Walaupun begitu kebiasaannya bermusik tidak pernah ia tinggalkan. Ikhsan bergabung dengan grup band Garasi, sebagai pemain contrabass.

“Dari sinilah saya mulai berkenalan dengan Snada,” ungkap lelaki yang lahir pada 6 September 1969 ini.

Ikhsan bercerita pada waktu itu Agus Idwar salah satu pendiri Snada sering mampir ke kosannya. Suatu saat grup Garasi disewa oleh Desy Ratnasari untuk mengisi pernikahannya di Sukabumi, yang juga bertugas menjadi pengiring musik Snada. Untuk memantapkan penampilan seringkali Ikhsan dan Snada melakukan latihan Snada.

“Saat itu Snada sedang membutuhkan seorang suara bass yang juga mahir bermain bass. Sepulang latihan Agus Idwar iseng usul ke teman-teman Snada yang lain, ‘Men temen, gimana kalo Igo (panggilan saya waktu itu) kita rekrut saja jadi pemain bass kita?’ ‘Wah ngaco, Igo kan Katolik, gimana sih … ?’ sanggah Erwin,salah satu anggota Snada yang lain. ‘Doain aja biar si Igo masuk Islam’ jawab Agus enteng banget sambil cengar cengir,” papar Ikhsan mengenang masa lalunya.

Tidak terbayangkan bahwa celoteh itu menjadi penanda awal perubahan hidup Ikhsan pada masa-masa selanjutnya. Saat itu memang tidak terlintas dalam benak Ikhsan untuk masuk Islam. Namun, dirinya mengaku bahwa kesibukannya bekerja di salah satu restoran cepat saji menyita waktunya untuk beribadah.

“Pulang selalu larut malam dan selalu tidak mendapat kesempatan untuk pergi ke Gereja karena jadwal akhir pekan selalu dapat giliran dari malam sampai pagi. Saya sering iri melihat teman-teman yang Muslim selalu ada waktu untuk istirahat di saat jam shalat,” kata ayah dari  Fakhri Bagus Pratama Hadifahmi dan Ikhtianisa Sekar Kinasih ini.