Habil dan Qabil: Kurban Pertama Umat Manusia

Habil dan Qabil: Kurban Pertama Umat Manusia

0 18

 

“Bukankah kesalahanmu sendiri, tidak memberikan kurban dengan penuh ketundukan? Aku suguhkan kurban dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,”

Alangkah tak adilnya sang ayah! Mendengar keputusan itu, wajah Qabil mendadak memerah, bola matanya menggelap tanda tak terima. Dengan rahang terkatup, hawa panas mengalir dari dengusan nafasnya. Sudah tak mampu lagi ia mengurai emosi. Ingin meledak rasanya!

Begini, bukankah ia saudara kembar Iqlima? Lalu, mengapa tiba-tiba ayahnya, Adam, memutuskan menikahkan Iqlima dengan Habil? Sungguh, meski sang ayah mengaku itu perintah Allah, baginya dialah yang paling berhak memiliki Iqlima! Qabil berkeras, tak mau mengalah pada Habil.

Bapak umat manusia itu termenung. Ia tahu alasan di balik kekeraskepalaan putra pertamanya itu. Iqlima memang jelita, parasnya elok. Sementara Labudza, saudara kembar Habil yang hendak dinikahkan dengan Qabil, berwajah tak menarik.

Namun, sekeras apapun Qabil menolak, Adam tak bisa menyalahi ketetapan-Nya. Adalah Sang Maha Kuasa, yang memerintahkannya untuk menikahkan anak-anak secara silang. Tidak ada satupun putranya yang ia perbolehkan menikahi saudari kembar yang terlahir bersama.

Adam tak tinggal diam, ia ingin menyerahkan perkara ini pada Sang Pencipta. Menggantungkan semua harap hanya pada-Nya. Sudah diputuskan, ia akan meminta kedua putranya itu mempersembahkan kurban. Siapa saja yang kurbannya diterima, dialah yang akan meminang Iqlima.

“Wahai anak-anakku, dekatkanlah diri kalian pada Allah, dan persembahkanlah kurban. Barangsiapa yang kurbannya diterima oleh-Nya, maka diperbolehkan menikahi Iqlima,” seru Adam kala itu.

Habil dan Qabil menyanggupi syarat itu. Habil, putra yang dikenal Adam sebagai seorang peternak yang berbudi pekerti luhur, menyiapkan gembala terbaiknya. Bukan agar dapat mempersunting saudari kembar kakaknya, namun semata sebagai bentuk ketakwaan dan khidmatnya pada Sang Maha Pengasih.

Saat waktu berkurban tiba, Habil datang dengan seekor kambing gemuk dan sehat. Lembut, menuntun gembalanya. Dengan takzim, ia meletakkan kurbannya di puncak bukit. Tak jauh darinya, sang kakak yang seorang petani, turut menyimpan hasil panennya.

Lain dengan adiknya, ia justru mempersembahkan satu ikat sayuran yang paling buruk dari hasil cocok tanamnya. Di satu sisi, ia tak ikhlas memberikan sayuran yang ditanamnya sendiri. Di sisi lain, dirinya diliputi rasa percaya diri, dialah yang akan menikahi Iqlima. Ia satu-satunya yang berhak melakukannya. Qabil merasa di atas angin.

Namun, Allah Maha Tahu segala isi hati hamba-Nya. Api menyambar kambing milik Habil, pertanda kurbannya diterima. Sedang sayuran milik Qabil, teronggok dibiarkan layu. Tak tersentuh api sedikitpun. Melihat hal itu, Qabil murka. Berapi-api, ia mendorong tubuh sang adik dengan kasar.

“Wahai Habil, aku akan membunuhmu supaya kau tidak bisa menikahi saudari kembarku!” ancam Qabil. Matanya nyalang terbakar amarah.

Habil tak merasa gentar. Jernih suaranya kala ia menjawab, “Bukankah kesalahanmu sendiri, tidak memberikan kurban dengan penuh ketundukan? Aku suguhkan kurban dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk. Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa,”

Sumpah serapah menyembur keluar dari mulut Qabil. Ia tak terima, marah, sekaligus iri akan keberhasilan sang adik ‘merayu’ Allah. Ancaman itu Qabil lontarkan berkali-kali. Pikirannya mendung, tertutup awan gelap kedengkian.

Usai ritual, sang ayah segera mengetahui hasil kurban yang diterima. Adam pun telah diberitahu, bahwa Habil yang akhirnya dapat meminang Iqlima. Dari kurban yang dipilih Allah itu, tahulah Adam bahwa Qabil tak diberkahi.

“Celakalah engkau, Qabil. Kurbanmu tak diterima!” kata Adam.

Putranya merengut. Tanpa mengendalikan nada suaranya, ia berkata tajam pada sang ayah, “Kurban Habil diterima karena engkau berdoa untuknya, dan tidak berdoa untukku,”

Ia kembali menghampiri Habil, mengancamnya untuk kesekian kali. Kemudian, putra pertama Adam itu berlalu dengan gusar.

***

Awalnya, ancaman pembunuhan itu serupa ungkapan keberangan saja. Namun suatu hari, kesempatan itu benar-benar datang. Sang ayah khawatir karena Habil tak kunjung pulang dari menggembala. Maka, Qabil pun diutus untuk mencari putra keduanya itu.

“Malam ini aku akan benar-benar membunuhnya,” gumam Qabil dengan penuh dendam.

Saat ia bertemu dengan adiknya, dengan terus terang Qabil berujar,”Kurbanmu diterima, sedang punyaku tidak. Aku akan membunuhmu,”

Jawaban putra emas Adam itu mengejutkan. “Sungguh, jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.”

Padahal, Habil tahu, andai melawan, ia akan menang dari kakaknya. Ia begitu perkasa. Tubuhnya tegap, berlengan besar dengan otot-otot kekar menggantung. Namun, tidak. Ia tidak mau membalas niat buruk saudaranya dengan perbuatan serupa. Daripada kematian, ia jauh lebih takut pada Sang Pencipta.

“Aku ingin kau mengurungkan niatmu. Karena dengan membunuhku, maka dosamu akan bertambah banyak. Kamu akan menjadi penghuni neraka, dan itulah balasan bagi orang yang zalim,” tak jeri, ia menasihati kakaknya.

Mendengar perkataan Habil, semakin geram sajalah Qabil dibuatnya. Syetan telah membisiki sanubarinya, mendorong Qabil melaksanakan maksud yang terpendam itu. Lalu, ia mengambil batu besar. Sekuat tenaga, dihantamkannya batu itu ke kepala Habil. Duakk! Duakk! Duakk! Demikian kerasnya, hingga kepala Habil pecah.

Demikianlah, pembunuhan pertama umat manusia itu dilakukan. Syahdan, Qabil telah menerima ganjaran langsung atas dosa yang ia perbuat. Kakinya diikat kuat dengan tali temali hingga mencapai paha. Seiring dengan perputarannya, wajah Qabil dihadapkan pada terik matahari.

*Disarikan dari kitab “Kisah Para Nabi” karya Imam Ibnu Katsir

(Aghniya/Alhikmah)

Komentar ditutup.