Fatmah Bahalwan: Meniti Rezeki dari Kantor, ke Dapur

Fatmah Bahalwan: Meniti Rezeki dari Kantor, ke Dapur

0 72
pic source: rasamasa

 

Ketika merasa karir Anda berhenti di tempat, cobalah pergi ke dapur. Barangkali rizki Allah tersembunyi di sana…

Fatmah Bahalwan melihat kerusuhan itu dari atas gedung pencakar langit. Orang-orang menyemut, tak terhingga banyaknya. Spanduk-spanduk yang dibentangkan bernada meminta presiden turun. Huru-hara di mana-mana. Orang-orang berkoar beringas, meski tak jelas meneriakkan apa. Mendadak saja, di mata Fatmah, Jakarta bukan lagi kota yang aman.

Kala itu tahun 1998. Krisis moneter mencekik rakyat kecil. Harga-harga barang yang meroket tak sesuai dengan daya beli masyarakat. Mahasiswa berbondong-bondong turun ke jalan. Menggemparkan benteng-benteng kokoh birokrasi yang awalnya tak tersentuh.

Fatmah tengah di ruang kantornya, lantai 15 salah satu gedung besar di pusat kota Jakarta. Duduk nyaman dengan perangkat komunikasi di sekelilingnya. Sesekali melirik suasana rusuh di bawah sana, ia mencermati berita di televisi tak jauh di hadapan. Rupanya, krisis ekonomi Asia telah menggerogoti pula PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Ribuan orang kena PHK.

Wajah wanita bermata sembab memenuhi layar kaca. Tersengguk-sengguk karena menangis. Di sisinya, sang suami kelu, nampak kelelahan. “Suami saya terkena PHK! Bagaimana nanti kami hidup? Dari mana kami dapat biaya sekolah untuk anak-anak?” ratapan wanita itu nyaris histeris.

Saat itu juga, dahi Fatmah mengkerut dalam. Mulutnya berdecak protes. Ada yang salah dari hal yang dikatakan wanita itu, pikirnya. Bagaimana mungkin, seorang istri menumpahkan keluhan luar biasa, di samping suaminya yang tengah berduka karena kehilangan pekerjaan?

“Ketika suami berada dalam keadaan terpuruk, seharusnya istri mendukung!” tukas Fatmah berapi-api, diwawancarai Alhikmah di Pesta Wirausaha 2016 beberapa waktu lalu.

Ia sendiri, sebetulnya dalam keadaan sulit. Meski sama-sama bekerja, anjloknya nilai rupiah berdampak juga pada kehidupan Fatmah dan suami. Tapi bagi Fatmah, alangkah dosanya, betapa salahnya jika seseorang menganggap rezeki itu datang hanya dari satu pintu.

“Karena Allah menurunkan rezeki, dari pagi hingga pagi lagi, dari jalan yang tak pernah kita tahu. Kenapa harus meratap seperti itu, seakan esok kiamat,” katanya.

Fatmah, juga ribuan orang lainnya kala itu, dihadapkan pada dua pilihan: hidup berhemat atau menambah penghasilan. Tak mau menyengsarakan anaknya yang masih kecil, ia pun bertekad harus melakukan sesuatu.

Kebetulan, saat itu sang bos mengizinkannya mencari tambahan uang. Sekian lama berpikir, Fatmah memutuskan memakai kepiawaiannya memasak saja sebagai ladang rezeki. Ia pun mengumumkan pada rekan-rekannya, bahwa ia akan  berjualan. Empat loyang bolu tape Fatmah bawa ke kantor. Tak perlu lama-lama, bolu tape itu langsung ludes.

Mulanya hanya empat loyang, lalu setiap minggu ia tambah jumlah produksinya dua kali lipat. Delapan, enam belas, tiga puluh dua loyang, dan seterusnya. Fatmah percaya diri. Bukan hanya kue, ia merambah ke makanan-makanan lainnya.

Dan memang, hasilnya tak mengecewakan. Panganan buatan Fatmah kian tenar, bahkan ia dipercaya untuk mengurus coffee break internal kantor. Karena keuletannya, tambahan sebesar 750 ribu bisa ia kantongi setiap bulan. Jumlah yang cukup besar kala itu.

“Ketika merasa karir Anda berhenti di tempat, cobalah pergi ke dapur. Barangkali rizki Allah tersembunyi di sana,” kata Fatmah.

Seiring waktu, jam terbang memasak Fatmah makin tinggi. Apalagi, ditambah dengan pesanan jaringan-jaringan konsumen yang terus ia bina, baik dari milis maupun komunitas. Ia bersyukur, namun di sisi lain, Fatmah galau. Kesibukan baru itu menjadikannya harus lebih cermat membagi waktu agar tak menyita tugas kantor.

Dengan pesanan yang terus membludak, pekerjaan di kantor terusik juga. Tak jarang, Fatmah terpaksa telat, bahkan izin tak masuk. Perlu waktu beberapa tahun, hingga akhirnya ia benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan kantoran. Pada 2004, ketika dolar terhempas di angka 10 ribu rupiah, Fatmah mengazamkan diri menjadi entrepreneur sejati.

Bisnis itu bernama Natural Catering, sebuah usaha kuliner yang ia bangun dari uang pesangon perusahaannya dulu. Di awal pendirian, ia masih merasa kehilangan rutinitas sebagai pekerja kantoran. Dan hal itu bertambah berat, ketika sebuah cobaan menerpa.

Ramadhan tahun itu, ia mendapat order menu buka puasa selama satu bulan. Baru berjalan dua hari, pihak pemesan membatalkan order. Padahal, ia sudah membeli beragam bahan dan mempersiapkan menu dengan sebaik-baiknya. Bukan main kecewanya Fatmah. Kerugian terpaksa ia telan.

“Tiga bulan pertama saya membangun Natural Catering, adalah masa tersulit,” ujar Fatmah.

Akan tetapi, tak perlu lama-lama baginya untuk bersedih. Dukungan penuh sang suami membangkitkan kembali semangatnya. Fatmah mencoba memahami, ujian-ujian yang menerpanya adalah konsekuensi atas pilihan yang ia ambil. Atas kejadian ini, ia semakin fokus membesarkan bisnis.

Fatmah pun terus melebarkan jaringannya. Ia kian aktif di dunia maya, bahkan setahun kemudian, Fatmah mencetuskan milis bagi para pecinta kuliner bernama Natural Cooking Club (NCC). Dari komunitas ini, ia justru mendapat pasar yang besar.

Kepiawaian Fatmah memasak memang tak usah diragukan lagi. Kini, puluhan juta perbulan bisa ia dapatkan. Namun, ini tak membuatnya berbangga diri. Semakin mahir memasak, ia justru ingin membagi keahlian pada khalayak. Tak heran, jika dari komunitas NCC, ia kerap berbagi ilmu, saling tukar menu, bahkan membuka kursus memasak.

Milis yang ia didirikan itu rupanya tumbuh besar. Kegemaran membagi ilmu menjaring anggota-anggota baru. Saat ini, NCC telah memiliki 18 ribu anggota dari seluruh Indonesia. Dari komunitas ini pula, lahir pengusaha-pengusaha baru di bidang kuliner. Risihkah ia dengan kemunculan sekian banyak pesaing?

Tidak, Fatmah justru berbangga hati telah melahirkan foodpreneur baru. ”Saya justru senang kalau orang lain berhasil karena saya. Tidak perlu takut, rezeki sudah ada yang mengatur,” tandasnya. (Aghniya/Alhikmah)