Di Antara Peluh Sang Ayah dan Petuah Sang Bunda

Di Antara Peluh Sang Ayah dan Petuah Sang Bunda

0 218
Neneng, Nurseha dan Ina . rl/ALHIKMAH

GELAP. Sunyi berkawan temaram rembulan. Nyaris dini hari, namun pria paruh baya itu masih duduk dengan wajah bersungut di atas bangku warung reyotnya, ruang mungil tanpa dinding. Malam sekali, dibungkusnya lapak itu dengan spanduk bekas, bersiap tidur di dalamnya.

2016-06-30 07.33.36
lapak mungil Noviyanto

Noviyanto masih tampak lusuh. Beberapa waktu ini, selain menjaga warkopnya, ia harus menjadi buruh lepas harian, menggali sumur di wilayah Padasuka Bandung.  Pulang larut, ia masih harus menjaga sepetak 2m×2m lapak tempat ia berdagang kopi, air mineral, minuman renteng, hingga mie rebus di bilangan Cikutra Bandung.

Dalam benaknya masih bergelayut pelbagai keperluan anak sulungnya yang kini baru duduk di bangku SMA.

Belum bayar SPP? Bukan! Bahkan anak kebanggaanya mendapatkan beasiswa gratis uang pangkal 24 juta dan persemester 8,5 juta di SMA swasta favorit hingga tamat sekolah.

Karena tidak ada seragam? Ternyata bukan itu yang membuat Novi muram. Memang, awalnya ia tak mampu membelikan putri sulungnya seragam abu putih, namun sang anak justru membelinya dengan koceh sendiri. Novi hanya bisa tergugu melihat bakti sang anak yang tak ingin merepotkan dirinya. Lantas apa yang membuatnya bersungut musygil?

“Sekolah anak saya karena sekolah bagus dan melek teknologi, maka harus menggunakan laptop,” kenang Novi kepada Alhikmah baru-baru ini di warungnya di bilangan Cikutra, Bandung.

Hanya satu itu saja yang tak bisa Novi penuhi. Keinginan anaknya untuk bisa belajar seperti kawan-kawannya yang memiliki laptop. Kini, ia murung. Namun, ia sadar, berpangku tangan bukanlah solusi. Ia pun banting tulang untuk memenuhi keperluan sang buah hati.

Mulai dari pinjam laptop sana-sini, berpeluh hingga pinggang terasa remuk, kerap ia lakoni. “Saya ingin anak saya sama seperti yang lain, tapi sampai sekarang belum punya laptop sendiri,” katanya. Pernah, ia pinjam laptop saudaranya sampai harus ke Jakarta.

“Padahal ongkos ke Jakarta saja tidak ada, saya terpaksa pinjam motor kakak,” kata pria lulusan SMA yang kini bekerja serabutan ini.

Pinjam laptop memang menjadi jalan mepet, tapi begitu sang empu memintanya kembali, Novi hanya bisa pasrah. Tak jarang, ia bertanya kiri-kanan berapa harga laptop. Jawabannya membuatnya hanya mengelus dada.

Puncak kegalauan Novi, saat Ujian Akhir Semester tahun ini berjalan, sekolah tempat anaknya menggunakan sistem informasi dan mewajibkan siswa-siswinya menggunakan laptop. Novi kelimpungan sampai mencari laptop untuk ujian sang anak hingga ke saudaranya di Subang.

Dua hari berjalan ujian, sang empu segera mengambilnya karena keperluan mendadak. Ujian masih tiga hari lagi, Novi memeras otak.

“Saya bingung, saya cari ke mana-mana nggak ketemu,” katanya. Ia bilang ke anaknya, bahwa dirinya belum menemukan. Anak saya nggak marah, dia bilang ‘pakai HP saja Pak.’,’” kenang Novi melihat kesabaran anaknya.

Sebagai ayah, ia merasa sangat sedih sekaligus bangga kepada sang anak. “Saya antar anak ke sekolah, anak saya belum dapat laptop, saya pasrah, mungkin diizinkan ujian pakai HP,” katanya. Namun, cerita Tuhan lain, karibnya di sekolah rupanya berbaik hati meminjamkan laptop ‘berlebih’nya.

***

Pagi-pagi sekali di pojok Cikutra, Bandung, motor sudah menggerung. Noviyanto harus mengantarkan kedua anaknya dari rumah tumpangan yang ditinggalinya kini ke sekolah dengan motor pinjaman kakaknya.

Nursabrina Amalina (16), karib disapa Ina kini kelas 1 SMA Alfa Centauri Bandung, sedangkan sang adik Rifni Zahra Aulia (14) yang dipanggil Neneng kini naik ke kelas 2 SMP Juara Bandung. Keduanya mendapat beasiswa.

ina sedang belajar
Ina sedang belajar

Sebelumnya, saat hari masih gelap, Ina sudah bangun untuk sekadar salat malam hingga menghafal dan membaca Al-Quran sejenak, dilanjutkan untuk mengulang pelajaran hingga membantu sang bunda, Nurseha, yang sudah sibuk sebagai ibu rumah tangga.

Walaupun hidup pas-pasan, atau bahkan kekurangan, sang Bunda, Nurseha yang karib disapa Nur ini menanamkan kepada anak-anaknya agar tetap bersabar dan terus belajar serta beramal baik.

