Empati, Berujung Gemar Berbagi

Empati, Berujung Gemar Berbagi

0 36
pic david-pranata web

 

Selain pahala yang berlipat ganda, saya pun yakin sekali ada nilai keberkahan yang tersembunyi di balik sedekah. Keajaiban-keajaiban yang luar biasa, di luar nalar manusia.

Masih teringat, saat masih mengenyam sekolah dasar. Seorang teman sekelas bersedih hati karena tak memiliki pensil. Lalu, mengikuti dorongan hati, saya bawa dia ke toko penjual alat tulis. Membiarkan dia memilih pensil yang disukai. Uang jajan rela saya keluarkan demi menolongnya.

Pembaca, sejak kecil, orang tua dan keluarga besar saya tak pernah secara langsung mengajari arti kata empati. Namun, tanpa diajari pun, saya telah melihat itu dari sikap keseharian mereka. Empati yang berujung pada rasa senang berbagi.

Mereka, terutama ibu dan nenek, bisa dibilang terbiasa royal pada orang lain. Ada saja yang ingin dibagi dengan orang lain meski sedikit. Tanpa mereka sadari, sikap dermawan itu mengalir hingga ke darah saya.

Sebetulnya, jika ditanya alasan bersedekah atau berbagi, saya sendiri sering tak tahu jawabannya. Saya pikir, ini sesuatu yang tak perlu dicari alasannya, sebab ia datang dari hati.

Saya hanya mencoba menempatkan diri. Dalam hidup, seseorang pasti pernah berada di posisi yang serba kekurangan. Saya coba membayangkan, andai saya berada dalam posisi orang itu. Tentu hidupnya sulit sekali. Dan saat ada orang yang membantu, perasaan itu berganti haru, juga bahagia.

Bisa jadi, kita hanya membagi sedikit, namun sangat berarti besar bagi orang lain. Uang sepuluh ribu rupiah yang bagi kita biasa saja, bagi para pengemis pastilah luar biasa berarti. Dari mencoba memahami ini, rasa empati saya mulai terasah.

Pembaca, membaca tulisan ini, tolong jangan bayangkan saya adalah orang yang kaya raya. Tidak, tidak seperti itu. Hanya seperti saya bilang, rasa empati itu telah terasah. Namun, setiap bulan, saya pastikan sedekah pada sesama menjadi rutinitas.

Berbagi sebenarnya tidak hanya sebatas materi. Kata Rasulullah, bukankah senyum juga adalah sedekah? Bayangkan, senyum dengan tulus saja bisa menjadi ibadah. Apalagi jika berbagi sesuatu yang berbentuk fisik. Bersedekah dengan tujuan membantu sesama, sungguh kata yang indah…

Berangkat dari fragmen-fragmen pengalaman dan pelajaran itu, saya tak pernah lepas dari kata berbagi. Bahkan, dengan kondisi sulit yang saya alami saat ini. Sampai ada yang bertutur nyinyir, “Kamu sendiri keadaannya lagi kekurangan, kok masih ngurusin orang lain!”.

Yaah, bukan saya tak sadar. Kalau dalam kondisi lapang, memberikan sesuatu tentu gampang-gampang saja. Tapi saat sempit, setan merongrong kita. Jangan-jangan kalau saya memberikan harta, hidup kita tidak akan cukup?

Saya tanyakan hal ini pada seorang ustaz. Katanya, dengan hati kita ingin memberi saja, Allah sudah memberi pahala. Dan tentu nilai pahalanya akan berbeda, tergantung dengan kondisi kita. Memberi di kala sempit, ada ganjaran dan hikmah yang jauh lebih bermakna.

Maka, jawaban saya pada orang-orang yang nyinyir itu, satu kalimat saja. Saya takut kalau tidak memberi. Titik. Justru dengan berbagi, saya seakan diberi kekuatan oleh Allah.

Selain pahala yang berlipat ganda, saya pun yakin sekali ada nilai keberkahan yang tersembunyi di balik sedekah. Keajaiban-keajaiban yang luar biasa, di luar nalar manusia. Dan itu, saya alami sendiri.

Begini ceritanya. Beberapa waktu lalu, anak saya mau masuk ke SMP. Saya sudah minta izin ke suami, meminta uang untuk les. Namanya juga ikhtiar, agar kami tak perlu terperangkap dalam penyogokan sekolah yang ramai dibicarakan. Sebagai ikhtiar ekstra, saya juga mulai bersedekah. Saya pernah dengar nasihat Ustaz Yusuf Mansur, jika bersedekah, Allah akan memudahkan perkara hamba-Nya.

Saya pun menyatakan ini kepada suami, selalu ada kuasa Allah SWT yang terjadi yang di luar nalar kita sebagai manusia. Ya, siapa yang tahu, hasil UN anak saya ternyata tertukar karena saking banyaknya, yang menyebabkan nilainya tak sepadan dengan hasil belajar selama ini. Sedekah ini, semata pemulus perjalanan saja.

Sebab itu, saya coba minta pula anak-anak untuk bersedekah. Ketika anak saya hendak pergi ujian, saya minta ia menyisihkan uang. “Ayo sisihkan uang jajannya, nanti sambil diniatkan dan berdoa pada Allah ya!”

Dan alangkah kagetnya, anak saya memberikan lebih dari separuh uang sakunya. Saya paham, anak-anak kan masih suka jajan. “Waduh, apa gak kegedean?” tanya saya.

Tapi sambil tersenyum, dia menjawab, “Tidak apa-apa, kan nanti juga dapat lagi,”

Dan berkah sedekah itu, akhirnya dirasakan. Alhamdulillah, anak saya masuk ke SMP favorit di Bandung melalui jalur prestasi. Allah telah memudahkan jalannya menimba ilmu. Ketika anak-anak lain khawatir nilainya tak mencukupi untuk masuk ke sekolah pilihan, buah hati saya ini sudah dapat jatah kursi.

Pembaca, apalah artinya harta yang selama ini saya beri. Tidak ada apa-apanya sama sekali dibanding kisah para sahabat Rasulullah yang pernah saya dengar. Mereka adalah orang-orang yang kaya, dan rela karena seluruh hartanya disedekahkan demi agama Allah.

Mungkin saat ini, saya tengah dilanda masalah, tapi insya Allah hasrat untuk memberi itu tidak akan putus. Malah, harus lebih. Dan sebenarnya, saya khawatir menceritakan kisah ini. Namun, saya yakinkan hati bahwa ini bukan riya. Sekadar berbagi inspirasi, semoga Anda dapat memetik hikmah di dalamnya.

Seperti dikisahkan ER pada jurnalis Alhikmah, Dita Fitri Alverina.