Hadi Susanto, Berguru dari Kunir Lor ke ITB, ke Twente, lalu USA,...

Hadi Susanto, Berguru dari Kunir Lor ke ITB, ke Twente, lalu USA, hingga Jadi Guru Matematika di UK

6 2025
Hadi Susanto
sumber: istimewa
Tak pernah terbayang dalam benak ‘cah ndeso’, Hadi Susanto, bahwa kegilaannya pada matematika akan mengantarkan dia ‘berselancar’ dari Kunir Lor (SDN Kunir Lor 1) ke ITB, ke Twente (Universiteit Twente, Belanda), lalu USA (University of Massachussets, Amerika Serikat), hingga pada posisi  bergengsi seperti saat ini. Dosen Matematika di salah  satu kampus terkemuka di dunia, University of Nottingham, UK (United Kingdom).

ALHIKMAH.CO–Kunir Kidul. Di pengujung  Januari, di desa kecil pelosok Lumajang, Jawa Timur itu, Hadi Susanto lahir, 35 tahun silam. Kala itu kehidupan keluarga berjalan sederhana.

Agar dapur tetap ngebul, ayahnya sempat berjualan ikan keliling desa, lalu banting setir menjaja kain dan pakaian di pasar.

Entah mengapa, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar di SDN Kunir Lor 1, Hadi kecil begitu tertarik mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan dengan operasi-operasi yang satu sama lain saling berhubungan. Senyumnya terkembang manakala ia berhasil mengerjakan dan menjawab soal-soal pekerjaan rumah yang diberikan sang guru dengan sempurna.

Ketertarikannya yang teramat sangat pada dunia matematika semakin tersalurkan saat memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama di SMPN Kunir. Saat itu, sedikit demi sedikit, Hadi mulai melihat bahwasanya dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa dirumuskan melalui matematika.

”Ketika sesuatu sudah dituliskan ke dalam persamaan dan rumus, maka sesuatu itu menjadi berada di tangan kita, yang bisa kita main-mainkan,” kata Hadi, kepada Alhikmah via Surat Elektronik, seperti dikutip dalam Tabloid Alhikmah Edisi 65 silam.

Uniknya, selain gandrung matematika, sejak SD Hadi pun amat tertarik pada sastra. Saat itu, sang paman yang guru SD memberi hadiah sebuah buku harian. Di buku itulah pertama kali, Hadi mulai menulis puisi.

Saat lulus SMP dan berhasil tembus SMAN 2, Lumajang, yang merupakan SMA Favorit di salah satu Kabupaten di Jawa Timur itu, Hadi sempat merasa minder. Minder lantaran kala itu, ia adalah satu-satunya siswa asal kecamatan Kunir yang berhak menuntut ilmu di sekolah itu, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang tengah terpuruk.

Meski begitu, satu hal yang menguatkan Hadi untuk mengatasi semua itu; pesan kedua orang tuanya untuk tidak minder, dan berusaha mencoba yang terbaik.

“Ibu adalah orang yang paling mempengaruhi saya untuk mencoba yang terbaik, walau terkadang kelihatannya melawan kenyataan. Bapak adalah orang yang selalu bilang ‘Jika sama-sama masih butuh makan, kenapa harus minder?’”

Maka perlahan tapi pasti, Hadi pun menjelma menjadi sosok yang demikian percaya diri. Ia berbalik bangga sebagai anak desa yang bisa sekolah di kota. Bahkan, dengan penuh kesadaran untuk meringankan beban ekonomi keluarga yang tengah menukik tajam, Hadi rela tak diberi uang saku. Saban hari, berbekal nasi plus air minum ala kadarnya, dengan senang hati Hadi mengayuh onthel dia menuju sekolah, mengais ilmu, bekal menoreh lembaran baru.

Nyaris Putus Sekolah

Prestasinya yang kian moncer di pengujung SMA, membuat Hadi berhasil lulus dengan memuaskan. Namun, di saat yang sama, bahtera usaha orang tua yang tengah oleng, nyaris membuat dia tak bisa berkata-kata. Sebagai anak pertama, tentu saja Hadi harus ikut memikirkan kelangsungan napas kehidupan mereka. Maka di satu kesempatan, Hadi berkata lirih, ”Pak,… bu, biar saya ndak usah melanjutkan sekolah. Saya mau cari kerja biar bisa bantu-bantu.”

Mendengar perkataan Hadi, keduanya membisu. “Mereka seolah tak rela jika saya harus berhenti di tengah jalan. Maka dengan dukungan penuh keluarga, terutama ibu, yang tiada putusnya,  saya  pun kemudian memutuskan mendaftar Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), lalu berhasil diterima di ITB,” ungkap suami dari dr. Nurismawati Maghfira ini, mengenang.

