Dokter Sampah, dan Apresiasi Pangeran Britani

Dokter Sampah, dan Apresiasi Pangeran Britani

0 54

 

Tidak ada kebaikan yang sempurna tanpa kesabaran, karena kesabaran adalah nafas yang menentukan lama atau tidaknya sebuah kebaikan

Limbung. Tangisnya meledak, menggema sampai penjuru kampung. Tersedu-sedu, bahunya gemetar hebat. Orang-orang di sekitar menatap pria itu iba. Beberapa berusaha menenangkan. Ah, andai mereka berada di posisinya… Merasakan hancurnya hati saat mengetahui orang yang dikasihi telah meregang nyawa…

Di pangkuannya, terbaring putri terkasih. Tidur dengan damai sampai Sang Maha Kuasa membangkitkannya kelak. Nisa, orang memanggil. Pria itu masih tersengguk.  Ia tahu, kondisi sang buah hati tengah tak baik. Berulang kali mengatakan dirinya merasa kram perut, bahkan sempat demam tinggi.

Siapa sangka, Nisa yang ia kira hanya terkena diare biasa, meninggal dalam keadaan nahas. Padahal pagi tadi, sungging senyum Nisa masih terngiang saat ia beranjak bekerja. Tetap menyemangati ayahanda, meski tubuhnya masih lemas.

Pria itu meringis. Ia tahu sang putri menderita. Diberinya saja obat-obatan di warung dekat rumah, meski tak terlalu mempan. Sebetulnya, bukan ia tak mau membawa Nisa berobat. Apalah dia ini, hanya seorang pemulung. Untuk menyambung hidup saja kesulitan, apalagi mengobati penyakit putrinya!

Tapi saat  pulang, alangkah kagetnya ia mendapati Nisa terbujur kaku di antara tumpukan kardus! Sekejap saja, pria itu merasa separuh jiwanya terenggut. Getir…

***

Tahun 2009. Gamal Albinsaid masih duduk di bangku kuliah kala mengetahui kisah itu. Sungguh pilu hatinya, membayangkan nasib Nisa. Ada berapa banyak lagi orang-orang miskin yang terpaksa menelan pil pahit kehidupan karena keterbatasan finansial? Sungguh belenggu ekonomi menghalangi orang-orang ini mendapatkan layanan kesehatan yang baik.

Pikiran Gamal mengembara. Ia merenungi sebuah fakta. World Bank menyebut Indonesia sebagai negeri dengan penghasilan yang rendah. Sebanyak 18% dari rakyatnya terpaksa hidup di bawah 13 ribu rupiah (setara 1 USD) setiap harinya. Dengan penghasilan serendah itu, bagaimana mereka bisa menyisihkan uang untuk kesehatan?

Kala itu, sebagai mahasiswa kedokteran yang kelak memegang amanah sebagai dokter, jiwa Gamal terketuk. Ia ingin membebaskan masyarakat miskin dari jerat mahalnya biaya kesehatan dewasa ini. Saat mencari ide menolong kaum pra-sejahtera, Gamal teringat salah satu petuah yang tenar di kalangan medis:

“Hakikat tertinggi program kesehatan itu adalah mengambil sumber daya masyarakat untuk dikembalikan kepada mereka,” kutipnya.

Ia kembali mengingat nasib Nisa, yang selama hidupnya tak jauh dari lingkungan kotor. Baginya, masyarakat masih memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk terkait pembuangan sampah dan sanitasi lingkungan. Padahal hal ini yang justru menyebabkan meluasnya masalah-masalah lingkungan, dan berimbas pada kesehatan. Dalam kasus ini, diare yang dialami Nisa.

Akhirnya terpikirlah membuat sebuah proyek Klinik Asuransi Sampah (KAS). Konsepnya sederhana saja, masyarakat miskin tak perlu bersusah payah mengeluarkan uang mereka. Cukup dengan sampah senilai sepuluh ribu yang disetorkan, mereka bisa mendapat layanan kesehatan primer. Sekali tepuk dua lalat. Penyakit terobati, sampah pun teratasi.

