Hikayat Cireng (Rasa) Kasih

Hikayat Cireng (Rasa) Kasih

0 131

Pahit manis pengalaman seorang pedagang pun ia rasakan. Mulai diusir polisi, pemilik rumah, pemilik lapak yang merasa tersaingi, dan ujian-ujian mental seorang pedagang lainnya.

ALHIKMAH.CO–Brrr…Brrr… Bukit Lembang di Bandung sore itu sedikit mendung, dingin menggigil bak suhu di ruangan ber-AC . Kabut yang membungkus pepohonan dataran tinggi Priangan dan gerimis kecil, membuat tubuh ini bermanja  –  manja dengan hidangan hangat sepeti bandrek dengan cemilan cireng (aci digoreng) yang asli Bandung itu.

Cireng hangat memang nikmat saat dicicip di Lembang. Cireng, bagi masyarakat Bandung memang tak asing lagi di telinga, terlebih ‘cireng lembang’. Lapak di depan Pom Bensin Lembang itu tak pernah sepi. “Cireng Kasih namanya,” kata Taufiqurrahman, pemilik usaha Cireng Kasih kepada Alhikmah sepenggal waktu lalu. Cireng inilah yang nikmat mengisi perut dan memberikan kehangatan di tengah dinginnya alam kawasan Bandung Utara.

Sejak ba’da ashar hingga jam 11 malam, Lapak Taufiq tak pernah sepi.”Cireng kasih ini pas rasanya. Selain cirengnya yang empuk, tetapi renyah di luar, terus isinya nggak asem. Membuat perut kukuruyuk dan lidah semakin basah,” kata Vina, salah seorang pelanggan Cireng Kasih, kepada Alhikmah.

Cireng Kasih awalnya bernama “Cireng International.”  Karena dianggap berlebihan (lebay), merek pun diubah menjadi “Cireng Lembang”. Tetapi kemudian lagi-lagi berganti nama, lantaran sang empunya sadar “Cireng Lembang” jadi terkesan terbatas hanya di daerah Lembang saja. “Cireng Kasih” pun kemudian Taufiq pilih, pemberian dari seorang guru.

Subhanallah. Sejak itu, lapak Taufik tak pernah sepi.

Taufik
Taufik

Pelatihan Menjelang  Pensiun

Bermula dari pelatihan kemandirian menyambut masa pensiun di Ponpes Daarut Tauhid, Bandung. Sebuah lembaga menyosialisasiakan program kewirausahaan, mulai dari pendampingan sampai dengan bantuan modal usaha.

Tanpa pikir panjang, Taufiq pun tertarik untuk membuka lapak usaha Cireng. “Saat itu saya belum bisa produksi sendiri karena cirengnya dari distributor luar,” kenang Taufiq.

Karena bergantung pada supplier, usaha Taufiq kerap terhenti manakala supplier sementara tidak membuat cireng. Akhirnya ia berpikir, ‘kenapa tidak membuat cireng sendiri saja?’

Taufiq pun belajar praktik membuat cireng. Ia lantas membeli bahan-bahan sebagai awal percobaan. Meski terlihat gampang, membuat cireng tak semudah yang dibayangkan. “Kadang terlalu kenyal, kadang terlalu kering wah..pengalaman itu yang bikin saya terus berusaha dan pantang menyerah,” katanya.

Saat itu, tahun 2008, tidak ada tempat yang tetap ketika Taufiq mulai menjual cireng buah tanggannya sendiri itu. Bermodal motor roda tiga, plus keyakinan keyakinan yang besar  bahwa Allah akan memberikan pertolongan, Taufiq pun mulai menjalankan roda usahanya. Dari satu tempat ke tempat lainnya, ia jajakan kudapan khas kota kembang. Pahit manis pengalaman seorang pedagang pun ia rasakan. Mulai diusir polisi, pemilik rumah, pemilik lapak yang merasa tersaingi, dan ujian-ujian mental seorang pedagang lainnya.

Tapi Taufiq tak menyerah. Melihat peluang di Pom Bensin Lembang, ia pun coba berikhtiar membuka lapak di depannya.

“Awal-awal di pom bensin pun saya sering dimarahi, tetapi saya tetap berjualan di sini di depan pomb Bensin, saya tanggapi dengan sabar dan tawakal.”

Dan pertolongan Allah itu pasti datang terhadap hamba –Nya yang sangat sabar.

Terbukti,  pemilik kios yang dulu sering mengusir Taufiq usahanya malah gulung tikar. Taufiq pun memberanikan diri untuk menyewa kios itu. “Padahal uang dari mana. Ketika itu harganya 14 Juta per tahun. Saya cobaa utarakan maksud keinginan saya, akhirnya di bantu oleh Istri dan keluarga. Alhamdulillah saya dapat membayar uang sewa kios ini, walaupun bingung juga karena uang sudah  terserap  untuk membayar  tempat,” ungkap Taufiq.

Perlahan biduk usahanya mulai berjalan, lancar. Pelbagai kalangan; baik tua, muda , hingga anak-anak tak ketinggalan menjadi pelanggan setia produk buatan Taufiq. Bahkan pesanan Cireng Kasih kini sudah melesat  lintas pulau, hingga ke Aceh di Barat, dan NTB , Maluku  di Timur Nusantara .

Cabang Cireng Kasih pun bertebaran di empat titik di Bandung. Kini lima tahun sudah Cireng Kasih berjalan. Mulai dari mendorong gerobak, mengendarai motor roda tiga, hingga memiliki tempat sendiri. Cireng Kasih terus berkembang menjadi usaha yang mandiri dengan empat  cabang di Bandung, dan mempekerjakan 8 Orang karyawan pada setiap cabangnya, dengan keuntungan bersih mencapai 4 juta perhari.

Taufiq bersyukur, atas limpahan nikmatNya. Ia berharap, “dengan jalan Allah yang penuh kasih , Cireng Kasih dapat terus ada, Insya Allah.” Amiin. Kita doakan bersama.

reporter: adri

editor: mr