Gerakan Wakaf Para Sahabat Nabi

Gerakan Wakaf Para Sahabat Nabi

Bahkan, kata sahabat senior Jabir bin Abdillah, “Tidak ada seorangpun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kemampuan, kecuali mereka berwakaf.

ALHIKMAH.CO–Pembaca, pada Alhikmah edisi Wakaf (harus) Produktif, kita tahu bahwa sampai saat ini pemerintah Saudi memiliki rekening tabungan atas nama Utsman bin Affan yang berasal dari pelbagai wakaf produktif Utsman yang awalnya hanya sepetak sumur.

Tanah tersebut dibangun Hotel bintang lima hasil wakaf Utsman. Hotel milik Utsman bin Affan pun kini berdiri kokoh di samping Masjid Nabi. Peziarah berdatangan menginap di sana, hingga omset hotelnya bisa mencapai puluhan juta per bulan. Setengah keuntungannya lagi-lagi digunakan untuk kegiatan sosial.

Setengahnya lagi, disimpan di rekening atas nama Utsman bin Affan. Subhanallah, walau jasad tertimbun tanah, namun amal Utsman bin Affan terus mengalir. Manfaatnya terus dirasakan hingga kini. Hotel dan Rekening atas nama Utsman, menjadi saksi kedermawanan sahabat nabi ini.

Namun, tak hanya Utsman. Bisa dibilang para sahabat Nabi pun berlomba-lomba untuk mewakafkan apa yang mereka punya. Imam As-Syafii mengatakan “Masyarakat jahiliyah tidak pernah melakukan wakaf. Yang melakukan wakaf hanya kaum muslimin.” (Manarus Sabil, 2/3).

Bahkan, kata sahabat senior Jabir bin Abdillah, “Tidak ada seorangpun sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kemampuan, kecuali mereka berwakaf. (Ahkam al-Auqaf, Abu Bakr al-Khasshaf, no. 15 dan disebutkan dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/29).

Tak ada yang bisa menandingi kesungguhan para sahabat ketika berwakaf. Kita tahu, sahabat Abu Thalhah yang sangat mencintai kebun-kebunnya. Ketika firman Allah sampai di telinganya, Abu Thalhah berpikir mendalam.

Ayat,”“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.” (QS. Ali Imran: 92) membuatnya bergetar. Cepat-cepat ia datangi sang Nabi menyampaikan isi hatinya, bahwa ia sangat mencintai kebunnya.

“Ya Rasulullah, Allah berfirman, ‘Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian menginfakkan apa yang kalian cintai’. Sementara harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairuha. Ini saya sedekahkan untuk Allah. Saya berharap dapat pahala dan menjadi simpananku di sisi Allah. Silahkan manfaatkan untuk kemaslahatan umat.,” kata Abu Thalhah.

Sang Nabi langsung memuji Abu Thalhah. ““Luar biasa, itu kekayaan yang untungnya besar… itu harta yang untungnya besar. Saya telah mendengar apa yang anda harapkan. Dan saya menyarankan agar manfaatnya diberikan kepada kerabat dekat,” kata Rasulullah.

Ada pula kisah yang disebut sebagian ulama sebagai wakaf pertama. Ibnu Umar menceritakan, bahwa ayahnya Umar bin Khatab, mendapatkan jatah bagian kebun di Khaibar. Beliaupun melaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ya Rasulullah, saya mendapatkan kebun di Khaibar. Saya tidak memiliki harta yang lebih berharga dari pada itu. Apa yang anda perintahkan untukku?”

Saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “jika mau, kamu bisa wakafkan, abadikan kebun itu, dan hasilnya kamu sedekahkan.”

 Kemudian Umar mewakafkannya. Kebun itu tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Hasilnya disedekahkan untuk fakir miskin, kerabat, budak, para tamu, dan Ibnu Sabil. Dan boleh bagi yang mengurusi untuk mengambil sebagian dari hasilnya, sewajarnya, dan makan darinya, bukan untuk memperkaya diri dengannya. (HR. Bukhari 2737, Muslim 4311 dan yang lainnya).

Dan yang cukup kesohor adalah kisah wakaf Utsman bin Affan. , “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala,” kata Rasulullah saat Madinah kekeringan. (HR. Muslim)

Tetiba, siapa lagi kalau bukan pengusaha kesohor Madinah, sahabat terbaik nabi setelah Abu Bakar dan Umar, yang segera menyambut seruan sang Nabi. Utsman Ibn Affan langsung mendatangi si Yahudi tersebut. Ia segera menawari harga sangat tinggi, hingga puluhan ribu dinar! Singkat cerita, sumur tersebut dibeli oleh Ustman dan diwakafkan.

Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka semua Gratis! Rakyatpun berbondong datang ke sumur Utsman.

Utsman pun secara resmi mewakafkan sumur raumah tersebut untuk kaum muslimin. Per detik itu, sumur dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat, seluruh rakyat Madinah. Sumur itu menjadi sumber mata air lahan sekitarnya, hingga ditanam kebun kurma. Rakyat Madinah memanfaatkan kurma untuk berdagang, dan hasilnya dimanfaatkan untuk umat.