Di Bawah Lindungan Umar

Di Bawah Lindungan Umar

1 213

Penggenggam tali kekang keledai yang tengah ditunggangi sang ajudan itu memperkenalkan diri. Amirul Mukminin, Umar Ibn Al Khattab, pemimpin tertinggi Umat Islam.
ALHIKMAH.CO –Di atas keledai mungil, Amirul Mukminin Umar Ibn Al Khattab melaju menuju Yerusalem, Baitul Maqdis.Umar hanya berdua bersama ajudannya, melewati perjalanan panjang, dengan perbekalan seadanya.Pakaiannya melulu selembar baju bertambal sulam.Bergantian Umar dan ajudannya menunggangi keledai.

Umar bermaksud menemui penguasa Yerusalem ketika itu, Pendeta Sophorinus yang ingin mengadakan perjanjian damai dan berada dalam naungan wilayah kekuasaan Islam.Masih menancap dalam benak Pendeta Sophornius, dua dasawarsa lalu, saat Persia masuk ke Yerusalem.Tragedi kemanusiaan terjadi. Pembantaian penduduk tak berdosa berlangsung di seantero kota, mengotori kesucian gereja-gereja. Tak berselang lama, Persia dipukul mundur oleh Romawi.

Kini, Abu Ubaidah Al Jarrah, Amru Ibn Ash, Khalid bin Walid mudah saja masuk ke Yerusalem yang sudah terkepung.Namun, aturan perang dalam Islam, dilarang ada pengrusakan kota, pembunuhan anak kecil, wanita dan mereka yang tak ikut berperang.Pun ketikaterjadi perjanjian damai, maka dialog pun bukan hal yang mustahil digelar. Dan pemimpin tertinggi umat Islam, Umar Ibn Al Khattab datang untuk bertemu penguasa Yerusalem, Sophorinus.

Yerusalem, kota tua di atas bukit, kota kuno dengan lorong-lorong bangunan tua ribuan silam yang menyimpan kenangan tersendiri bagi tiga agama besar, Islam, Yahudi, Nasrani. Di sana terdapat Masjidil Aqsa, tanah yang dirindukan umat Islam, tempat mi’raj Rasul. Di sana ada Wailing Wall (Dinding Ratapan) Yahudi dan Gereja Holy Sepulchre Nasrani. Semua masyarakat Yerusalem dalam cemas menanti seperti apa pemimpin umat Islam ini.

Sebelumnya, saat Panglima Abu Ubaidah masuk, ia ditolak Sophorinus, karena ia ternyata hanya seorang pimpinan pasukan biasa, bukan pimpinan tertinggi umat Islam. Konon, Sophorinus terilhami sebuah cerita yang termaktub dalam kitab sucinya bahwa yang akan menaklukan kota “Elia” (Al-Quds) memiliki tiga sifat khusus dan ia harus menyerahkan langsung kepada sosok itu kunci kota Yerusalem. Tiga sifat itu,yakni: datang dengan berjalan kaki, kedua kakinya dikotori debu dan lumpur serta ada beberapa lubang dan tambalan di pakaiannya. (Dr. Saiful Bahri )

Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Khalifah Umar datang dengan berjalan kaki, ia kebagian menuntun keledai yang sedang dinaiki ajudannya. Pakaiannya lusuh, dengan tetambalan menghias di beberapa sudutnya. Di gerbang kota, para petinggi Yerusalem denganpakaiannya yang mengkilap menyangka bahwa pemimpin Islam adalah sosok yang sedang menunggangi keledai.

Tibalah Umar bersama ajudannya.Sosok penggenggam tali kekang keledai yang tengah ditunggangi sang ajudan itumemperkenalkan diri.Amirul Mukminin, Umar Ibn Al Khattab, pemimpin tertinggi Umat Islam.
Sophorinus dan masyarakat Yerusalem kaget alang kepalang.Mereka tercengang melihat sosok pemimpin tertinggi umat Islam yang berpenampilan sedemikian.Sang pendeta Sophorinus pun merunduk malu melihat kesederhanaan Umar, lalu berkata, “Sesungguhnya Islam mengungguli agama-agama manapun.”

Tanpa berpikir panjang, Sophorinus langsung menandatangi perjanjian damai antara Umar dan Pemimpin Yerusalem.Perjanjian ini dikenal dengan ‘Perjanjian Umar. Beginilah bunyi perjanjiannya (halaman 2)