Haji Pertama Bersama Ibunda

Haji Pertama Bersama Ibunda

0 158

KH Maftuh Kholil

Langsung saya bersimpuh di pangkuannya dengan cucuran air mata yang tak tertahankan. Saya ungkapkan permintaan maaf setulus-tulusnya. Kerap merepotkannya, bahkan ketika umur sudah berkepala tiga. Ya Allah, astagfirullah. Saya menangis sejadi-jadinya.

Bagi yang berkesempatan melakukan perjalanan spiritual ke Tanah Suci, tentu masing-masing jamaah memiliki pengalamannya tersendiri. Pun dengan saya, biiznillah setiap tahun bisa berangkat ke Baitullah satu hingga enam kali, alhamdulillah, itu juga selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Namun, kala ditanyakan kembali, mana yang berkesan? Tak ragu saya akan jawab, pengalaman haji-umrah yang pertama. Mengapa? Sudah itu yang pertama, bersama Ibunda tercinta pula, subhanallah.

Yah, pada tahun 1988 silam, itu kali pertama saya menunaikan ibadah haji bersama Ibunda. Ketika itu, beliau sudah sangat sepuh, pembaca. Bayangkan 65 tahun. Masya Allah.

Ketika masih di Tanah Air, sebelum keberangkatan, saya begitu diwanti-wanti agar berhati-hati menjaga ibu. Di samping melaksanakan ritus ibadah haji sebagai kewajiban, tentu juga harus menjaga dan turut membantunya menunaikan syarat dan rukun hajinya. Walaupun bila dihitung, ini tak sebanding dengan apa yang telah beliau lakukan untuk saya sepanjang nafasnya. Tapi setidaknya, izinkan ini menjadi sebentuk bakti yang bisa diberi.

Saya lakukan tugas seoptimal yang bisa dicurahkan. Sampai di setiap tempat yang ramai, saya selalu berusaha berada di dekat ibu. Saya tuntun tangannya yang sudah menggurat keriput,  saya bimbing dalam setiap peribadahannya. Ketika Thawaf, Sa’i, atapun lempar jumrah. Subhanallah semua berjalan lancar.

Ada satu momen yang masih saya ingat. Sebelum lempar jumrah, saya melihat tali sepatu ibu putus. Tak berpikir lama, saya langsung mengganti sepatunya dengan sepatu yang tengah saya kenakan. Syukurnya cukup. Bagi saya ini hanya bagian kecil dari ikhtiar saya menjaga ibu, karena kalau dibiarkan, saya khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Melihat apa yang saya lakukan, ibu sepertinya tersentuh. Ia pun menceritakan apa yang saya lakukan itu ke setiap orang, bahkan ketika sudah sampai di Tanah Air. Padahal itu hanya sekali-kalinya.

Ibu selalu memuji begini, “Kalau semasa kecil kita yang menuntun anak, tapi setelah tua justru terbalik, kita yang dituntun oleh anak. Ketika kecil anak itu dipakaikan baju dan sepatu, Nah sekarang kita yang dipakaikan sepatu oleh anak.”  Ah,, ibunda.. Padahal engkau jauh lebih banyak melakukan pengorbanan untuk anakmu ini.

Ada lagi pembaca. Saat akan melakukan rangkaian ibadah Umrah pertama, lagi-lagi bersama ibunda tercinta. Beberapa depa di area Masjidil Haram, sebelum melakukan Sa’i, saya dudukan ibu di depan pintu Ka’bah, agak jauh sih, agar tidak mengganggu jamaah yang akan Thawaf.

Awalnya beliau bertanya-tanya, kenapa ia di dudukan di sana? Kenapa tidak langsung Sa’i? Ada apakah?

“Mamah duduk di sini,” jawab saya kala itu.

Langsung saya bersimpuh di pangkuannya dengan cucuran air mata yang tak tertahankan. Saya ungkapkan permintaan maaf setulus-tulusnya. Kerap merepotkannya, bahkan ketika umur sudah berkepala tiga. Ya Allah, astagfirullah. Saya menangis sejadi-jadinya.

Beliau hanya mengusap kepala, seraya sedikit terasa seperti meniup ubun-ubun. Ia panjatkan tiga hal. “Nak, semoga kamu diberi kekayaan oleh Allah. Kaya ilmu, kaya amal, dan kaya harta.. “ itu doa ibu.

Tatkala ibu memanjatkan doa tersebut, dan memaafkan saya, di situ ada sesuatu yang saya rasakan. Agak sulit untuk menerangkannya di sini, seperti ada sesuatu yang lepas dari badan. Suatu getaran yang menjalar dari ujung kaki sampai kepala. Desssh,, lepas begitu saja.

Makna apakah itu? Wallahu a’lam, pembaca. Tapi saya mengartikannya, mungkin itu adalah kesalahan dan dosa saya yang selama 30 tahun ini, ikut terangkat bersama panjatan doa ibu. Amiin.

Pengalaman menarik lainnya, ketika melontar jumrah aqobah, pada hari pertama, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah. Ketika melontar jumrohnya alhamdulillah lancar, tak terganggu apa pun. Namun ketika mau keluar, berjubel orang, berbadan tegap, tinggi, besar menghadang. Rasanya susaaah sekali untuk keluar dari area aqobah tersebut.

Lantas, ini bagaimana caranya? Terlintas dalam pikiran, saya harus loncat sekaligus mengangkat ibu. Saya tidak berpikir ini akan berhasil atau tidak, tapi hanya melakukan begitu saja. Di luar dugaan, heeup,, saya meloncat ke belakang, eh, kok berhasil? Walaupun dalam kondisi seperti ini (red_sambil memegang ibu)? Subhanallah. Padahal di kondisi normal, atau secara logika, sangat-sangat tidak mungkin berhasil melakukan itu dalam kondisi yang berdesakan. Kok bisa yah? Tidak ada jawaban logis lainnya, selain ini adalah bukti kebesaran Allah Swt.

Ibu,, ibu,, ibu,, memang sosok yang tak kan pernah habis untuk dikisahkan. Apalagi mengilas balik pengalaman ke tanah suci bersama beliau. Memang, tidak dinafikan, beberapa pengalaman di luar nalar di haji-umrah lain pun terasa berbeda. Tapi, kadang-kadang yang itu kadang suka terlupa. Sementara untuk pengalaman yang satu ini, sampai sekarang, bahkan mungkin selama hidup tidak akan lupa.. Amiin.

 

*Seperti yang dikisahkan KH Maftuh Kholil, Pembimbing Haji-Umroh Safari Suci kepada jurnalis alhikmah, Dita Fitri A dengan pelbagai suntingan