Hadapi MEA, Pakar Branding Sarankan Kembangkan UKM

Hadapi MEA, Pakar Branding Sarankan Kembangkan UKM

1 79

ALHIKMAHCO,– Akhir tahun 2015, Indonesia akan menerapkan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ibarat dua sisi koin mata uang, MEA bisa menjadi peluang bagi masyarakat Indonesia, namun juga menjadi ancaman bagi laju ekonomi masyarakat.

Menanggapi hal ini, pakar branding Indonesia Subiakto Priosoedarsono berpendapat keberadaan MEA nanti lebih banyak mendatangkan ancaman. Pasalnya, dengan hilangnya batasan negara, masyarakat asing yang memiliki kompetensi dan keterampilan jauh lebih baik akan lebih siap menggempur MEA. Terutama Indonesia yang perindustriannya jauh dari kata maksimal, imbuhnya.

“Menginjak 1 Januari 2016 nanti, kita akan mendapat lawan yang sangat tangguh dari luar,” ujar pria yang akrab disapa Pak Bi ini, dalam acara Pesta Wirausaha Indonesia Juara MEA di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII-Jakarta, Jumat (03/04/2015).

Untuk menghadang arus dari luar, Pak Bi menawarkan solusi dengan mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM). Ia menuturkan, UKM sebenarnya memiliki potensi yang sangat bagus, terutama karena setiap daerah memiliki produk khasnya masing-masing, seperti usaha kuliner gudeg dari Yogyakarta. Yang diperlukan, katanya, adalah branding produk yang kuat agar bisa menarik konsumen.

“Ada 75 ribu desa di Indonesia, dan setiap produk bisa dinamai dengan nama desanya,” katanya.

Dengan menamai produk sesuai nama desa, Pak Bi menjelaskan produk ini akan memberi ikatan emosi pada konsumennya. Pak Bi berpendapat, mengembangkan produk daerah adalah cara paling mudah, karena setiap daerah memiliki kompetensinya masing-masing, yang bisa memberdayakan kemampuan masyarakat daerah tersebut.

“Kita tidak boleh menganggap remeh 56 juta kelompok ekonomi mikro yang sekarang ini membangun UKM. Justru mereka telah menciptakan lapangan kerja untuk 99 juta orang,” tandasnya. (Aghniya/Alhikmah)