DPD : Jangan Ada Lagi Buku Ajar yang Merusak Generasi Muda

DPD : Jangan Ada Lagi Buku Ajar yang Merusak Generasi Muda

0 24

ALHIKMAH.CO,– Setelah publik dikejutkan dengan buku ajar sekolah dasar bermuatan pornografi beberapa waktu lalu, kini muncul lagi buku ajar kelas X dan XI SMA mengandung materi yang sangat berbahaya karena menanamkan rasa kebencian. Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Fahira Idris mengatakan harus ada solusi konkret agar tidak ada lagi buku-buku ajar yang berpotensi merusak generasi muda.

“Kita jangan jadi seperti pemadam kebakaran yang baru sibuk setelah kejadian. Buku-buku seperti ini tidak akan beredar kalau ada mekanisme seleksi yang ketat. Bagi anak-anak kita, semua materi dalam buku ajar yang mereka terima dari sekolah adalah sebuah kebenaran. Ini bahaya,” tegas Senator Asal DKI Jakarta ini di Komplek Parlemen Senayan -Jakarta, Selasa (24/03/2015).

Fahira berpendapat, buku ajar adalah buku yang dirancang untuk diajarkan kepada murid di kelas yang disusun dan disiapkan dengan cermat oleh ahli atau pakar dalam bidang ilmu tertentu. Buku ajar bertujuan intruksional dan dilengkapi dengan sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah-sekolah sehingga menunjang suatu program pengajaran.

“Saya pribadi mau memertanyakan di mana peran penerbit dalam menyeleksi dan mengedit naskah buku ajar ini? Di mana peran Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang tugasnya menilai kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan buku teks pelajaran? Kenapa materi berbahaya seperti ini bisa lolos?” tanya Fahira.

Menurut Fahira, buku ajar yang ada di sekolah setidaknya harus memuat beberapa kriteria. Antara lain membuat peserta didik paham makna dan hasil yang diharapkan; memotivasi belajar tanpa dipaksa; mendorong anak memiliki perhatian terhadap apa yang dipelajari; mendorong pola belajar yang mandiri; dan membuat peserta didik menemukan nilai dan etika yang relevan dengan kehidupan kekinian dan moral yang berlaku.

“Semuanya itu menyatu dan mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia pelajar kita. Jadi menyusun buku ajar itu tidak boleh sembarangan apalagi menyesatkan. Buku ajar itu harus punya kemampuan menyadarkan siswa bahwa sesuatu yang salah itu salah walaupun bertentangan dengan pendapat umum. Penyusun buku ajar harus paham filosofi ini, kalau tidak bisa kacau dunia pendidikan kita,” tukas aktivis sosial yang concern terhadap persoalan generasi muda ini. (pnurullah/alhikmah/rilis)