Di Tanjung Harapan, Wakaf Sang Budak Renta Pun Tertunaikan

Di Tanjung Harapan, Wakaf Sang Budak Renta Pun Tertunaikan

0 93
Photography by Adam Bacher

Meski masih merangkak dalam mengembangkan wakaf, kesadaran masyarakat Afrika Selatan akan pentingnya wakaf untuk kesejahteraan justru semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dari bangkitnya NGO-NGO yang concern di bidang wakaf. Sebut saja National Awqaf Foundation of South Africa, atau sering disebut Awqaf SA.

Peta dan kalender menunjukkan ujung terbawah daratan Afrika sepenggal tahun 1804, ketika kolonialisme bercokol di benua Hitam. Tahun-tahun itu, masih menjadi tahun yang menyengsarakan bagi kaum pribumi di Afrika Selatan. Sistem apartheid (rasisme berdasarkan warna kulit) bercokol kuat. Bukan hal asing jika melihat orang-orang kulit hitam dipaksa menjadi budak dengan upah murah di negerinya sendiri yang kaya akan intan dan emas.

Siapa sangka, di tengah diskriminasi tersebut, solidaritas muncul dari seorang budak muslimah yang memiliki semangat Islam, semangat kemerdekaan. Budak yang telah tua renta itu menghibahkan sebidang tanah, simbol solidaritas untuk umat. Impian satu saat umat ini dapat menghadap Sang Khalik di rumahNya, Masjid.

Di Tanjung Harapan, asa itu terwujud. Kumandang adzan pertama membelai sudut Benua Hitam ini. Wakaf, simbol solidaritas itu kini menjelma sebuah Masjid, yang hingga sekarang jejak perjuangan itu tetap berdiri kokoh. Masjid Tanjung Harapan, inilah wakaf pertama di bumi Afrika Selatan.

Kala itu, perkembangan dunia Islam masih banyak dibatasi oleh Kolonialisme yang merangsek ke seantero bumi. Kini, sistem perbudakan maupun politik apartheid telah dihapuskan. Meski masih menjadi agama minoritas, Islam mulai berkembang, dan para penganutnya tak ragu lagi menerapkan syariatnya. Termasuk dalam hal Wakaf. Tak hanya menggeliat dalam wakaf tanah saja. Wakafpun berkembang dalam bentuk trust-trust yang hasilnya dialokasikan untuk pembangunan masjid dan pendidikan.

Memang, pemahaman wakaf di negeri yang pernah menjadi tuan rumah piala dunia tersebut masih terbatas. Wakaf yang banyak berkembang adalah wakaf-wakaf pribadi dan mayoritas hasil wakaf diarahkan untuk masjid dan madrasah. Tak seperti negeri lain yang memiliki sistem hukum wakaf yang memadai, manajemen wakaf di Afrika Selatan memiliki tantangannya sendiri.

Karena hanya ada 3% penduduk muslim dari total populasi di Afrika Selatan, pemerintah tak pernah membuat Undang-Undang yang khusus membahas wakaf. Kendati demikian, mereka menyediakan payung hukum untuk lembaga-lembaga yang bergerak di bidang amal.

Wakaf di Afrika Selatan bisa menggunakan 3 mekanisme hukum. Pertama, badan hukum bernama Association Not for Gain yang mengatur masalah manajemen lembaga amal. Beberapa masjid di Afrika Selatan terdaftar dalam asosiasi ini, seperti masjid di Greenside dan Johannesburg.

Kedua, masuk dalam perusahaan Section 21 dibawah UU Perusahaan No. 61 tahun 1973. UU ini pun berhubungan dan mengatur langsung hak dan tanggungjawab perusahaan non profit. Ketiga, UU Properti no. 57 tahun 1988 yang mengawasi kegiatan Non Government Organization (NGO) yang bergerak dalam wakaf berbentuk trust. Aturan ketiga tersebut senada dengan aturan wakaf dalam Islam, hanya saja objeknya tidak diikat oleh aturan syariah.

Lain dengan Turki yang bisa langsung membebaskan pajak bagi NGO-NGO-nya, hukum pajak Afrika Selatan mengharuskan NGO wakaf mendaftar sebagai Public Benefit Organization (PBO) sebelum mendapat status bebas pajak. Namun, pemerintah menerapkan persyaratan, salah satunya objek dari PBO harus sesuai dengan kategori yang disetujui pada UU Pajak Penghasilan. Sebab, UU ini menganjurkan PBO memberikan subsidi berupa potongan pajak tertentu.

Meski masih merangkak dalam mengembangkan wakaf, kesadaran masyarakat Afrika Selatan akan pentingnya wakaf untuk kesejahteraan justru semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dari bangkitnya NGO-NGO yang concern di bidang wakaf. Sebut saja National Awqaf Foundation of South Africa, atau sering disebut Awqaf SA.

Bisa dibilang, Awqaf SA lah yang pertama kali menginisiasi adanya mutawalli wakaf yang melembaga pada 2000. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan wakaf, Awqaf SA giat melakukan sosialisasi tentang sistem wakaf dan memobilisasi penghimpunan dana wakaf.

Sosialisasi yang Awqaf SA lakukan juga mencakup pemberian pengetahuan bahwa wakaf tak hanya terbatas pada masjid dan madrasah saja. Lembaga yang dikepalai oleh Zeinoul Abedien Cajee ini juga menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan, kesejahteraan sosial, pengembangan keterampilan, tunjangan para ulama, juga beasiswa untuk pelajar.

Sesuai dengan yang dinyatakan dalam website resminya, Awqaf SA menjadikan wakaf sebagai wadah untuk menyejahterakan dan memberdayakan masyarakat miskin dari seluruh latar belakang agama, ras, maupun gender.

Terutama dalam wakaf produktif, Afrika Selatan memang mengalami banyak kesulitan untuk mengembangkannya. Pakar Perwakafan, Zeinoul Abedien Cajee sendiri menyatakan dalam artikelnya “Waqf and Its Uses in South Africa: Pious Endowments, Founders, and Beneficiaries”, bahwa salah satu permasalahan utamanya adalah karena para ulamanya sendiri kurang memahami masalah wakaf produktif.

Maka, Zeinoul menganjurkan untuk memperbanyak sosialisasi mengenai pentingnya wakaf dalam tataran kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Munculnya NGO-NGO yang bergerak di bidang wakaf, jelasnya, adalah salah satu langkah besar dalam mengenalkan lebih jauh mengenai wakaf, terutama wakaf produktif.

Kata Zeinoul, jika wakaf di Afrika Selatan hanya terus mengembangkan aset keagamaan, seperti masjid, masyarakat akan selamanya berpersepsi bahwa wakaf hanya lahir dari hal tersebut. Masyarakat akan menolak pemahaman wakaf yang berorientasi pada profit. Ia berpendapat, penerimaan dari masyarakat mengenai wakaf tunai merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh lembaga-lembaga wakaf saat ini. (Aghniya/Alhikmah/dbs)