Haji Sang Nabi

Haji Sang Nabi

Tak pernah terbayangkan. Saat itu, di hadapannya berkumpul seratus ribu manusia. Jumat itu, Pemandangan yang begitu dramatis, saat Nabi menyampaikan khutbahnya yang sudah sangat kesohor, khutbah Wada. Khutbah Haji pertama sekaligus terakhir sang Nabi.

Madinah kala itu penuh sesak oleh lautan manusia. Bulan Zulqadah 10 tahun setelah hijrah, sang Nabi pun menyerukan seluruh umat Islam melaksanakan haji – haji pertama sang Nabi, haji yang bersih dan bebas dari praktik kesyirikan. Seluruh umat Islam mendatangi Madinah, tak ada yang mau ketinggalan menemani sang Nabi.

Madinah penuh sesak oleh kuda-kuda, unta, hingga lautan manusia yang berjalan kaki. Sabtu siang, 26 Zulqadah usai shalat zuhur, sang Nabi menyisir rambut, memakai wewangian dan bersama sang ratusan ribu manusia bergerak meninggalkan Kota Nabi Madinah. Semua istri sang Nabi tak ada yang ketinggalan. Seluruh umat Islam turun.

Tiba di Zulhulaifah, sang Nabi bermalam di sana, dan saat mentari menyemburat, beliau bersabda,” Semalam aku didatangi utusan Allah. Ia berkata,’ Kerjakanlah shalat di lembah berlimpah dan berkah ini, dan ucapkan: umrah haji.” Nabi pun segera mandi untuk ihram, tubuh, rambutnya dan janggutnya dilumuri minyak wangi campur misik oleh Aisyah hingga basah.

Hanya sarung dan selendang yang beliau kenakan. Seluruh hewan kurban ditandai dan diberi kalung. Sang Nabi pun mendirikan shalat dua rakaat dilanjutkan dengan suara lantang untuk haji dan umrah (qiran) beliau bertalbiyah: Labbaik Allahumma Labbaik, Ya Rabb kami penuhi seruanmu!” menggema seantero perjalanan.

Al Qashwa, unta kebanggaan Nabi itu kini berjalan menuju Baitullah diiringi suasana haru, lantunan talbiyah bergemuruh tiada henti. Lidah basah dengan harap dan impian, ya Rabb, kami datang memenuhi panggilanMu. Dengan kerendahan hati, tiba di al Baida, sang Nabi berdoa lirih,” Ya Allah, kami berhaji bukan karena ria, bukan karena sum’ah”

“Kami datang memenuhi panggilan-MU. Kami datang memenuhi panggilan-Mu, tak ada sekutu bagi-Mu, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh segala puji dan kenikmatan hanyalah milik-Mu. Kami datang memenuhi panggilan-Mu wahai Tuhan seluruh makhluk. Kami datang memenuhi panggilan-Mu, berhaji dengan benar, penuh pengabdian dan penghambaan..”

Tak terasa, bulir-bulir bening melewati pipi para sahabat, membasahi janggut, menetes lembut. Baitullah nan dirindu sedari hijrah. Lautan manusia bertawaf, pemandangan dramatis pertama kali dalam sejarah, umat Islam berhaji dengan syariat haji yang bersih dan murni.

Sepanjang jalan, hati-hati bergetar. Air mata tumpah ruah.” Kami datang memenuhi panggilan-Mu wahai Zat pemilik tangga naik, Kami datang memenuhi panggilan-Mu, wahai Zat pemilik keutamaan..” lantang para sahabat hingga tiba di al Rauha suara mereka habis karena mengumandangkan kalimat talbiyah.

Kalender menunjukkan tanggal 4 Zulhijah ketika sang Nabi tiba di Dzu Thuwa, dekat dengan Makkah. Esoknya, sang Nabi memasuki kampung halamannya Makkah. Mentari pagi membelai hangat Masjidi Haram pagi itu, dan dari arah pintu Abdi Manaf (Babussalam) sayup-sayup kalimat takbir dan talbiyah terdengar.