Pembaca, mendengar ide ini, barangkali dahi kita langsung mengkerut. Bagaimana bisa sampah membayar fasilitas medis yang melangit itu? Rupanya, Gamal mengubah sampah organik menjadi pupuk, untuk kemudian dijual. Sementara sampah anorganik akan langsung dijual ke penadah. Dari hasil itulah klinik itu bisa ‘hidup’.

Sayang, gagasan cemerlang itu tak langsung terlaksana. Gamal terkendala masalah biaya, dan SDM yang bersedia membantu jalannya proyek ini pun sedikit sekali. Baru pada 2010, ide ini betul-betul dirintis. Gamal dan kawan-kawan dibimbing langsung oleh dosennya. Bahkan, ia diizinkan melakukan proyek itu di klinik milik dosen tersebut.

Proyek yang langsung disambut hangat oleh masyarakat miskin, karena caranya yang memudahkan mereka. Kendati demikian, ternyata tak langsung berjalan mulus. Karena baru merintis, Gamal masih kesulitan mengatur sistem asuransi dan pengumpulan sampah, apalagi SDM hanya sedikit. Ia kewalahan. Baru enam bulan saja, usahanya itu kolaps.

Gamal tak mau menyerah, sembari menyadari betul tantangan yang ia hadapi. Tak ada kesuksesan yang diraih tanpa berdarah-darah. Ia tetap mengingat komitmennya untuk menolong mereka yang tak mampu. “Intinya kesabaran. Tidak ada kebaikan yang sempurna tanpa kesabaran, karena kesabaran adalah nafas yang menentukan lama atau tidaknya sebuah kebaikan.” jelasnya.

Tak mau berlaru-larut menyesali kegagalan, di tahun yang sama Gamal pun membuat usaha medis sendiri. Adalah klinik Indonesia Medika, yang kemudian menangani seluruh proyeknya, termasuk Klinik Asuransi Sampah. Di sini, Gamal membentuk sistem yang lebih baik dengan tiga divisi: manajemen pengumpulan sampah, layanan kesehatan, dan dana asuransi.

Lalu, Gamal merekrut para pemuda yang telah banyak meneliti terkait pengembangan kesehatan massa. Tentu mereka dibayar profesional, meski sedikit lebih sedikit dari umumnya. Karena tengah memperjuangkan nilai sosial, ia berharap banyak akan keikhlasan SDM-SDM ini.

Sistem pengumpulan sampah tak lupa ia benahi. Untuk mengefektifkan pendayagunaan sampah organik, Gamal mengembangkan ternah cacing untuk membuat pupuk dengan metode kompos.

Sementara untuk kategori sampah anorganik, Gamal menjalin kerjasama dengan para anggota KAS, untuk mendaur ulang sampah yang mereka gunakan. Dengan begitu, tak perlu lagi memberikan sampah baku, namun cukup membayar premi asuransi dengan produk buatan mereka. Karena bernilai jual, konsep ini juga menguntungkan anggota, sebab mereka pun bisa menggunakannya untuk tambahan penghasilan.

“Saya tak hanya hendak mengubah persepsi masyarakat tentang asuransi sampah, tapi juga ingin membuka kesempatan agar mereka menjadi entrepreneur di produk daur ulang,” kata Gamal.

Hasil dari sampah-sampah itu, akan bertransformasi menjadi dana sehat. Dana itu dikembalikan pada warga miskin, untuk membiayai peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan yang sakit, dan rehabilitasi yang sembuh. Tak hanya berlaku untuk penyakit ringan, pula pelayanan kesehatan untuk penyakit berat seperti darah tinggi, kencing manis, gangguan jiwa, infeksi, bahkan jantung.

Ikhtiar berbalur kesabaran yang membuahkan hasil. Meski bukan akhir perjuangan, Gamal mulai lega banyak masyarakat tak mampu yang bisa menikmati layanan kesehatan ini. Kini, terhitung ribuan orang menjadi anggota KAS. Bahkan, manfaat yang diberikan meluas karena proyek ini diduplikasi di lima klinik di Malang, dan kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Bandung.

