Di Negara Lain, Wakaf Lebih Berkembang Ketimbang Zakat

Di Negara Lain, Wakaf Lebih Berkembang Ketimbang Zakat

Prof. Uswatun Hasanah

ALHIKMAH.CO–Beberapa waktu lalu, Alhikmah berkesempatan mewawancarai anggota Komisi Fatwa MUI Prof. Dr. Uswatun Hasanah di kantornya di Gedung Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Kepada Alhikmah, Guru Besar  UI yang terlibat membidani lahirnya UU Wakaf no 41 Tahun 2004 ini menjelaskan ihwal regulasi wakaf dan juga perkembangannya di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

Apa sebenarnya wakaf itu? Apa bedanya dengan sedekah dan infak?

Wakaf itu asalnya dari kata waqafat artinya berhenti. Maksudnya menghentikan kepemilikan. Jadi kalau saya berwakaf, tanah yang tadinya atas nama saya, sudah berhenti dari nama saya kemudian saya wakafkan kembali kepada Allah.

Pada hakikatnya, tanah tersebut menjadi milik Allah. Manusia hanya mengelolanya. Pengelola wakaf namanya nazhir, dan pemberi wakaf disebut wakif. Peruntukkan wakaf ditentukan oleh wakif.

Jadi, jika saya mewakafkan untuk masjid, selamanya ini untuk masjid, tidak boleh berubah. Kecuali perubahannya itu karena pelebaran jalan, kalau untuk yang suka-suka pengelolanya, tidak bisa. Harus sesuai yang diinginkan oleh wakif. n

Berarti wakaf itu pengehentian pemilikan semula dan bendanya dikembalikan kepada Allah tapi manfaatnya diperuntukkan untuk maukuf alaih. Misalnya yatim piatu, masyarakat, dll.

Apa bedanya dengan sedekah dan infak?

Kalau sedekah kan shadaqah, artinya berbuat baik. Jadi wakaf termasuk shadaqah juga. Tapi yang dimaksud sedekah dalam artian yang dikenal luas, ialah berbuat baik tapi yang disedekahkan bisa suka-suka, siapapun boleh, tidak terikat harus dimanfaatkan sesuai keinginan pemberi sedekah.

Ada apa saja jenis-jenis wakaf?

Wakaf itu bisa produktif bisa konsumtif. Kalau seperti masjid, itu sifatnya konsumtif. Kalau wakaf produktif, wakaf itu diproduktifkan. Kalau model lama, digunakan untuk pertanian dan sebagainya, tapi kalau sekarang, tanah wakaf bisa didirikan ruko, lalu disewakan, kemudian hasilnya diperuntukkan maukuf alaih.

Di Indonesia, masih sangat terbatas peruntukkannya dan pengembanganny. Tapi kalau di negara lain yang wakafnya sudah maju seperti Turki, Saudi, Mesir, itu wakaf apartemen banyak. C

ontoh misalnya saya pernah melihat di Jeddah, ada apartemen kawan saya yang bayarnya mahal. Saya kira karena wakaf itu gratis. Rupanya malah mahal. Katanya, mahal karena itu wakaf produktif yang hasilnya digunakan untuk membantu warga Palestina.

Di Indonesia, orientasi wakaf di masa lampau sebelum ada UU  41 2004, itu makam, masjid, mushalla, paling banter madrasah tapi sekarang sepertinya sudah berkembang lagi. Bahkan di negara lain, wakaf lebih berkembang ketimbang zakat.

Dalam tataran teknis, perbedaan wakaf, infak sedekah seperti apa?

Dalam UU Wakaf no 41 tahun 2004, diatur hukum hingga tata cara mekanisme wakaf. Contohnya saya mau berwakaf berupa tanah warisan. Nah, dalam mekanisme wakaf itu tidak bisa begitu saja diwakafkan karena syarat barang yang diwakafkan adalah kepemilikan secara sempurna.

