Etika Berpakaian yang Bukan Sekadar Menutupi

Etika Berpakaian yang Bukan Sekadar Menutupi

0 120
ilust_from iyaa.com

ISLAM mengatur etika dalam berpakaian, baik dalam segi penampilannya. Karena itu, berpakaian bagi seorang muslim tidak hanya berfungsi untuk melindungi badan, tetapi juga sebagai identitas. [i]

Menurut syariat Islam, pakaian adalah barang yang digunakan untuk menutupi aurat seseorang. Dalam hal ini, Imam Ali al Shabuni menjelaskan lima kriteria pakaian yang sesuai dengan ajaran syari’, di antaranya :

  1. Dapat menutupi seluruh aurat. Aurat bagi kaum perempuan meliputi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Sedangkan bagi kaum laki-laki hanya sebatas antara lutut dan pusar
  2. Tidak terlalu indah dan menarik perhatian.
  3. Tidak diberi wewangian yang dapat menggelitik birahi lawan jenis [ii]
  4. Tidak transparan, tidak terlalu ketat dan sekira bisa menutupi warna kulit. Dari Abu hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya, pertama penguasa yang kejam, kedua, perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang…” (HR. Muslim).

Mereka dikatakan berpakaian, karena mereka melilitkan pada tubuhnya. Tetapi pada hakikatnya, pakaian itu tidak berfungsi menutup aurat. Karena itu, mereka dikatakan telanjang (pakaiannya terlalu tipis).

  1. Tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Rasulullah SAW pernah mengumumkan, “bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki, begitu juga sebaliknya,” (HR.Ahmad). [iii]

Selain kelima kriteria tersebut, dalam etika berpakaian, hendaknya mendahulukan anggota yang kanan. Sedangkan bila melepaskannya hendaklah didahulukan yang kiri. Sebab, mendahulukan anggota badan yang kanan dalam segala perbuatan, hukumnya sunnah. Keterangan ini merujuk pada hadits berikut: Dari Abu Hurairah ra, Rasullullah SAW bersabda : “Kalau kamu memakai sandal pasang yang kanan terlebih dahulu tetapi kalau membukanya yang kiri buka dahulu. Jadi yang kanan adalah yang pertama dipasang dan yang terakhir dibuka,“ (HR. Bukhori). [iv]

[i] Mahmud Sya’roni, (2006), Cermin kehidupan Rasul. Semarang: Aneka Ilmu, hlm. 70

[ii] M. Hammam Mihrom, dkk. (2010) Santri Lirboyo Menjawab,  Kediri: Pustaka Gerbang Lama, hlm. 281

[iii] Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, Surabaya: PT Bina Ilmu, hlm. 108, 112-113

[iv] Mahmud Sya’roni, op.cit., hlm. 70