Masalah baru muncul. Usai dinyatakan lulus UMPTN, calon mahasiswa wajib membayar uang masuk, termasuk Hadi. Meski hanya beberapa ratus ribu, namun uang sejumlah itu tetap terasa berat bagi mereka.

Hadi pun nyaris mengubur impiannya dalam-dalam untuk bergabung di ITB. Namun kembali, sang Ibu pantang menyerah. Hingga detik terakhir, dengan mengais sisa-sisa modal usaha,  wanita paling berjasa dalam hidupnya itu terus berjuang agar sang buah hati tetap bisa menuntut ilmu.

“Karena itu, ketika pertama kali meninggalkan kampung halaman menuju ke Bandung, dalam hati cuma ada tekad untuk berhasil dan membahagiakan keluarga.”

 Berkesempatan ke Negeri Orang

Dua tahun pertama di  ITB, kesulitan belum beranjak dari kehidupan Hadi. Maka ia pun menyengaja aktif di ekstrakurikuler Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK), salah satunya untuk mendapatkan makan gratis, terutama saat manggung di acara resepsi pernikahan.

Masuk tahun ketiga, ia nyaris menyelesaikan studinya, sebelum kesempatan itu datang. Kesempatan untuk mengerjakan Tugas Akhir (TA) S1-nya di Universiteit Twente (UT), Belanda, selama sekitar 8 bulan, atas rekomendasi dosen pembimbingnya di ITB. Di saat yang hampir bersamaan, Hadi pun meraih penghargaan bergengsi di ITB, Ganesha Prize tahun 2000, sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama. Dan berhak atas hadiah mengunjungi negeri Belanda selama 3 bulan.

Selepas masa kunjungan berakhir, pihak UT menawari Hadi melanjutkan studi, lantaran potensinya yang cukup diperhitungkan. Tentu saja peluang itu ia sambut dengan sukacita. “Akhirnya setelah wisuda S1, per Agustus  tahun 2001, saya meneruskan program kombinasi MSc/PhD di UT, untuk periode 4 tahun.”

Di usia 27 tahun, saat gelar PhD  sudah di tangan, tak lantas membuat lelaki penyuka sastra ini berhenti menyempurnakan ilmunya. Selesai dari Twente ia lanjutkan studi post doctoral di University of Massachusetts, Amerika Serikat. Di sana, keahliannya di bidang matematika semakin terasah tajam. Betapa tidak, selain melakukan riset,  Hadi berkewajiban mengajar dua kelas matematika per semester.

Kepercayaan dirinya kian bertambah, hingga menjelang selesai studi di Massachussets, Hadi mencoba peruntungan dengan mengirimkan lamaran pekerjaan sebagai dosen ke sejumlah kampus di Eropa dan Amerika. Hingga kemudian di University of Nottingham,  Inggris, Hadi mengamalkan ilmunya sebagai dosen matematika.

Hadi Susanto (menggendong anak), pic: istimewa
Hadi Susanto (menggendong anak), pic: istimewa

Ilmu yang Bermanfaat

Sebagai seorang muslim,  Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (NU) UK ini mengaku bahwa salah satu pendorong dia untuk bisa melakukan pencapaian seperti saat sekarang adalah keinginan untuk mengamalkan dan membagi ilmu untuk kemaslahatan umat manusia.

Buktinya, hingga saat wawancara dengan Alhikmah selesai, tercatat sudah 50 judul karya ilmiah Hadi Susanto yang terbit di beberapa jurnal internasional prestisius, semisal; Physical Review, SIAM Journals, Physics Letters A, Optics Letters, dan beberapa lainnya.

Hobinya di bidang sastra, ia manifestasikan dalam banyak karya. Beberapa sajaknya masuk antologi puisi; Graffiti Gratitude,  Les Cyberletters: antologi puisi cyberpunk, Dian Sastro for President #3. Plus Cerpen dan Esai: Merah di Jenin, Jika Cinta, Dari Negeri Asing, Graffiti Imaji, Cyber Graffiti.

Saat dimintai pendapat tentang sejarah yang mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban ilmu, Hadi meyakini bahwa memang peradaban Islam banyak memberikan sumbangan kepada ilmu pengetahuan yang saat ini kita nikmati.

“Sebagai muslim tentu saja saya dan kita semua merindukan umat Islam yang kembali aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Berawal dari semangat, kita tidak boleh minder sebagai muslim. Tapi pada saat yang sama kita tidak boleh hanya bangga dengan masa lalu. Walaupun agamanya sempurna, tapi banyak yang masih harus diperbaiki dari umatnya.”

Hadi pun sangat bersyukur mendapat kesempatan seperti sekarang. Belajar dan mengajar. Dengan menjadi pengajar ia mengaku banyak belajar hal-hal baru. Terlebih  yang menjadi tujuan adalah untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu.

 (hbsungkaryo/rl)


LIKE & SHARE berita ini untuk berbagi inspirasi