Erie Sudewo: Tentang Mustadh’afin, dan Sedekah Para Pemimpin

Erie Sudewo: Tentang Mustadh’afin, dan Sedekah Para Pemimpin

0 30

Ia meyakini, esensi dari sedekah tidak sekadar memberikan separuh harta. Lebih dari itu, sedekah bermakna berbuat baik dan memberikan manfaat bagi sesama.

Telah tiga perempat dekade. Erie Sudewo melenggang ke muka panggung. Orang-orang bertepuk tangan riuh, kala ia diganjar anugerah Social Entrepreneur of The Year 2009 oleh Ernst & Young. Bukan simpul perjalanan. Hanya serupa hadiah, atas jerih payahnya melakoni lika-liku perjalanan sosial di negeri ini selama bertahun-tahun.

Ya, memang sedikit saja yang tahu bagaimana ia mencecap asam garam perjuangan menyejahterakan kaum papa. Kemiskinan yang mengakar, berkawan karib dengan ketidakberdayaan dan keterbelakangan, telah sejak lama Erie amati. Namun, jiwa kemanusiaannya semakin tergugah saat itu…

Erie masih bekerja sebagai jurnalis kala itu. Bersama kawan-kawan seprofesi, ia tengah menggalang donasi untuk anak-anak jalanan di Yogyakarta. Sejumlah barang, mulai dari tas, alat tulis, hingga pakaian yang disiapkan sebagai santunan. Aksi sosial, yang membangkitkan lebih banyak keresahan di benaknya.

Ia tahu, kebiasaan memberi masyarakat Indonesia telah lama dilakukan. Tapi agar bisa memberikan pengaruh yang signifikan, santunan tersebut perlu dikelola dengan sistem yang terpercaya dan akuntabel. Mengapa? Agar bentuk bantuan itu tak habis begitu saja. Tapi, memiliki dampak jangka panjang, dan menjangkau lebih banyak lagi rakyat yang membutuhkan.

Lalu, terpikirlah oleh Erie untuk menciptakan sistem distribusi dan pengelolaan harta yang didasarkan pada konsep Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF). Dengan populasi muslim di Indonesia yang menjadi salah satu terbesar di dunia, tentu potensi ZISWAF-nya tak bisa diabaikan. Sayang, potensi untuk meretas kemiskinan itu berupa wacana saja.

“Tahun ‘90-an, masyarakat menganggap lembaga ZISWAF bukan hal yang umum. Sebab sampai saat itu belum ada satu lembaga pun yang dianggap layak menjadi representatif pengelolaan ZISWAF. Sampai pada 1993, saya mendirikan Dompet Dhuafa,” kisah Erie, yang juga dewan pembina Sinergi Foundation ini.

Namun Erie, mengubah paradigma filantropi yang waktu itu dipahami masyarakat. Tak disalurkan untuk dipakai masyarakat dhuafa secara konsumtif, tapi membentuk lembaga pengelolaan yang memberi berbagai manfaat, berupa layanan seperti kesehatan, atau pendidikan yang terjangkau. Seluruh program dikembangkan dengan prinsip kemandirian dan keberlanjutan.

Satu langkah yang mengubah wajah filantropi di Indonesia. Erie membuktikan dana ZISWAF bisa menjadi penggerak perubahan sosial-ekonomi yang selama ini carut marut.
Tahun-tahun berikutnya, ia tak berhenti di satu gerakan saja. Untuk menggelorakan urgensi sedekah dan zakat, Erie kemudian mendirikan Forum Zakat (FOZ) pada 1997. Maksud pendirian forum itu adalah untuk menciptakan kesadaran yang lebih besar tentang pengelolaan organisasi zakat di seluruh Indonesia. Juga, mewadahi lembaga-lembaga yang bervisi menyejahterakan rakyat.

Ada satu kisah. Suatu hari di tahun 1998, seorang ulama cum cerdik-cendekia dari Mesir diundang ke sebuah acara di Indonesia. Di hadapan khalayak ramai, Erie dengan jubah jurnalisnya menanyakan sesuatu yang menggelitik cendekiawan tersebut, “Apakah rakyat Indonesia bisa mengumpulkan dan mengelola dana zakat, yang merupakan syariat Islam?”
Jawaban ulama tersebut tegas. “Ya. Buat saja sistemnya, khusus untuk mengelola zakat.”

Erie Sudewo tersenyum menang kala kalimat itu terlontar ke muka hadirin. Sejak itu, ia kian giat mengatur sistem ZISWAF. Baginya, itu adalah momen yang tepat untuk membuat perubahan, terutama di depan pemerintah demokratis yang meraup suara dari rakyat Indonesia yang mayoritas muslim.

Namun, meski pengaruhnya besar, Erie sadar zakat saja belum mampu menjadi solusi kemiskinan di negeri ini. Kemiskinan di Indonesia, menurutnya, telah menghujam hingga ke akar-akarnya. Bahkan bisa dikatakan, rakyat menjadi korban sekaligus pelaku dari kemiskinan struktural.

“Kemiskinan struktural ini salah satunya karena kebijakan. Misal kebijakan ekspansi bisnis, dan lain-lain,” kata peraih anugerah “Tokoh Perubahan” oleh Republika ini.
Berbicara kemiskinan jenis ini, ia menuturkan, harus dilawan balik dengan kebijakan yang meretas persoalan tersebut. Tak cukup diselesaikan dengan pendekatan sosial.

Konteks muzakki yang membayar 2,5% dari hartanya, adalah tataran personal. Setiap muslim wajib mengeluarkannya. Namun, sebagai pemimpin yang memangku banyak kepentingan rakyat, zakat atau sedekahnya berbeda lagi. Ia harus berbentuk kebijakan yang membahagiakan masyarakat.

Kebijakan, katanya, adalah sedekah pemerintah yang bersifat non-material. Aktivitas sosial, hanya bertindak sebagai pendorong dari kebijakan itu. Sebab itu, ia menilai perlunya sinergi antara kebijakan pemerintah dan lembaga-lembaga sosial.

“Di Indonesia, miskin itu tidak berbicara si dhuafa tidak memiliki satu-dua harta. Tapi ketidakmampuan mengelola sumber daya dan kebijakan. Sumber daya negeri ini melimpah ruah, tetapi tidak bisa menyejahterakan rakyatnya. Penanggulangan kemiskinan harus dengan kebijakan.” jelas Erie.

Pria yang disebut Inovator Sosial ini meyakini, esensi dari sedekah tidak sekadar memberikan separuh harta. Lebih dari itu, sedekah bermakna berbuat baik dan memberikan manfaat bagi sesama. Dalam konteks ini, pemerintah berbuat baik pada rakyat melalui kebijakan. Pun dengan contoh lain, seperti jurnalis melalui tulisannya, atau orang tua dengan kasih sayangnya.

Dan khidmatnya sebagai pegiat sosial, adalah representasi dari sedekahnya sebagai manusia. Kini, di usianya yang menginjak 59 tahun itu, ia terus melebarkan sayap manfaatnya. Tak hanya produktif menulis, ia juga mengambil berbagai peranan penting dalam organisasi-organisasi sosial di Indonesia.

Pula, guna melahirkan pemimpin bangsa berkualitas di tengah para pemuda, ia kerap menjadi pembicara dalam training pembangunan karakter. Pembaca, jangan hanya mengapresiasi. Mari kita teladani, dan mendoakan agar Erie Sudewo terus istiqomah dengan perjuangannya. Aamiin.  (agh)