Hukum Merampas Barang dalam Pandangan Islam

Hukum Merampas Barang dalam Pandangan Islam

0 88
pic tribun-batam

ISLAM sangat menghormati hak kepemilikan barang. Tidak dibenarkan, untuk mendapatkan barang tersebut dengan cara yang bathil, misalnya dengan merampas.[i] Merampas atau ghasab adalah pengambilan oleh seseorang akan hak orang lain dengan memaksa dan menganiaya (penindasan).[ii] Atau pengambilan sesuatu dengan cara kesombongan. Perbuatan ini jelas-jelas termasuk dosa besar dan dilarang. Allah SWT berfirman : Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang bathil. (QS. al-baqarah [2]: 188).

Bahkan, bila seseorang meminjam sebuah barang, hendaklah untuk segera dikembalikan, sekalipun ia sedang mengelolanya secara langsung maupun tidak (pengelolaan tanah). Sebagaimana yang diterangkan hadits dari as Saib bin Yazid, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah ada salah seorang kamu mengambil harta saudaranya, baik dengan sungguh-sungguh atau senda gurau. Jika salah seorang kamu telah mengambil tongkat saudaranya, maka hendaklah ia mengembalikan kepadanya. (HR. Ahmad).

Sebagaimana kedudukan perbuatan merampas yang dilarang, begitu juga bila barang tersebut dimanfaatkan. Selama ghasab dilarang, maka tidak dihalalkan pula memanfaatkan barang rampasan untuk digunakan apapun. Adapun bila barang yang dirampas tersebut kadung ditanami pepohonan maka ia wajib mencabutnya atau bila dibangun rumah, maka ia wajib merobohkannya. [iii]

Apabila ada kerusakan pada barang tersebut, maka si-perampas wajib mengganti kerusakan atau kekurangannya.[iv] Imam Hanafi dan Syafi’i sepakat, barang rampasan yang rusak setelah digunakan wajib menggantinya dengan barang yang serupa dan tidak boleh diubah, kecuali bila barang yang serupa tersebut tidak ada. Sedangkan bila barang yang dirampas itu hilang, dia wajib mengganti dengan barang yang serupa, atau menggantinya sesuai harga barang tersebut.

Demikian cara Islam, mengatur kepemilikan barang yang dirampas. Perbuatan ini tidak bisa dibiarkan, Allah SWT sendiri mengancam perbuatan ini dalam salah satu hadits berikut: Siapa yang berbuat dzalim dengan sejengkal tanah, niscaya Allah akan mengalungkannya kelak di akhirat dalam bentuk tujuh lapis. (HR. Bukhari-Muslim). [v]

[i] Imam Adz-Dzahabi, (2007), Dosa-dosa Besar, Solo: Pustaka Arafah, cet. 5, hlm. 163

[ii] Sulaiman Rasjid, (2004), Fiqh Islam, Bandung: Sinar Baru Algensindo, cet. 36, hlm. 338

[iii] Sayyid Sabiq, (1987), Fikih Sunnah Jilid 13, Bandung: PT. Al-Maa’rif, cet.10, hlm. 77-82

[iv] Sulaiman Rasjid.,op.cit., hlm. 339

[v] Sayyid Sabiq, op.cit, hlm. 80

Komentar ditutup.