Diskusi Bulanan JIB Ungkap Keterlibatan Freemason di Indonesia

Diskusi Bulanan JIB Ungkap Keterlibatan Freemason di Indonesia

Artawijaya memaparkan fakta dan data tentang keberadaan Freemason di Nusantara, Sabtu (31/10/2015)

ALHIKMAH.CO–Komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) kembali menggelar diskusi bulanan #NGOBRAS2 (Ngobrol Bareng Sejarah Indonesia) bulan Oktober. Bertajuk ‘Jejak Freemason di Indonesia’ kajian ini menghadirkan Artawijaya, penulis ‘Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara’ sebagai pembicara.

“Apakah Freemason itu nyata atau khayalan? Fiksi atau fakta?” tanya Artawijaya kepada puluhan hadirin yang memadati aula Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center Jakarta, Sabtu (31/10/2015).

Artawijaya mengungkapkan sebuah dokumen ‘Kenang-kenangan Freemason di Hindia Belanda’ yang diterbitkan Komite Sejarah Freemason. Dalam dokumen yang ditemukannya di Perpustakaan Nasional itu, terungkap bahwa Freemason eksis di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Dengan adanya Keputusan Presiden Soekarno No. 264/1962 tentang Pelarangan Organisasi Freemason di Indonesia. Lalu Kepres tersebut dicabut pada zaman Gusdur.

“Bisa dilihat, tidak mungkin kedua presiden mengurusi sesuatu dalam bentuk Kepres kalau itu fiktif,” kata Artawijaya. Karenanya, bagi yang beranggapan negatif dan ‘nyinyir’ terkait Freemason seperti mengatakan remason, wahyudi, dan lainnya, Bang Arta sapaan karibnya, menyarankan agar mereka belajar lagi melihat fakta sejarah.

Artawijaya juga menyampaikan fakta-fakta dari dokumen Freemason. Seperti Dokumen Memori tahun 1869, Laporan Freemason di Pangalengan, Laporan Loge Freemason di tiap daerah, Majalah Ster Lich, hingga Majalah Freemason Hindia tahun 1895-1940. Eksistensi Freemason di Indonesia, imbuh Artawijaya, tak lepas dari tujuan awal berdirinya organisasi persaudaraan ini di London pada tahun 1717.

“Tujuan utamanya yaitu menjadikan manusia supreme being, bebas berkehendak atas dasar kemanusiaan (humanisme). Dan menghilangkan sekat-sekat utama dalam manusia. Apa sekat itu? Tak lain ialah agama,” tegas Artawijaya.

Karenanya, perekrutan Freemason di Indonesia, menurut Artawijaya melibatkan para tokoh terpandang, priyayi yang kelak akan mengisi pemerintahan dan menjadikan negara menjadi bebas dari nilai agama (sekuler).

“Jadi bukan lagi fiktif atau fakta karena Freemason apa adanya. Namun apa dampaknya bagi negara dan umat, dan apa yang bisa umat Islam lakukan untuk menghadapinya,” pungkasnya. (muhris/alhikmah.co)