Di Tolikara, Ingin Dirikan Masjid Izin ke Tokoh Gereja

Di Tolikara, Ingin Dirikan Masjid Izin ke Tokoh Gereja

0 89

Wawancara ekslusif Bersama Imam Masjid Baitul Mutaqien Tolikara

“…. tahun 1987 saat itu kami mengajukan izin kepada tokoh-tokoh agama di sini untuk membangun tempat ibadah. Tahun 1988, saya disidang di depan tokoh-tokoh gereja. Mereka mengatakan yang boleh dibangun mushallah, bukan masjid”

ALHIKMAHCO,– Aksi serangan kelompok perusuh saat hari Raya Idul Fitri, Jumat (17/07/2015) lalu, masih menyisakan luka mendalam bagi para korban. Rupanya, persoalannya lebih dari sekadar perseteruan kegiatan yang berbarengan antara umat muslim dan Kristen. Lebih dari itu, Imam Masjid Baitul Mutaqien Tolikara H. Ali Muktar memaparkan kondisi sebenarnya umat muslim Tolikara.

Apakabar Pak Ali?

Alhamdulillah, baik pak.

Sudah sekira lima hari, RABU (22/07/2015), terhitung pasca tragedi Tolikara, bagaimana kondisinya sekarang, sudah dapat bantuan darimana saja?

Ya, bantuan berupa makanan, mie instan dan beberapa kebutuhan pokok dari salah satu lembaga sosial kemanusiaan. Itu sudah kami bagi di tiga titik; dua di perumahan dekat Koramil, satunya di Tenda PMI, di mana sebagian pengungsi ada di situ. Ada juga bantuan beras dari pemda dan dari pemerintah pusat.

Apalagi yang dibutuhkan?

Pertama, ya, masih tetap Sembako, termasuk air minum. Kedua, juga bantuan kebutuhan ibadah; mukena, sarung dll. Sementara itu dulu. Kemarin datang juga warga daerah menangis, mereka mengatakan, yang korban nyawa belum ada perhatian. Ya akhirnya kami beri mie instan saja, karena itu yang kami miliki.

Apakah ada bantuan lain?

Sebenarnya sudah banyak yang menghubungi, termasuk dari ormas dan lembaga-lembaga Islam. Tapi saya usulkan, sebaiknya disimpan dahulu, sabar. Sebab, sebenarnya ada juga dana pemerintah untuk umat Islam di APBD.

Mengapa demikian, karena ya sekali lagi, di sini berbeda dengan di Jawa atau Sumatera. Kami mengantisipasi kemungkinan di belakang hari jika terjadi apa-apa. Takutnya ada sesuatu, pak. Kita ingin semua tenang dan aman dahulu.

Kita inginnya memulihkan keadaan, termasuk yang sudah banyak kehilangan harta-benda. Setidaknya, yang hilang harta bendanya bisa bekerja kembali sebagaimana biasa, membangun kiosnya dan hidup mandiri.

Memang ada berapa korban serangan perusuh?

Untuk warga Muslim di Tolikara ini ada sekitar 65 KK, mencapai sekitar 400-an warga. Sedang yang ikut menjadi korban luka-luka ada sekitar 12 orang, meninggal 1 orang.

Sejauh ini, ada perkembangan baru apa yang terjadi terkait tragedi pembakaran Masjid Tolikara?

Kemarin (Rabu, 22/07/2015), terjadi pertemuan dan konferensi pers dengan pihak tokoh-tokoh gereja. Hadir Pemimpin Umat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) yang dipimpin Ketua Klasis Toli, Pendeta Yunus Wenda dan saya mewakili Muslim. Itu tokoh-tokoh penting dan berpengaruh semua di sini. Dalam pertemuan itu sempat saya tanya kembali, apa boleh mendirikan tempat ibadah tidak?

Hasilnya? Ya para tokoh gereja ini mengatakan, harus rapat dulu, harus mengadakan pertemuan antar mereka dahulu jika ada pendirian masjid. Sebab, kata mereka, di sini lain dengan Jawa, mendengar nama masjid saja sudah khawatir.


Tapi begini Pak, sekadar memberi klarifikasi, sebenarnya yang dibakar itu mushalla atau masjid?

Jadi begini, Pak, sejarahnya terjadi tahun 1987, ketika itu kami mengajukan izin kepada tokoh-tokoh agama di sini untuk membangun tempat ibadah. Tahun 1988, saya disidang di depan tokoh-tokoh gereja. Mereka mengatakan yang boleh dibangun mushallah, bukan masjid. Tidak tahu mengapa, katanya, di sini khawatir jika ada pendirian masjid. Sementara kami kaum Muslim kan harus shalat Jumat. Jadi izin saya kala itu, disebut mushollah tidak masalah asal dibolehkan dan bisa melaksanakan shalat Jumat.

Kita sebagai kaum Muslim tidak meributkan nama, yang penting bisa beribadah dan melaksanakan shalat Jumat. Itu yang terpenting. Sebab apa, di sini memang mendirikan rumah ibadah dilarang kecuali Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) itu. Tidak hanya Islam, bahkan semua denominasi Kristen kecuali GIDI dilarang. Dan Alhamdulillah, kita semua bersyukur izin beribadah bisa keluar. Asal shalat Jumat bisa dilaksanakan dan kaum Muslim bisa shalat berjamaah. Terserah jika itu dikatakan mushalla.

Setelah berdiri, apa saja kegiatan Masjid Baitul Muttaqien sampai sebelum dibakar?

Ya banyak, yang jelas, shalat jamaah tiap hari, pengajian rutin, Peringatan Hari Besar Islam, Peringatan Maulid Nabi, pengajian umum hingga pembinaan anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ).

Bulan Ramadhan kemarin, kami mendatangkan penceramah dari Jawa. Di sini ada kesepakatan, tiap Ramadhan mendatangkan penceramah secara bergantian dari berbagai daerah di Indonesia. Tahun lalu dari Sulawesi.

Selain itu kegiatan keagamaannya apa lagi?

Alhamdulillah, kita ada majelis taklim ibu-ibu yang digabung dengan ibu-ibu Bhayangkari (organisasi persatuan istri anggota Polri). Selain itu ada tahlil di rumah-rumah tiap hari Jumat dan tiap bulan sekali di masjid.


Afwan, Bapak sendiri latar belakang pendidikannya apa?

Saya tidak memiliki latar belakangan nyantri. Hanya mustami’in biasa. Keluarga saya Nahdhatul Ulama (NU),  ibu saya Musyawaroh (asli Lumajang) sedang Bapak Hendri J Karaeng (asli Makassar). Ayah bekerja di Tanjung Perak, tetapi saya banyak dibesarkan di desa Pusrwosono, Kecamatan Sumber Suko, Lumajang. Sejak kecil saya terbiasa diajak orangtua berkunjung ke pesantren. Itu saja yang menjadi bekal saya.

Terkait kondisi sekarang, Sebetulnya Apa harapan Pak Ali selanjutnya?

Saya harapkan semua segera selesai dan umat Islam bisa melaksanakan hak ibadah serta bekerja kembali. Saya juga menyampaikan terima kasih ada Baitul Maal Hidayatullah (BMH), yang sejak hari ketiga pasca serangan bisa menemani kami (Muslim Tolikara, red) di sini. Saya harap umat Islam lain juga ikut memikirkan. [Abu Fathun/rilis JITU]