Hidayah di Land of Promise

Hidayah di Land of Promise

0 109

September 2001, Morales menjadi saksi tragedi besar yang menimpa AS yaitu rontoknya dua menara kembar World Trade Center (WTC). Semenjak itu dia lebih sering mendengar banyak hal tentang Islam dan umat Muslim melalui berbagai pemberitaan media. Namun, yang dia dengar hanyalah berita-berita yang negatif.

Dirinya benar-benar tak tahu lagi kemana ia harus melangkah. Negeri sepanjang mata memandang ialah tanah yang sungguh menjanjikan. Melangkahkan kaki dari kampung halaman menuju tanah Abang Sam, maka yang terlintas di sepanjang perjalanan adalah nasib yang lebih baik, kehidupan yang serba mudah dan harta yang berlimpah. Land of Promise, Land of the Free…begitu kata orang.

Tidak sedikit dari para imigran yang berada di AS berstatus ‘gelap’ alias tidak resmi. Kebanyakan dari mereka berasal dari negara tetangga seperti negara-negara Amerika Selatan, Asia dan Afrika. Morales adalah satu di antara sekian banyak imigran gelap yang mengadu nasibnya di AS.

Berangkat dari negeri asalnya, Meksiko, Morales yang seperti kebanyakan imigran lainnya berharap bisa mendapatkan penghidupan yang lebih layak baginya dan keluarganya. Namun Allah berkehendak lain. Mimpi dan cita-cita indah yang selama ini Morales bayangkan tidak berjalan semulus dugaannya. Morales kurang mendapatkan sambutan di negeri tempat patung Liberty berdiri itu.

Malang melintang di negeri Abang Sam, Morales tidak memiliki satu pun kawan. Dia pun kesulitan berkomunikasi karena kendala bahasa yang berbeda. Meski akhirnya dia mampu melangkahkan kaki ke anak tangga yang berikutnya, yaitu mendapatkan kewarganegaraan AS. “Aku benar-benar kesulitan,” kata Morales.

Sempat merasa putus asa, Morales berkeinginan kembali ke kampung halamannya. Namun, pikiran itu langsung ditepis lantaran tekadnya untuk bekerja keras dan hidup lebih mandiri. Lagipula, kata Morales dalam benaknya, mudik tidak menjamin masa depannya lebih baik di Meksiko.

Tekad semakin ia pancangkan, Morales pun semakin keras berjuang. Hasilnya, dia mampu menyelesaikan kuliahnya di AS.

Saksi 9/11

September 2001, Morales menjadi saksi tragedi besar yang menimpa AS yaitu rontoknya dua menara kembar World Trade Center (WTC). Semenjak itu dia lebih sering mendengar banyak hal tentang Islam dan umat Muslim melalui berbagai pemberitaan media. Namun, yang dia dengar hanyalah berita-berita yang negatif.

Morales pun kemudian mencoba mencari tahu apa sebenarnya Islam. Dia mencoba melakukan riset sederhana tentang agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad untuk seluruh alam semesta itu. Hasilnya, “Islam itu agama yang mengajarkan perdamaian. Saya kira, apa yang terjadi tidak masuk akal,” kata Morales mengenang awal-awal dia mempelajari Islam.

Dia pun mulai membaca Al-Quran, banyak berdiskusi dengan temannya yang beragama Islam sampai pada pada akhirnya Morales memberanikan diri mengunjungi sebuah masjid untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Keyakinan akan kebenaran risalah yang disampaikan Rasulullah SAW membuatnya menjadi seorang muslim pada tahun 2003.

Sejak resmi menjadi seorang muslim, Morales aktif berdakwah di North Hudson Islamic Educational Center. Selain itu ia juga bekerja di lembaga Islamic Center Amerika Utara (ICNA), yang menjalankan proyek ‘Why Islam’ yang sangat sibuk dan membutuhkan banyak tenaga bantuan.

Bergabung dengan ICNA, Morales mendapatkan amanah sebagai koordinator dakwah di kalangan Hispanik. Ia pun mengaku begitu gembira dengan proyek ‘Why Islam’. Atas seizin Allah proyek itu pun membuat Morales rutin mengunjungi Meksiko, kampung halamannya. Morales mengemban misi yang sangat penting.

Dia pun tersadar kini sudah saatnya bertugas menyampaikan risalah Islam kepada komunitasnya. Di kampung halamannya, Morales membawa literatur tentang Islam untuk diperkenalkan kepada warga pribumi. “Aku kira, banyak perempuan hispanik yang telah menjadi muslim kembali ke negara kelahirannya, lalu memperkenalkan keindahan Islam kepada saudara-saudaranya,” katanya.

Namun, ada yang membuat hatinya masih terasa sedih, yani keluarganya belum bisa menerima keputusan Morales memeluk Islam saban kali ia pulang ke Meksiko. “Aku pikir, Islam masih sangat asing di Meksiko. Tapi sebagian dari mereka sangat tertarik untuk memeluknya,” tutur Morales.

Ke depan, tugas Morales tentu akan kian menantang. Stigma negatif, perkembangan kelompok anti-Islam dan pemberitaan negatif media Amerika Serikat, masih menjadi tugas berat umat Islam AS yang perlu diselesaikan. Tentunya, Muslim AS akan menanti sumbangsihnya dan muslimah-muslimah hispanik lainnya.

(Daulat Fajar/dbs)