Ka’bah sekarang benar-benar ada di depan mata. Ada rasa yang sulit diungkapkan, hati yang berdegup kencang, tak bisa digambarkan. Air mata sang Nabi tetiba saja tumpah ruah, seraya bertakbir dan berdoa lirih dengan sangat khusyuk,” Ya Allah engkaulah sumber kedamaian..tambahkanlah kepada Rumah ini keagungan, kemuliaah, ketinggian, kewibawaah dan kebaikan. Dan, tambahkanlah kepada orang yang melaksanakan haji atau umroh keagungan, kemuliaan, ketinggian dan kebaikan.”

Dengan berlinang air mata, sang Nabi mencium Hajar Aswad. Beliau terisak begitu lama, terpekur di hadapan batu suci itu. Hingga beliau berkata kepada Umar,” Wahai Umar, di sinilah air mata tumpah!. Beliau pun mulai bertawaf dengan linangnan iar mata, tiga kali berlari-lari kecil, empat kali berjalan biasa. Selendang beliau dimasukkan ke bawah ketiak kanan, dan disandangkan ke pundak kiri.

Di tengah lautan manusia, di tengah keriuhan, semuanya syahdu dalam haru dan tangis. Usai bertawaf, Nabi kembali mencium Hajar Aswad, bergerak ke Maqam Ibrahim dan membacakan surat al Baqarah ayat 124” Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” Lalu beliau pun shalat dua rakaat dengan posisi Maqam Ibrahim berada di antara beliau dan Ka’bah.

Usai shalat, sang Nabi beranjak ke sumur zamzam, minum dan menyiramkan ke kepala, lalu menyentuh pojok Ka’bah dan meninggalkan Masjidil Haram. Kini, Nabi menuju Safa sambil membaca ‘Sesungguhnya Safa dan marwah adalah sebagian dari syiar Allah,”

Nabi naik ke atas, hingga nampak pemandangan mengagungkan Baitullah dari bukit Shafa seraya mengagungkan Allah dengna kalimat tauhid. Beliau berdoa dengan khusyuk, lantas turun menuju Marwah seraya berdoa agar Allah mengampuni umatnya. Lepas dari tempat landai, Nabi naik ke bukit marwah dan melakukan apa yang dikerjakan di Shafa. Nabi pun menuntaskan Sa’i-nya.

Bagi yang tak membawa hewan kurban, Nabi memerintahkan menjadikan ihram mereka umrah, mereka langsung bertahalul; boleh mengenakan pakaian berhaji. Nabi pun kembali ke tempat tinggalnya di Hajun, menetap di sana selama empat hari: Ahad, Senin, Selasa, Rabu, dan malam Kamis. Malam Kamis 8 Zulhijah, beliau bergerak ke Mina.

Para sahabat yang sebelumnya telah bertahalul, kini mengenakan lagi pakaian ihram sebagai tanda menunaikan haji, dan Nabi pun telah menjelaskan tata cara haji. Tiba Jumat malam di Mina, Nabi turun, melaksanakan shalat lalu bermalam. Malam yang penuh kesyahduan diisi dengan dzikir.

Esoknya, usai berdiam sejenak sehabis shalat subuh, beliau bangkit menuju Arafah. Beliau minta dibuatkan tenda dari kain. Para sahabat bertakbir dan kembali beltalbiyah. Nabi berdiam di tendanya di Arafah, bersama lautan manusia. Usai mentari tergelincir, sang Nabi mencapai jantung lembah bumi Arafah.

Tak pernah terbayangkan. Saat itu, di hadapannya berkumpul seratus ribu manusia. Jumat itu, Pemandangan yang begitu dramatis, saat Nabi menyampaikan khutbahnya yang sudah sangat kesohor, khutbah Wada. Khutbah Haji pertama sekaligus terakhir sang Nabi.

“Dengarkanlah kata-kataku. Sebab, aku tidak tahu apakah setelah tahun ini aku bertemu dengan kalian lagi di tempat ini atau tidak,” lirih sang Nabi. Di senja itu pula, ayat al Quran yang menerangkan Islam telah sempurna turun. Disambut suka cita kaum muslimin, kecuali Abu Bakar yang terisak, karena firasat sang Nabi tak lama lagi akan meninggalkan mereka.

