Hidayah Relawan Armada Kebebasan

Hidayah Relawan Armada Kebebasan

0 179
pict. un2kmu

Sebelum tragedi Mavi Marmara yang membetot perhatian mata dunia terjadi, sebelum Mavi Marmara berlayar pergi menunaikan misi kemanusiaan ke Gaza, ada haru bercampur bahagia tengah dirasakan salah seorang relawan yang kelak turut serta dalam misi itu.

Lima kapal bertajuk rombongan Freedom Flotila (Armada Kebebasan) berangkat dari Turki menuju Gaza. Mengangkut ratusan relawan dari pelbagai penjuru dunia serta  berbagai macam bala bantuan. Mulai dari makanan, obat-obatan, susu bayi, alat-alat sekolah, alat-alat rumah sakit hingga bahan bangunan. Kapal Mavi Marmara salah satunya.

Dalam bahasa Indonesia, Mavi Maramara berarti Biru Marmara. Di sana pulalah, di laut Marmara ia kemudian mendapat teror dari zionis yahudi laknatullah.

Ya, di lautan Mediterania itu, Mavi Marmara dihadang serdadu zionis. Entah apa yang ditakuti oleh tentara bersenapan lengkap itu dari para relawan tanpa senjata, bermodal semangat kemanusiaan. Nyatanya, Israel tetap memuntahkan isi senjatanya, secara membabi buta.

Kapal laut, kapal selam dan helikopter Israel menjegal laju Mavi Marmara serta lima kapal lainnya di rombongan itu. Awalnya perlawanan dilakukan relawan di Kapal Mavi Marmara dengan melemparkan apa yang ada di antara mereka semisal kursi guna mencegah tentara Israel bisa leluasa mengambil alih kapal. Namun, apalah arti lemparan dibandingkan peluru dan tenaga penuh militer. Mavi Maramara jatuh juga ke tangan para pembajak itu dikala sebagian relawan tengah melaksanakan shalat Subuh.

Lebih dari 50 orang luka-luka, dan sembilan orang tewas akibat rongrongan bedil Israel. Dan genap jadi 10, orang setelah Ugur Suleyman yang selama empat tahun semenjak serangan zionis tersebut koma akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Sisanya, diborgol, dijemur di kapal tanpa diberi seteguk air, kemudian sesampainya di Ashdod, Kota Pelabuhan Israel, mereka djebloskan ke dalam sel.

Sebelum Biru Marmara Pergi

Sebelum tragedi Mavi Marmara yang membetot perhatian mata dunia terjadi, sebelum Mavi Marmara berlayar pergi menunaikan misi kemanusiaan ke Gaza, ada haru bercampur bahagia tengah dirasakan salah seorang relawan yang kelak turut serta dalam misi itu.

Rasa yang membuncah dalam dada seorang relawan berusia 63 tahun, Peter Vanner. Relawan berkebangsaan Inggris ini melafalkan ikrar syahadat dengan penuh kesadaran akan segala konsekuensi ucapannya, Ahad malam (23/5/2010) di kantor organisasi kemanusiaan terbesar di Turki, IHH. Organisasi kemanusiaan terbesar yang mengorganisir misi Freedom Flotilla.

Keislaman Peter disaksikan langsung oleh DR. Nawaf Takruri (Ketua Persatuan Ulama Palestina di Suriah), Syekh Abdul Ghani Atamimi (Ketua Persatuan Ulama di Luar Negeri) dan Ustadz  Ferry Nur (Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA)) yang langsung melayangkan do’a serta ucapan selamat kepada Peter. Bersamaan dengan peristiwa monumental itu, Peter kemudian mengganti namanya menjadi Muhammad Fatih.

Setelahnya, dihelat acara tasyakuran Peter yang bertepatan dengan pemberangkatan rombongan Freedom Flotilla. Pekik takbir sontak bergema di acara yang berlangsung sederhana nan mengharukan tersebut. Sejumlah anggota rombongan spontan ada yang menghadiahi Peter dengan peci, jubah, tasbih, dan ragam hadiah lainnya.

“Perjalanannya cukup panjang. Awalnya beliau (Muhammad Fatih) mendaftar di Inggris untuk bisa berangkat (ke Gaza). Tapi di sana ia ditolak karena katanya seat-nya sudah full. Kemudian mengetahui di Turki ada yang kosong, ia langsung ke Turki dan mendaftar. Akhirnya dia diterima jadi relawan, ikut rombongan berangkat ke Gaza,” papar Ustadz Ferry Nur, saksi mata masuk Islamnya Peter, saat ditemui Alhikmah di kediamannya di Jakarta. medio Agustus 2014 lalu.

Ustadz Ferry waktu itu berangkat bersama Peter dan rombongan dengan Kapal Mavi Marmara. Peter kemudian dengan tekun belajar berbagai macam hal soal Islam, mulai dari shalat hingga mengaji.

“Fatih sangat rajin shalat. Di kapal, saya lihat dia tahajud. Dia juga sangat rajin belajar mengaji. Allahu akbar walillahilham,” tutur Ferry.

peter-vanner

Dakwah Tersendiri

Keislaman Peter bukan hanya menjadi anugerah untuk dirinya seorang, melainkan juga dirasakan langsung oleh orang-orang di sekitarnya. Termasuk Ustadz Ferry Nur, yang senantiasa memekik takbir setiap kali menceritakan pengalamannya bersama Peter.

“Seorang non-muslim mau berkorban langsung ke Palestina. Dia ke sana ke mari, dari Inggris dia ditolak, lalu dia ke Turki. Hendak berkorban untuk muslim di Palestina. Padahal dia belum jadi muslim, coba,” ungkap Ferry.

Tapi kemudian, Ferry melanjutkan, hidayah Allah turun kepadanya. “Peter yang mau berkorban masuk Islam. Ini jadi kenikmatan untuk saya, jadi spirit buat saya menyaksikan Peter membaca kalimah syahadat yang kemudian tekun ia mempelajari Islam. Belajar ngaji dan shalat. Sungguh kenangan yang tidak bisa saya lupakan,” pungkas Ferry. (Ahmad Fauzi/Alhikmah)

diolah dari tabloid alhikmah edisi 98