Gema ANNAS Ungkap Ajaran Syiah yang Disisipkan di Kurikulum Pendidikan Kita

Gema ANNAS Ungkap Ajaran Syiah yang Disisipkan di Kurikulum Pendidikan Kita

0 128

ALHIKMAH.CO – Ajaran Syiah itu infiltrasinya diserap sehingga tidak terasa, begitupun ketika disisipkan pada kurikulum pendidikan. Banyak yang tidak sadar bahwa di dalamnya telah terdapat akidah Syiah. Pernyataan ini diungkapkan Adjeng Kristinawati saat mengisi acara kajian rutin Majelis Taklim Miska di Demoss Hijab and Fashion, Jalan Buah Batu  No 149 Bandung, Senin (09/03/2015).

“Berdasarkan data ilmiah yang diperoleh LITBANG Gema Annas (Gerakan Muslimah Aliansi Nasional Anti Syiah), pada kurikulum 2013 buku teks Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk kelas 1 SD/MI dengan kontributor naskah Ahmad Hasim dan Otong Jaelani, di bab rajin belajar ada sebuah dialog “Ali rajin belajar dan Fatimah rajin belajar, Ali dan Fatimah menjadi anak pintar” isinya tidak masalah, tetapi kalau kita belajar parenting intelegensi kita pasti akan tahu maksudnya apa,” tegas Adjeng yang merupakan Ketua Gema ANNAS.

Menurut Adjeng, pada parenting itu dijelaskan bahwa di tujuh tahun pertama anak itu mengidolakan seseorang, jadi anak kita digiring untuk mengidolakan Ali daripada Muhammad. Intrepensinya, menjadikan Ali sebagai role model menguatkan propaganda Syiah yang memaksa umat Islam bahwa Ali memiliki keuatamaan dari sahabat lain, sehingga diyakini Ali paling berhak dijadikan imam setelah Rasulullah, maka pencatuman dua nama ini akan menimbulkan persepsi ganda antara guru dan siswa.

“Data ilmiah berikutnya, buku teks dan pengayaaan PAI dan Budi Pekerti kelas IV SD/MI, kontributor naskah Bukhori Ismail, penerbitnya Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, cetakan kesatu tahun 2013. Interpensi nama subjeknya bukan hanya Ali dan Fatimah tetapi semua nama Ahlul Bayt mulai diperkenalkan seperti Hasan dan Husein,” ungkap ketua Majelis Miska, Adjeng.

Ia menuturkan, yang paling mengagetkan pada buku pengayaan kelas XI SMK masih di mata pelajaran yang sama, Penerbit Erlangga. Pada QS An Nisa 59, jumhur mufasir mengatakan, arti ulil amri itu maksudnya “pemegang kekuasaan di antara kamu, kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)”

Sedangkan pada buku tersebut, imbuh Adjeng, arti dari ulil amri,  adalah imam-imam di kalangan ahlul bayt, keluarga Nabi, keturunan Ali-Fatimah. Dan ada pula yang mengatakan penyeru-penyeru pada kebaikan.

“Ini sangat menyesatkan, Ibu pasti tidak akan ikhlas kalau akidah anaknya disesatkan, tolong kasih tahu teman-teman kita yang mempunyai anak kelas XI SMA terkait buku tersebut,” ujarnya. (Dita/Alhikmah)