Doa Berurai Air Mata di Dua Tanah Suci, Catatan Umroh Seorang Istri

Doa Berurai Air Mata di Dua Tanah Suci, Catatan Umroh Seorang Istri

2 3305

Astagfirullah ya Allah ampuni segala dosa hambaMu, saya teringat saat di tanah air,  sempat berujar bahwa saya ingin belajar ngaji di Mekkah, ingin ada yang mengajari saya ingin menemukan guru ngaji orang Timur Tengah, ingin merasakan bagaimana rasanya belajar ngaji di Tanah Suci, Subhanallah ! ternyata saya di pertemukan dengan ibu ini yang berasal dari Palestina dimana di negara ini banyak yang hafiz Al-Qur’an, terima kasih yaa Allah ternyata engkau benar-benar mengetahui hati ini    

ALHIKMAH.CO–Bulan Februari tepatnya tanggal 2 Februari 2014 Umroh yang dinantikan akhirnya tiba juga, rasa bahagia yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Saat itu,  saya beserta suami dan anak saya yang paling besar akan melaksanakan ibadah umroh. Ada rasa yang tak bisa digambarkan…

Duh.. senangnya berbagai rasa bergejolak dalam dada, ada haru, bahagia, dan yang pasti rasa rindu yang acapkali mengusik hati ini kian membuncah memenuhi rongga dada sebentar lagi akan terobati.  Tahun 2010, Alhamdulillah saya telah diberi kesermpatan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah haji bersama suami saya, dimana berbagai kenikmatan di tanah suci telah saya rasakan begitu sempurna.

Semua rangkaian berhaji yang telah saya laksanakan masih terbayang indah dalam ingatan yang akan selalu hidup dalam hati ini. Terbayang saat mabit (bermalam) di Muzdalifah, melempar jumroh dan wuquf di Padang Arofah, thawaf, Sa’i sampai tahalul semua masih tergambar indah dalam ingatan dan akan selalu dirindukan terutama Ka’bah, nikmatnya tawaf, nikmatnya sholat dan bermunazat di Masjidil Haram dan juga damainya melaksanakan sholat di Mesjid Nabawi Mesjid Nabi Besar yang Mulia Muhammad Rasulullah SAW.

Tiba keberangkatan dari Bandung menuju Bandara Soekarno Hatta hingga sampai di Doha Qatar, (kebetulan mengambil perjalanan dengan singgah dulu di Qatar) dan selanjutnya menuju Madinah, di Kota ini kami melaksanakan sholat di Mesjid Nabawi juga berkesempatan mengunjungi Raudhoh makam Rasulullah SAW beserta sahabatnya Abu Bakar AS  dan Umar Bin Khattab.

 

Tak terasa, bulir-bulir bening ini berkumpul disudut mata, meleleh, tak terbendung bak sungai melewati guratan pipi. Air mata yang begitu saja tumpah ruah, saat bersimpuh di hadapan jasad manusia paling muli. Kedua pipi begitu basah, mengingat perjuangan Rasulullah dalam sejarah saat menyebarkan agama Islam yang begitu berat, sampai berdarah darah, saat dilempari batu di Thaif hingga sampai membangun Mesjid Nabawi yang penuh dengan kedamaian yang kini diri ini larut dalam ibadah di Masjd ini.

 

Mata ini masih berkaca, ketika saya menatap mimbar yang konon katanya dulu tempat Rasulullah  berda’wah disana butiran hangat air matapun tak terasa mengalir deras membasahi kedua pipi kembali dan dengan lirih ku ucapkan sholawat untuk yang mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW,  Allahumma Solli Ala Muhammad Wa Ala Ali Muhammad. Sunguh begitu berat perjuanganmu ya Rasul hingga kami bisa merasakan nikmatnuya Islam, dan Allah izinkan mengecupkan kening di Masjidmu nan mulia, Nabawi.

 

Setiap hari selama beberapa hari di Madinah diisi dengan sholat dan berdoa di Mesjid Nabawi, tak ada waktu yang terlewat untuk tidak melaksanakan sholat di mesjid Rasulullah SAW hingga tiba waktu untuk melaksanakan ibadah umroh. Setelah mandi janabat Kami dan rombongan mengambil Miqat di Bir Ali Madinah, setelah  mengucapkan ihlah umroh, kami semua bertalbiyah labbaik Allahumma Labbaik labbaik kala syarika laka labbaik inna al hamda wani’mata laka wa al mulk la syarika laka… Ya Allah, inilah hambaMU yang datang memenuhi panggilanMu..Inilah hamba yang begitu Rindu tempat ini Ya Allah.

 

Sepanjang perjalanan kami  bertalbiyah  walau  terkadang terpotong tidur sesaat karena rasa kantuk,  namun hati Insya Allah tetap terjaga mengingat Allah, setelah sampai di Mekkah Al Mukarommah setelah kembali berwudhu  kami dan rombongan mulai berjalan untuk melaksanakan Tawaf qudum dari jauh mata saya mencari Ka’bah yang dulu langsung tampak begitu besar dan megah dalam pandanganku kini agak terhalang bangunan.

 

Saat pandangan mata mendekati Ka’bah yang penuh berkah ada getar di dada getar kerinduan yang begitu dalam,  rasanya ingin memeluknya, seusai mengucap do’a pertama melihat Ka’bah langsung kaki ini melangkah untuk memulai tawaf selesai melaksanakan thawaf dilanjutkan dengan sholat dua rakaat di maqom Ibrahim dan berdo’a penuh khidmat dan syukur yang tak terhingga karena saya, suami dan putri saya yang paling besar telah  menjadi tamu Allah.

