Di Kajian ke-6, Kuliah Peradaban Bahas Penyimpangan Hermeneutika Terhadap Al Quran

Di Kajian ke-6, Kuliah Peradaban Bahas Penyimpangan Hermeneutika Terhadap Al Quran

0 92

ALHIKMAHCO,– Kajian Islam yang dihelat Kuliah Peradaban, kali keenam ini membahas Hermeneutika dan Tafsir Al Quran. Hadir sebagai pemateri Penasehat PW Pemuda Persis Jabar Dr. Nashruddin Syarief.

“Hermeneutika, berusaha mengkritisi Al Quran dari huruf sampai menjadi kenyataan, dari logos hingga praksis, dan dari teks berbuah konteks,” di Masjid Nurul Falah-Buah Batu, Bandung, Sabtu (18/6/2016).

Ustaz Nashruddin ini pun memaparkan beberapa hal terkait ajaran Islam yang ditanggapi oleh kajian Hermeneutika, di antaranya yaitu; Pertama, bagaimana juru bicara Tuhan menyampaikan kehendak langit untuk penduduk bumi yang bahasanya berbeda?

“Jangankan dari langit ke bumi, di bumi saja bahasa kita berbeda-beda, gitu kata mereka,” ujar Ustaz Nashruddin.

Kedua, bisakah gagasan tersampaikan kepada mereka yang berbeda kultur? Terkait hal ini, ia berpikir, bukankah Jibril sendiri pasti berpikir, bagaimana caranya firman Allah ini dialihbahasakan dengan kata-kata yang itu bisa menjangkau seluruh manusia sampai hari kiamat.

“Jadi menurut mereka sangat tidak ilmiah apabila dikatakan kalau wahyu itu diturunkan utuh dari Allah sampai Nabi Muhammad Saw,” kata ustaz Nashruddin.

Ketiga, bukankah setiap bahasa terikat dengan kultur masyarakat pemakainya? Pada faktanya, imbuh Ustaz Nashruddin, bukan Al Quran yang mengikuti bahasa Arab, tetapi Al Quran yang justru mengubah budaya Arab.

Ustaz Nashruddin juga memaparkan proses penafsiran wahyu hingga menjadi Al Quran yang kita biasa lihat hari ini.  Yaitu, papar beliau, pertama penafsiran firman Allah yang disampaikan Jibril kepada Rasulullah Saw., yang kedua penafsiran perkataan Jibril yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. kepada umatnya.

“Rasulullah Saw. itu sosok yang cerdas, bukan kaset kosong yang belum terisi apa pun. Jadi pasti punya kemampuan untuk menjelaskannya lagi,” tandasnya. (irfan/alhikmah)