Growbox, Grow Your Own Food

Growbox, Grow Your Own Food

0 54

 

Rumah berjamur identik dengan kesan kumuh. Bagaimana jika membudidayakan jamur dalam sebuah kotak yang disimpan di sebuah ruang di dalam rumah?

Membuat suatu usaha yang tidak hanya memikirkan orientasi bisnis semata adalah prinsip yang dipegang oleh empat anak muda asal Bandung. Robbi Zidna Ilman, Ronaldiaz Hartantyo, Adi Reza Nugroho dan Annisa Wibi Ismarlanti adalah empat anak muda yang tidak hanya memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis selepas kuliah, tapi juga mereka ingin memberikan edukasi kepada masyarakat urban tentang makanan.

Robbi, kepada Alhikmah, medio Juni 2013 lalu mengatakan, konsep utama Growbox adalah menumbuhkan makanan sendiri di mana pun kita berada, asalkan tempatnya memenuhi syarat. Tempat tumbuhnya jamur cukup dengan sebuah kotak yang terbuat dari kardus yang disimpan di tempat yang lembap dengan tingkat kelembapan 70 derajat.

Bisnis Growbox yang dikembangkan oleh mereka memang mengikuti perkembangan zaman, terutama kota Bandung, yang pembangunannya tidak bisa dihadang. Jikalaupun ada yang berusaha menahan percepatan pertumbuhan kota Bandung, itu pun hanya sebatas gerakan-gerakan kecil.

“Pengembangan para pengusaha tidak melihat secara holistik, maka kami memilih untuk melakukan pendekatan kepada lingkungan. Meski pembangunan tidak bisa dicegah, tetap harus dikendalikan,” kata Robbi.

Menurut alumni jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung itu, Growbox merupakan antitesis dari fast food yang selama ini menjamur di hampir pelosok negeri Indonesia. “Growbox itu slow food. Tujuannya supaya orang menghargai proses makanan yang dikonsumsi mereka,” kata Robbi.

Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya makanan adalah salah satu tujuan utama dari Growbox. Mereka ingin masyarakat paham bahwa menumbuhkan makanan secara pribadi tidak semudah membeli di warung atau pasar swalayan. Sehingga masyarakat bisa lebih menghargai makanan yang mereka konsumsi.

Growbox, kata Robbi, juga turut prihatin dengan fenomena zaman sekarang. Manusia banyak sekali membuang makanan padahal masih banyak yang kekurangan di belahan dunia yang lain. Tingkat waste makanan yang dihasilkan oleh manusia ternyata cukup tinggi juga.

Robbi menceritakan saat timnya sedang melakukan perjalanan ke kota Yogyakarta, mereka sempat bertemu dengan seorang anak yang tidak tahu berasal dari mana potongan daging ayam yang biasa di gerai-gerai ayam crispy.

Menurutnya, ini adalah sebuah anomali di sebuah kota di Indonesia ditemukan seorang anak yang tidak mengetahui asal muasal daging ayam yang dikonsumsinya. “Jawabannya, dari pasar atau dari toko,” kata Robbi.

“Kita juga mengajak anak-anak sekolah untuk berburu jamur di alam terbuka dengan konsep yang menyenangkan. Bagaimana caranya setelah mereka mendapatkan jamur, kemudian mereka menjadi menyukainya. Ini kami namakan eating design,” katanya.

Growbox juga tidak memutuskan hubungan dengan para konsumen mereka. Untuk mengetahui perkembangan produknya, mereka kerap melakukan interaksi dengan para pembeli. Mulai dari konsultasi jika ada konsumen yang mengalami kesulitan mengembangbiakkan jamur sampai mejeng di halaman facebook ‘growboxbdg’.

“Ada yang mendokumentasikan jamurnya mulai pada saat baru dibeli, tumbuh tunas pertama, tumbuh besar hingga jamur tiramnya sudah berubah menjadi jamur crispy. Kami juga mendorong konsumen untuk memberikan nama kepada jamurnya supaya mereka merasa lebih dekat dan memiliki,” kata Robbi.

Mengajak Tanam Sendiri

Kotak jamur sebagai media tanam sengaja dihadirkan supaya masyarakat tidak merasa jijik atau kotor dengan kesan jamurnya. Selain itu sengaja dibuat untuk mengajak masyarakat urban, tergerak menanam sendiri bahan pangan di rumah dengan semboyan tumbuhkan sendiri makananmu.

“Kami memilih jamur tiram karena daya tahan hidupnya kuat, perawatannya mudah, begitu pula tempat hidupnya. Jamur tiram juga sudah banyak dikenal lidah orang Indonesia. Yang kami kembangkan sementara baru jenis jamur tiram putih dan kuning,” ujar Robbi.

Sekotak jamur tiram Growbox bisa panen sebanyak 3-7 kali selama 4 bulan. Hasil panennya semakin lama semakin berkurang karena nutrisi di baglog jamur semakin menyusut. “Setiap panen pertama bisa menghasilkan 150-200 gram jamur. Rata-rata panen di hari ke-15,” katanya.

Sementara itu, Annisa menambahkan bisnis Growbox harus memiliki nilai tambah bagi konsumen di samping keuntungan yang dihasilkan. Menurut perempuan yang aktif di komunitas Sahabat Kota ini, dalam melaksanakan sebuah bisnis harus memikirkan dampak ke depannya. “Kita harus punya solusi dari masalah yang ada di masyarakat,” katanya.

Jamur, kata Annisa, di masa yang akan datang terancam menjadi super food dan menjadi sumber protein utama di masa depan, karena habitatnya terbanyak kedua setelah serangga. Memang kandungan protein pun terdapat di kedelai yang biasa dikonsumsi dalam bentuk tempe dan tahu.

Dan jika dibandingkan lagi dengan daging sapi,  untuk menumbuhkan satu kg daging sapi dengan satu kg jamur, dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk sapi. Amoniak yang dihasilkan sapi juga menyebabkan efek rumah kaca.

“Namun jika mengingat kedelainya diimpor dari AS maka di masa yang akan datang ada kemungkinan harga kedelai akan semakin meninggi. Sedangkan jamur sifatnya lokal dan ini bisa didapatkan di mana saja,” katanya.

(Daulat Fajar Yanuar)