Hujan Pagi di Masjid Nabawi

Hujan Pagi di Masjid Nabawi

0 33

ALHIKMAHCO,– Satu hari di bulan februari saya sedang ada di tanah suci, di hari yang sejuk saya turun dari hotel dengan niat untuk melaksanakan thawaf. Sampai di halaman masjid Nabawi hati mula tergoda, “Ah masih pagi, masih pukul 10.30, zuhurnya nanti setengah satu.

Di sebelah kiri ada tempat yang bisa dipakai untuk nongkrong sejenak  mungkin minum kopi dan minum dengan teman. Saya kemudian beristighfar, saya niat keluar kamar hotel mengenakan pakaian terbaik yang ada, yang paling bersih, adalah untuk menikmati thawaf. Segera beristighfar dan bersegera melankah kaki menuju pintu satu masjidil haram.

Namun godaan tak putus, begitu kaki melangkah ke arah masjid wudhu saya batal segera saya berwudhu dan memantapkan hati untuk masuk ke dalam masjid. Di dalam saya memulai thawaf saya dengan ritual mengangkat tangan mengarahkannya ke Hajar Aswad, bismillahi Allahu Akbar,, saya kecup dengan lembut seperti kecupan untuk seorang kekasih.

Ketika thawaf memasuki putaran kelima, hujan turun tipis dan saya merasakan butir-butir air yang halus menerpa wajah saya. Saya lanjutkan menikmati thawaf yang agak jarang seperti itu. Di akhir thawaf saya berdoa hujan mulai turun lebih deras, tetapi masih tidak membahayakan pakaian dan alat komunikasi yang saya bawa. Saya terus menikmati hujan yang sangat tipis di pelataran masjidl haram.

Lantas ketika azan dzuhur berkumandang, seusai azan saya melaksanakan qabla zuhur, terasa butiran air yang turun semakin lama semakin besar kemudian ketika sujud terakhir di shalat sunat qabla itu, saya merasa butiran air yang jatuh membasahi tengkuk saya semain lama semakin rapat.

Butir-butir hujan, yang jatuh membasahi tengkuk di depan kabah itu rasanya seperti lebaran pulang kampung dan sungkem kepada ibu, dan ibu kita membelai membelai kepala dan tengkuk kita, sensasi yang luar biasa.

Rasanya sujud itu tak ingin dihentikan, rasanya saya ingin sujud terus, tapi saya tahu segaala sesuatu harus ada akhirnya. Lalu saya bangkit dari sujud dengan air mata yang meleleh. Ketika salam ke kanan dan kiri, saya baru sadar bahwa yang menangis saat itu bukan hanya saya, bahwa pada saat itu, air mata saya dan air mata jamaah lain, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah dan seluruh tubuh saya.

Saudara-saudaraku yang bahagia, saya kemudian bermimpi dan mempunyai keinginan dan bahkan bertanya-tanya, ya Allah seandainya setiap thawaf indahnya seperti itu, seandainya setiap shalat indahnya seperti itu, seandainya setiap ibadah indahnya seperti itu, seandainya setiap waktu, setiap saat, kita merasakan apa yang Allah firmankan, apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang aku katakan bahwa aku dekat.

Andai saja setiap saat kita merasakan kedekatan dengan Allah, Andai saja setiap saat kita merasakan belaian Allah, Andai saja setiap saat kita merasakan bahwa Allah ada dan sanngat dekat dengan kita, mengijabah do’a- do’a kita. Barangkali setiap saat, setiap shalat, kita meneteskan air mata. Bahkan setiap kita mendapatkan rizki, kita meneteska air mata. Bahkan setiap saat ketika kita merasakan kenikmatan dalam hidup       kita meneteskan air mata, karena kita tahu Allah ada dan sangat dekat.

Saat air mata bercampur dengan air hujan, keindahan yang luar biasa ketika kita merasakan bahwa Allah hadir dekat dengan kita. Dan ia berjanji mengijabah doa-doa kita. []

BERITA TERKAIT