Usai pidato, Nabi pun naik unta kembali, sampai di tempat wukuf. Beliau menghabat kiblat, dengan khusyuk mematung dalam doa hingga senja berganti menjadi pekatnya malam. Beliau berdoa dengan mengangkat tangan ke dada di padang Arafah yang dipenuhi lautan manusia itu.

Setelah matahari terbenam, Nabi meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah, menempuh jalan sempit. Beliau tak henti-hentinya melafalkan kalimat talbiyah. Sampai di Muzdalifah, beliau bermalam di sana hingga Fajar menyingsing. 10 Zulhijjah, inilah Idul Adha, Hari Raya Berkurban.

Usai shalat subuh, Nabi bergerak ke Masy’aril Haram di Muzdalifah, berdoa, bertakbir dengan khusyuk. Beliau mengumumkan bahwa seluruh penjuru Masy’aril Haram di Muzdalifah adalah tempat wukuf. Nabi pun menyuruh sahabat mencarikan tujuh butir kerikil di Hari Kurban itu. Pagi-pagi sekali Nabi bertolak ke jantung Muhassir hingga tiba di sana beliau bersabda,” Saudara-saudara, gunakan kerikil untuk melempar jumrah.”

Kini Nabi menempuh jalur yang mengarah langsung ke Jumrah Aqabah diikuti seluruh Jemaah. Tak henti-hentinya beliau mengumandangkan talbiyah hingga mulai melempar. Duha itu, Nabi melempar jumrah dengan tujuh butir kerikiil. Usai melempar, beliau mengucap,” Ya Allah, jadikanlah ini haji mabrur dan dosa yang diampuni.”

Ketika matahari duha meninggi, Nabi berpidato lagi. Diulanginya pidato beliau di Arafah, karena membludaknya umat Islam di sana. Dari Mina, Nabi bertolak ke lokasi penyembelihan kurban. “Hari Tasyrik adalah waktu penyembelihan,” kata Nabi seraya menyembelih 63 ekor unta gemuk.

“Bagikanlah daging, kulit, dan pakaian unta-unta itu kepada orang-orang,” ungkapnya. Untuk setiap istrinya, Nabi menyembelih seekor sapi, karena mereka melaksanakan haji tamattu dan wajib menyembelih hewan kurban.

Usai berkurban, Nabi memanggil tukang cukur, untuk menggunduli rambutnya. Orang-orang mengelilingi Nabi, tak ingin membiarkan rambut beliau jatuh tanpa tertangkap. Dilanjutkan Nabi mencukur kumis dan jambang, serta memotong kuku. Kini Nabi mengenakan gamis, bergerak menuju Makkah, bertawaf ifadah seraya bertakbir.

Nabi pun menuju Zamzam, dan setelah itu Nabi kembali ke Mina, tinggal di sana tiga hari tiga malam selama hari Tasyrik. Beliau melakukan ibadah, mengajarkan agama, berzikir, melempar jumrah setelah matahari tergelincir. Di penghujung hari Tasyrik Nabi meninggalkan Mina menuju Muhashshab.

Malam itu, beliau menuju Makkah, mengerjakan tawaf perpisahan menjelang akhir malam. Di Multazam, nabi mematung, berdoa kepada Allah dengan sangat khusyuk. Di pengujung malam, beliau pun meninggalkan Makkah kembali ke Madinah dengan membawa sedikit zam-zam. Itulah Haji sang Nabi.

Sampai kini ritual haji tetap menjadi ‘sekolah’ yang menyimpan berjuta tujuan, dan setiap tahun umat Islam kumpul di ‘sekolah’ ini. Haji ialah puncak keimanan, larut dalam titik sebagai umat yang satu. Tak ada perbedaan warna kulit, status. Setiap insan bermunajat langsung kepada sang Maha. Semua sadar bahwa setiap insan merindu Baitullah. Semua menghadapkan diri ke sana penuhi undangan Allah. Labbaik Allahumma Labbaik…

(rl/alhikmah)