 

Tak lupa saya panjatkan pula do’a untuk kedua anak saya yang belum terpanggil dalam undangan tamu Allah kali ini, semoga suatu saat dapat undangan juga bersama kami dalam melaksanakan Ibadah Umroh. Selanjutnya melaksanakan Sa’i  dimana saya pun membayangkan betapa beratnya dulu wanita istimewa Siti Hajjar saat bolak balik berlari di gurun yang tandus untuk mencari setitik air untuk putra tercinta Ismail, hingga keluarnya air zamzam yang kini bisa dinikmati oleh jutaan umat muslim dari berbagai belahan bumi.  Selesai Sa’i kami pun bertahalul, Alhamdulillah rangkaian rukun Umroh pun telah selesai dilaksanakan Insya Allah dengan penuh kekhusyuan tak lupa kami pun meminum air zamzam sungguh nikmat yang tiada terkira.

 

Dini hari usai melaksanakan ibadah Umroh di  Masjidil Haram

 

Dini hari usai melaksanakan Ibadah Umroh di Masjdil Haram

 

Setiap hari selama di Mekkah  saya melaksanakan thawaf dan sholat di Masjiddil Haram sungguh terasa damai hati ini dan nikmat yang tak dapat diungkap dengan kata-kata, ataupun diukur dengan materi, hingga pada suatu hari saya menangis yang sedalam dalamnya karena rasa malu yang luar biasa oleh Allah juga rasa bahagia yang tak dapat diungkap dengan kata-kata menyelimuti hati ini.

 

Seusai Sholat Magrib saat saya sedang perlahan mengaji, ternyata ada yang salah saya baca dan terdengar oleh orang disamping saya hingga langsung mengoreksinya, saya pun menoleh hingga ada percakapan isyarat yang akhirnya beliau mau mengajari saya, dengan senang hati saya mengaji dalam bimbingannya, dengan sabar ibu itu mengaji dengan saya, hingga tak terbendung air mata ini tumpah ruah membasahi kedua pipi saya.

 

Astagfirullah ya Allah ampuni segala dosa hambaMu, saya teringat saat di tanah air,  sempat berujar bahwa saya ingin belajar ngaji di Mekkah, ingin ada yang mengajari saya ingin menemukan guru ngaji orang Timur Tengah, ingin merasakan bagaimana rasanya belajar ngaji di Tanah Suci,  ! ternyata saya di pertemukan dengan ibu ini yang berasal dari Palestina dimana di negara ini banyak yang hafiz Al-Qur’an, terima kasih yaa Allah ternyata engkau benar-benar mengetahui hati ini, engkau kabulkan keinginan hambaMu yang penuh dosa ini dimana saya semakin yakin akan kebesaranMu ya Robb, Engkau Maha mengetahui segalanya hingga tak ada ruang yang dapat disembunyikan oleh semua mahlukMu di dunia ini, sekalipun ada di dasar hati yang paling dalam dan tak tampak oleh siapapun, hanya engkaulah yang mengetahui  segalanya karena engkaulah penciptaNya.

 

Engkau telah mengundang hamba dengan menyiapkan seorang guru buat hamba, walau hanya sejenak namun, saya merasa senang karena Allah telah mengabulkan apa yang saya inginkan. Yaa Allah betapa bersyukurnya hamba, ternyata hamba yang kotor, hina dan penuh dosa ini masih diberi kesempatan untuk bertobat, tak terasa waktu sholat Isya pun tiba, kami segera mengakhiri ngaji dengan mengucap Alhamdulillah.

Usai sholat Isya kami berpisah dengan ibu Palestina yang lembut dan cantik itu, dengan berpelukan dan beliaupun mencium kedua pipi saya sambil  tangannya membelai punggung saya dan sayapun mencium tangan beliau sambil mengucapkan terima kasih.

 

Sungguh benar-benar terasa bahagia dan damai hati ini, saya merasakan benar adanya bahwa sesama muslim adalah saudara, kami berkumpul bersama dari seluruh penjuru dunia dengan tujuan yang sama yaitu untuk bersyukur dan beribadah kepada Allah, bersujud memohon ampunanNya dan berdzikir mengagungkan segala kebesaranNya,  sungguh terasa nikmat bertambah kenangan indah di Baitullah dalam hidup ini,  semoga Engkau Yaa Allah selalu membimbing hamba agar lebih baik dan lebih baik lagi dalam segalanya, karena hamba sangat takut olehMu, hamba takut yaa Allah hamba mohon ampunanMu atas segala dosa yang telah hamba lakukan,

Yaa Allah semoga  sisa umur hamba ini bermanfaat, sehingga hamba mempunyai bekal untuk menghadapMu kelak dan semoga engkau senantiasa menolong hamba dalam membenahi diri dan senantiasa ditingkatkan amal ibadah hamba agar lebih baik dan lebih baik lagi, berikanlah selalu Taufik dan hidayahMu pada hamba karena hamba merasa betapa sedikit ibadah yang telah hamba lakukan tapi begitu banyak dan tak terhitung nikmat yang telah engkau berikan, semoga hamba Engkau masukan ke dalam golongan orang-orang yang husnul khotimah Selamat dunia dan Akhirat. Aamiin Yaa Robbal Alamin.

(Seperti dikasahkan oleh Hj. Rita Mutiawati, SAP, jamaah umroh yang berasal dari Cijerah-Cimahi Selatan kepada Alhiikmahdengan sedikit penyuntingan tanpa mengubah isi dan makna yang ada)