Derajat Takwa

Derajat Takwa

0 115

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)

 

ALHIKMAHCO,– Di antara ketinggian ajaran Islam, adalah pada dasarnya ia memandang semua manusia memiliki derajat yang sama di mata Allah SWT. Yang membedakan satu manusia dengan manusia lainnya, hanyalah ketaqwaan.

Inna akramakum indallahi atqakum. Tidak ada beda, kemuliaan yang didapat seorang laki-laki dan perempuan. Seorang wanita, bisa mendapat derajat yang sangat tinggi di hadapan Sang Maha Kuasa. Begitupun pria.

Tidak beda, peluang seorang Arab maupun non-Arab untuk mendapat kemuliaan di sisi Allah. Tidak beda pula, kesempatan orang kulit putih dan orang kulit hitam dalam meraih derajat tinggi di hadapan Allah.

Ini adalah salah satu filosofi yang sangat asasi dalam Islam. Bahwa manusia memiliki peluang yang sama, untuk menggapai keutamaan. Derajat ketaqwaan adalah sesuatu yang bisa diraih hamba-hamba Allah manapun di muka bumi ini. Lintas gender, ras, negara, atau kulit warna. Semua berjuang untuk menjadi orang yang bertaqwa, yang mendapat penilaian tinggi di hadapan Allah.

Dalam haji, ini sangat tergambar. Antara lain, hikmah haji adalah mengajarkan kesamaan di mata Allah. Siapapun boleh menempati titik manapun ketika hendak shalat. Siapapun akan mendapat kesempatan berdoa kepada Allah, tanpa harus melalui izin ke pihak manapun.

Pandangan bahwa manusia sama di hadapan Allah, setidak-tidaknya tergambar dalam pakaian ibadah haji. Kaum pria memakai kain ihram yang warnanya sama. Tidak ada desain khusus pada kain ihram, karena ia adalah kain yang tak dijahit, juga tak berbentuk.

Kita ketahui, bahwa zaman sekarang, desain dan mode menjadi salah satu penanda seseorang memiliki level sosial yang lebih tinggi dari orang lain. Memakai kain ihram, kita melepas itu semua. Dan itu mengisyaratkan persamaan manusia di hadapan Allah. Tak ada bentuk, dan tak berjahit.

Bahwa manusia berderajat sama di hadapan Allah pun, sudah tergambar dalam kisah hidup Rasulullah. Beliau menghargai semua sahabat sama baiknya. Dari suku Quraisy, maupun bukan. Bahkan, seorang sahabat Nabi, yang adalah budak kulit hitam bernama Bilal, namun derajatnya dibanding sahabat lain tak kalah mulia.

Nabi bertanya usai ia menjalani peristiwa Isra Mi’raj, “Ya Bilal, apa yang menyebabkanmu masih hidup di dunia, tapi terompahmu sudah ada di Surga?”

Bilal menjawab, “Saya juga tak tahu, wahai Rasulullah! Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”

Nabi kembali bertanya, “Tapi amalan apakah yang terus kau jaga, hingga Allah menempatkanmu di Surga?”

Ia kembali menjawab, “Ya Rasulullah, saya hanya menjaga agar selalu mempunyai wudhu, dan setelah berwudhu saya menunaikan shalat sunnah dua rakaat,”

Bilal adalah seorang sahabat yang berasal dari kalangan hamba sahaya, tapi kemuliaannya tak kalah dengan sahabat-sahabat lain. Satu ketika seseorang memarahi Bilal dan lepas kendali memanggilnya ‘anak dari perempuan kulit hitam’. Seketika itu, wajah Nabi merah padam. Katanya, “Apa bedanya kulit hitam dengan warna kulit lain? Agama ini memberi kesempatan pada siapapun untuk meraih kemuliaan.”

Di dalam haji, itu sangat tergambar. Kemuliaan itu didapat jika haji kita mabrur, sepanjang niatnya hanyalah untuk Allah. Dari manapun dia datang, semua manusia sama di hadapan Allah. Dia pun mendapat peluang yang sama untuk mendapat derajat tertinggi di sisi-Nya. Maka tidak boleh dalam berhaji, kita merasa tinggi dari yang lain hanya karena kita membayar biaya lebih mahal. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Naadzubillah min dzaalik.