Hal yang Menghalangi Kita dalam Mengenal Allah

Hal yang Menghalangi Kita dalam Mengenal Allah

0 199

APABILA seorang hamba telah bertekad untuk lebih dekat dan mengenal Allah, pasti ia akan dihadang oleh berbagai godaan dan tipu daya. Iblis telah berjanji akan menggoda anak cucu Adam, agar mereka tetap berada dalam kesesatan dan jauh dari petunjuk Allah SWT. [i]

Setiap hal yang menjadi penghalang, muncul dalam bentuk sifat-sifat yang kontradiktif. Dilihat dari sumber dan penyebabnya, penghalang tersebut terbagi ke dalam dua macam, yaitu penyakit sahwat (maradh asy syahwah) yang berkaitan dengan kesenangan atau nafsu, dan penyakit syubhat (maradh asy-syubhah) yaitu berbagai hal yang menimbulkan keraguan. Kedua penyakit ini sangat mungkin berada pada diri manusia.

Beberapa penyakit sahwat di antaranya adalah fasik (meninggalkan yang diperintahkan Allah dan melakukan bencana di muka bumi), sombong (orang yang hatinya mengingkari ayat-ayat Allah dan memandang rendah orang lain), dzalim (orang yang mendapatkan pengetahuan tentang Islam, tetapi dia mengada-ngada terhadap ayat Allah).

Manusia memang sangat mudah terpengaruh bila didorong hawa nafsu, sehingga menjadikan fitrah atau hati nurani tertutup dari kebenaran. Hati yang tertutup itu akibat dari dosa-dosanya yang hanya akan menjauhkan diri dari hidayah Allah. Sebagaimana yang diterangkan dalam ayat berikut: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. al-Imraan [3]: 14)[ii]

Selanjutnya, penyakit yang dapat menjadi penghalang mengenal Allah adalah penyakit syubhat.[iii] Penyakit ini disebabkan tidak berilmunya seseorang, sehingga menjadikan individu tersebut bodoh, ragu-ragu, menyimpang, dan lalai. Banyak dari umat Muslim yang terjerumus dalam kondisi ini.

Salah satu sikap yang banyak tersebar di berbagai kalangan adalah tingkah laku  taklid (mengikuti dengan membabi-buta tanpa ilmu) kepada suatu nilai Islam dan kegiatan ibadah. Allah SWT berfirman : dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawaban. (QS. al-Isra’a [17]: 36). [iv]

Penyakit-penyakit tersebut, akan menimbulkan kemurkaan Allah. Karena itu, agar terhindar dari azabnya, umat Muslim harus senantiasa bermujahadah dan bermuhasabah diri. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS. al-Ankabut [29]: 69). [v]

[i] Jasiman, (2005), Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah, Solo: Auliyya Press, hlm. 55

[ii] Irwan Prayitno,(2005), Kepribadian Muslim, Jakarta: Pustaka Tarbiyatuna, hlm. 135-136

[iii] Al-Ghazali,(1994), Menjelang Hidayah, Bandung : Mizan,cet. 6, hlm. 101

[iv] Irwan Prayitno., op.cit, hlm. 141

[v] Ibid, hlm. 135