Haruskah Dakwah Merambah Kekuasaan? (1)

Haruskah Dakwah Merambah Kekuasaan? (1)

0 137

Oleh: Sri Al Hidayati

Judul tulisan ini seperti tercantum pada buku yang ditulis oleh Khozin Abu Faqih, ” Haruskah Dakwah Merambah Kekuasaan?”

Beliau mengawali buku ini dengan pembahasan bahwa manusia mempunyai potensi baik atau buruk. Kemudian beliau mengutip perkataan Imam Hasan Al Banna dalam risalah “ila ayi syaiin nad’un naas” bahwa sesungguhnya kebangkitan semua umat bermula dari kelemahan, di mana orang yang melihat menganggap bahwa mencapai apa yang mereka inginkan adalah bentuk kemustahilan.

Namun catatan sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan dan ketenangan dalam melangkah, dapat mengantarkan umat dari kebangkitan yang awalnya lemah dan sedikit sarana, menuju puncak kesuksesan yang diinginkan para aktivisnya.

Penulisnya Ustadz Khozin memberi contoh, bahwa siapa yang percaya awalnya bahwa jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan memancarkan seberkas cahaya dan keilmuan, serta dapat menguasai Negara terbesar di dunia melalui kekuatan spiritual dan politik para pengikutnya?

Siapa yang menyangka jika Shalahudin Al Ayubi mampu bertahan bertahun-tahun hingga berhasil mengusir Eropa dalam keadaan hina, sekalipun perlengkapan mereka lengkap dan jumlah mereka jauh lebih banyak hingga 25 raja dari kerajaan-kerajaan besar bersatu menyerangnya?

Siapa yang menyangka kalau Raja Abdul Azis Ali Su’ud yang diasingkan, keluarganya diusir, dan kerajaannya dirampas, akhirnya dapat mengembalikan kerajaannya hanya dengan 20 orang lebih. Kemudian kerajaannya menjadi salah satu harapan dunia Islam untuk mengembalikan kejayaannya dan menghidupkan persatuannya.

Kekuasaan dapat merealisir berbagaii manfaat yang dapat menghanyutkan pemegangnya ke lautan laknat. Tetapi membenci kekuasaan mengantar umat pada kehinaan dan akhirnya dikuasai musuhnya. “Sesungguhnya Allah mencegah sesuatu dengan kekuasaan, yang tidak dapat dicegah dengan Al Quran.” (Utsman bin Affan)

Ada sebuah hadits yang menyatakan jika ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaklah mengangkat seseorang dari mereka menjadi pemimpin. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada cekcok dan lebih teratur. Terlebih dalam sebuah Negara, lembaga atau organisasi tidak dianjurkan memiliki dua pemimpin karena akan kacau dan kehidupan semrawut.

Islam diturunkan untuk menjaga lima hal penting yang menjadi hak asasi manusia, yaitu agama, jiwa, kehormatan, harta dan akal. Dari kelima hal tersebut akan menjadi terlantar jika Islam tidak mempunyai kekuasaan.

Pada saat Islam mempunyai kekuasaan, maka orang tidak akan berani melecehkan agama dalam bentuk apapun. Pada saat umat Islam mempunyai kekuasaan, nyawa muslim bahkan non muslim sangat berharga, sehingga orang tidak mudah mengalirkan darah.

Jika lima kebutuhan dasar manusia tidak mendapat perlindungan, maka kekacauan terjadi dimana-mana. Kesengsaraan akan mewabah, kekuatan menyebar dan akhirnya masyarakat berjalan menuju kehancuran.

haruskah_dakwah_merambah_kekuasaan

bersambung: 

*Penulis merupakan blogger muslimah dan aktif di FLP Bandung. Penulis dapat dihubungi di email: srialhidayati@gmail.com

Resume Buku Haruskah Dakwah Merambah Kekuasaan

Oleh Khozin Abu Faqih

Jakarta, Al I’tishom, 2009