“Walaupun hidup terasa sulit, dijalani saja. Alhamdulillah, anak ibu nggak ada yang bandel. Nggak ada harta yang lebih berharga kecuali anak yang saleh,” kata Nur dengan mantap. Menurutnya, dua putrinya ialah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

“Karena ini amanah, cara mensyukurinya dengan  mendidiknya dengan baik,” kata Nur. Menurut istri dari Noviyanto ini, mengutip pepatah Arab ‘al-Umm Madrastul Ula’ , ibu adalah sekolah pertama dan paling utama sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan di luar rumah.

2016-06-30 07.22.35
Nurseha di warungya

Sebagai pendidik pertama bagi sang anak, Nur kerap mencari ilmu agar dapat menjadi ibu yang cerdas. Walaupun lulusan SMP, Nur ingin anaknya berpendidikan lebih dari dirinya.

“Saya ingin menjadi ibu yang cerdas biar kalau anak nanya, saya tahu. Saya orangnya haus ilmu. Saya itu gelisah kalau nggak dapat ilmu sehari aja. Saya nyari ilmu bisa dari buku, ikut pengajian di mana-mana, dengerin radio. Di SMP anak juga ada seminar-seminar parenting rutin sebulan sekali yang wajib dihadiri oleh orang tua murid,” kata Nur.

Langsung mencontohkan, Nur menanamkan nilai kepada anaknya agar cinta ilmu. Tak ada TV menyala di rumahnya. “TV kan banyak yang nggak baik, jadi nggak ada tontonan di rumah,” katanya.  Ia pun mengaku mendidik kedua putrinya dengan kasih sayang.

“Kalau mendidik anak bukannya keras, tapi tegas. Harus dipikir dengan kepala dingin,” kata Nur berbagi tips, “kalau anak salah kan anak nggak tahu. Ibunya yang tahu. Jadi, saya istigfar aja kalau anak salah.”

Dialog, bercerita, ngebanyol, sampai membuat jadwal harian anak sehingga anak-anaknya selalu sibuk dalam aktivitas kebaikan, menjadi metode Nur mendidik anaknya.

Noviyanto sehari-hari bergantian dengan Nur menjaga lapaknya
Noviyanto sehari-hari bergantian dengan Nur menjaga lapaknya

“Ada agenda harian, waktu nyuci kapan, setrika kapan, tugas rumah kapan. Kalau sudah beres tugasnya, bisa aktivitas lain,” katanya. Selain sibuk di rumah, kedua putrinya  pun aktif  di pelbagai ekskul seperti angklung, pramuka, dan klub bahasa. Nur pun kerap memberi petuah-petuah untuk sang buah hati.

“Saya selalu diminta untuk sabar,  jangan judes, dan jangan menunda-nunda pekerjaan,” kata kedua putrinya, Ina dan Neneng, kepada Alhikmah. Pernah, saat kawan-kawannya berangkat untuk study tour ke Singapura hingga Korea, Ina pun tak berkecil hati tak bisa ikut karena tak bisa membayar Rp.6 juta.

“Saya saat itu cari uang ke mana-mana gak dapet,” kenang sang Ayah, Noviyanto. Saat itu. Sang Ibu, Nur, hanya menasihati agar bersabar. “Nak, sabar ya walau gak bisa ikut,” katanya. Rupanya Ina mengerti betul kondisi kedua orang tuanya dengan tidak ngayoyo memaksa ikut.

Bahkan, lebih dari itu, Ina ingin tak merepotkan. Ia berjualan makanan ringan yang ia titip di sekolahnya. Tanpa rasa malu. Ternyata untungnya lumayan. Hasilnya ia masukkan ke tiga celengan. Celengan wakaf, sumbangan Palestina, dan kebutuhan sehari-hari.

Tiga celengan  untuk hasil berdagang Ina
Tiga celengan dari hasil dagangan Ina

“Saya nggak ada uang, eh malah anak saya yang beli listrik, kecap, beras, makanan di rumah dari hasil dagang gehu, gorengan, dll,” kata Nur dengan bulir bening mendanau di sudut matanya. Bahkan, sepatu, tas, dan seragam satu-satunya yang dimiliki Ina hasil jerih payahnya sendiri.

Suatu saat, putrinya rupanya kehujanan. “Karena cuma satu-satunya, jadi kalau basah ya langsung dijemur, digembreng-gembreng, disetrika-setrika, supaya besok bisa dipakai lagi” celoteh Nur sedih.

Bagi Ina, keterbatasan bukan halangan untuk terus berprestasi dan berkarya serta berbakti kepada orang tuanya. “Saya ingin menjadi dokter,” asanya. Sehari-harinya ia belajar dengan tekun hingga larut. “Nilainya bagus-bagus sudah dari lama,” tambah sang Ayah.

Kesulitan dan keterbatasan tak membuat keluarga ini pupus harapan akan pendidikan. Sabar, menjadi kata peneguh hati mereka. “Kata Allah kan kalau kita banyak masalah, hanya sabar dan shalat sebagai penolongnya,” tegas Nur.

Mungkin buah kesabaran Nur mendidik putrinya mulai tampak. “Pernah saya melihat Al-Quran yang dibaca anak saya, ada coretan di dalamnya ‘Ingin Ibu dan Bapak dapat mahkota di Surga’,” lirih Nur terbata-bata, mengisahkan kedua putrinya yang kini sudah hafal 2 Juz Al-Quran.

Deg..benar saja, saat itu air mata langsung meleleh melewati pipinya. “Ya Allah, nikmat mana lagi yang engkau dustakan!,” lirih Nur tak henti-henti dalam syahdu. (mr)