Dipanggil ke Istana Buckingham

Proyek KAS mengharum hingga negeri Britani. Siapa sangka, sebuah lembaga internasional yang sempat memberikan penghargaan padanya, merekomendasikan proyek Gamal ini ke kerajaan Inggris. Dengan perasaan penuh haru bercampur tegang, ia akhirnya mewakili Indonesia bersaing dengan 511 sociopreneur dari 91 negara pada tahun 2014.

Seleksi yang sangat ketat berlangsung. Sekian lama diombang-ambing perasaan harap-harap cemas, resah itu terganjar. Gamal dianugerahi penghargaan The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014. Alhamdulillah

Penghargaan itu diberikan langsung oleh Pangeran Charles. “Saya ingin memberikan ucapan selamat hangat saya untuk Gamal Albinsaid atas inisiatifnya yang menakjubkan, yang telah menangani dua masalah secara bersamaan (menangani sampah, untuk menyelesaikan masalah kesehatan),” kata Pangeran Charles.

“Dengan penghargaan ini, saya berharap Indonesia Medika terdorong melakukan lebih banyak kebaikan, dan menolong lebih banyak orang. Karena saya yakin, dalam karunia yang besar terdapat tanggung jawab besar,” ungkapnya.

Bagi Gamal, mendapat penghargaan bukanlah tujuan. Ia pun tak terlalu ingin membesar-besarkan sekian banyak penghargaan yang telah diraih. “Saya khawatir, itu akan menghilangkan keikhlasan dalam perjuangan saya ini,” kata Gamal.

Kisah Pak Ponari

Menolong banyak orang, juga melihat masyarakat bisa mencecap manfaat program KAS, adalah kenikmatan tiada tara bagi Gamal. Ada kepuasan, serupa haru yang membuncah ketika akhirnya cita-cita menolong kaum marginal itu sedikit demi sedikit tercapai.

Dan semangat itu tak pernah surut. Spiritnya tergugah setiap kali ia melihat pasien-pasien datang dan pergi, sembuh dari penyakit yang menjangkiti. Salah satu yang ia ingat adalah Pak Ponari. Seorang pria berusia 53 tahun yang mengidap penyakit stroke.

Saking parah penyakit yang diderita Pak Ponari, ia terbaring lemah saja kala Gamal pertama menemuinya. Setelah mengajukan diri pada Indonesia Medika, Pak Ponari rutin memeriksakan kesehatan. Pun setiap Sabtu, seorang stafnya secara aktif mengambil sampah di rumah beliau. Alhamdulillah, kondisinya berangsur-angsur membaik.

“Begini, kalau kita melihat ada orang tua butuh pertolongan kesehatan, masa tidak ditolong secara maksimal, padahal dia sudah tidak bisa apa-apa lagi?” tukasnya.

Kisah Pak Ponari, hanya sebagian kecil dari yang membuat Gamal bertahan dengan perjuangannya. Nasib-nasib malang yang kehilangan peluang memperoleh layanan kesehatan layak, terus menggerakkan hatinya untuk menolong orang lain. Dengan KAS, ia ingin membuktikan sesuatu yang tak berguna pun bisa menjadi satu yang mahal harganya, yaitu kesehatan.

Ia mafhum, masyarakat masih perlu dikawal dalam hal pengetahuan kesehatan. Gamal tak mau berhenti cukup di sana. Ia dan tim akhirnya menulis buku kesehatan, bersamaan dengan dibukanya layanan konsultasi nutrisi, serta home visit bagi pasien dengan penyakit kronis.

Tujuan utamanya tetap: kesehatan prima bagi kaum marginal. Sebab itu, program-program lain yang mendukung tujuan itu juga digencarkan. Salah satunya kampanye dan edukasi kesehatan, yang dilakukan seiring dengan jalannya pengumpulan sampah.

“Tujuannya tidak hanya soal membuat program terobosan, tetapi bagaimana membuat program ini lebih efektif dan efisien, disalurkan pada masyarakat yang membutuhkan,” Gamal menjelaskan.

“Melalui program-program tersebut, saya ingin bisa menyelesaikan masalah-masalah, terutama kesehatan dan kebersihan di negeri saya. Sehingga bangsa ini bisa memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dari segi jasmani maupun rohani,” pungkasnya. (Aghniya/Alhikmah)