Maka, caranya tanah tersebut dibuat Sertifikat dulu atas nsama saya. Lalu, setelah sertifikatnya atas nama saya, saya datang ke KUA kecamatan. Nanti, KUA kecamatan berwenang sebagai PPAIW ( Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf). Di sana, saya datang bersama ahli waris lainnya dan calon nazir (pengelola wakaf) dan semua orang disitu menandatangani ikrar wakaf.

Ikrar wakaf tertera jelas bahwa tanah tersebut dikelola oleh nazir dan hasilnya atau wakaf tersebut akan digunakan untuk apa. Nanti, kepala KUA kecamatan mendaftarkan ke Kabupaten, Kanwil lalu ke BWI untuk disertifikatkan. Nanti, hasilnya tanah tersebut merupakan tanah bersertifikat wakaf.

Nah, kalau infak atau sedekah tidak ada ketentuan seperti itu, bebas-bebas saja. Sebagai contoh, kita wakaf mobil. Kalau sedekah, mobil itu nantinya mau dijual, disedekahkan, dipakai orang lain, dipakai sendiri, diproduktifkan itu boleh-boleh saja.

Tapi kalau mobil diwakafkan, harus sesuai keinginan wakif. Nazir hanya mengelola mobil.

Seperti apa perkembagan wakaf di Indonesia saat ini?

Menurut para ulama, wakaf itu bisa benda bergerak atau tidak bergerak. Sekarang saham pun bisa diwakafkan. Saat ini berkembang wakaf uang.   Jadi wakaf uang sudah bisa, hanya ketentuan yang harus dipegang. Kalau benda tidak bergerak , termasuk hak cipta, website,  dan sebagainya.

Khusus wakaf uang, harus diperhatikan betul bahwa nazirnya harus memahami tentang keuangan. Juga tentunya sesuai UU. Di Indonesia wakaf uang seharusnya yang mengelola adalah bank tapi di UU, bank tidak bisa menjadi nazir, jadi lewat saja orang lain.

Orang biasa mengelola wakaf uang itu sulit, harus pengusaha atau bankir yang mumpuni . Itu masalahnya, seharusnya wakaf uang dikembangkan melalui bank, hasilnya sedikit sekali untuk maukuf alaih. Menurut saya wakaf uang harus dikembangkan melalui usaha-usaha yang produktif, sehingga hasilnya memadai, tetapi UU belum mengakomodir itu.

Seperti apa pengelolaan dana wakaf?

Untuk operasional, tidak bisa menggunakan dana wakaf, tapi bisa menggunakan dana hasil dari wakaf produktif tadi. Dana pokoknya tidak bisa digunakan. Ini yang membedakan dengan sedekah, karena kalau infak sedekah tidak ada masalah.

Hukum wakaf sesuai UU, termasuk akadnya, pengelolaannya, sesuai syariat islam. Pemanfaatannya yang khusus sesuai akad dengan wakifnyaPenerima bukan hanya 8 asnaf, tetapi lebih rinci lagi, sesuai dengan ikrar wakif.

Sekarang berkembang wacana wakaf bukan benda seperti aplikasi, website ?

Munurut saya boleh saja, yang penting hasil dan pengelolaannya itu jelas. Misalnya membuat aplikasi, itu kan hak anda. Tapi nanti anda tidak punya hak terhadap aplikasi itu lagi. Tetapi yang punya hak itu lembaga yang anda wakafkan itu.

Sesuatu yang kita peroleh dari keahlian kita, boleh diwakafkan?

Itu bisa, seperti halnya seorang arstitek mewakafkan keahliannya dalam mendesain bangunan. Semoga itu menjadi amal jariyahya.

Apa Pesan untuk Nazir Wakaf di Indonesia?

Agar wakaf semakin berkembang. Bisa dibisniskan, yang penting komitmen dari nazir dan wakafnya itu tidak boleh berkurang. Dan nazir harus memahami betul dengan bidang benda atau apa pun yang diwakafkan wakif. (mr/alhikimahco)