Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah

Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah

0 165
Pengungsi asal Suriah, Hashem Alsouki, memertaruhkan nyawanya untuk mengarungi laut Mediterania. Tujuannya dua: Swedia, dan kebebasan keluarganya.

MALAM itu, laut begitu gelap pekat. Meski tak melihat apa pun, Hashem Alsouki dapat mendengar sayup- sayup teriakan orang-orang di sekitarnya. Sepertinya, di antara mereka adalah dua wanita dari Afrika, barangkali berasal dari Somalia, namun bukan saatnya memermasalahkan itu. Tubuh Hashem terlentang, kakinya menimpa tubuh mereka!

Puluhan orang berdesakan di atas perahu kayu itu. Jika seseorang mencoba bergeser, seorang penyelundup akan menendangnya kembali ke tempatnya. Mereka tak ingin perahu yang sesak ini sampai kehilangan keseimbangan dan karam.

Kala itu pukul 11 malam, meski Hashem tak yakin. Ia tak lagi tahu waktu, maupun tempat. Subuh tadi, di pantai di sebelah utara Mesir, ia dan teman-temannya digiring ke perahu kecil ini. Sekarang, perahu yang ia naiki entah terombang-ambing  ke mana, dalam kegelapan yang pekat, terhempas ombak, di suatu tempat di wilayah tenggara Mediterania. Para penumpang berteriak!

Beberapa di antaranya berteriak dalam bahasa arab. Ada orang-orang dari Afrika, ada pula yang berasal dari Timur Tengah. Ada orang-orang Palestina, Sudan, dan Somalia. Atau orang Suriah, seperti dirinya sendiri. Beberapa di antara mereka telah berpindah-pindah selama bertahun-tahun.

Mereka hendak menuju Eropa Utara: Swedia, Jerman, atau tempat mana saja yang memberi mereka kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua setelah mereka meninggalkan kampung halaman masing-masing. Mereka berharap bisa melabuhkan perahu yang ditumpangi di pesisir Italia. Jika semua berjalan lancar, mereka akan sampai Italia dalam waktu 5-6 hari. Namun sekarang, Hashem tak tahu apakah ia, dan yang lainnya, mampu bertahan malam ini.

Satu jam berlalu. Mereka pindah ke dua perahu, yang ukurannya lebih besar. Di setiap perahu, para penyelundup melempar begitu saja para penumpang ke samping, seakan mereka sekarung kentang. Kini mereka memiliki banyak ruang, namun mereka basah kuyup. Mereka harus menyebrangi ombak agar bisa sampai ke kapal, dan kapalnya sendiri pun penuh dengan air. Pakaian mereka lepek, tubuh mereka gemetaran. Lalu, rasa mual mulai merasuk. Muntah.

Seseorang di sebelah kiri Hashem, mengeluarkan isi perutnya ke arah dirinya. Lalu, giliran Hashem yang muntah ke seseorang di samping kanannya. Dia memandang sekeliling, dan menyadari pakaian orang-orang kena lumuran muntah orang lain. “Pesta muntah,” pikirnya.

Ini hanyalah salah satu pengalaman buruk dari tiga tahun pengembaraan Hashem. Dia adalah pria gempal berusia 40 tahun yang memiliki senyum lembut. Rambutnya yang kelabu membuatnya nampak lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Ia pertama kali meninggalkan Damaskus pada 2012. Yang tersisa dari rumahnya hanyalah kunci yang tersimpan di sakunya. Sisanya telah diledakkan pasukan rezim tentara Suriah.

Duduk di dek kapal tiga tahun kemudian, Hashem melarikan diri dari negeri ketiganya sebagaimana tahun-tahun lalunya. Ia memikirkan tiga putranya, Usamah, Mohamed, dan Milad, nun jauh di Mesir sana. Ia rela memertaruhkan perjalanan ini, sehingga mereka tak perlu bersusah payah mengalami kejadian ini. Sehingga, jika nanti ia bisa mencapai Swedia, ia bisa secara legal bertemu dengan istrinya dan ketiga anaknya.

Keluarga Hashem

Negaranya telah hacur, dan di usianya yang menginjak 40 tahun ini, Hashem mengubur dalam-dalam harapan dan mimpi-mimpinya. Namun, anak-anaknya lah yang kini ia perjuangkan. “Aku korbankan hidupku untuk sesuatu yang lebih besar, sebuah mimpi yang lebih besar dari ini,” ia berujar pada sahabatnya, sebelum ia pergi. “Jika aku gagal, maka aku gagal sendirian. Namun dengan mempertaruhkan diri, aku mungkin bisa menggapai mimpi ketiga anakku, dan barangkali cucuku,”

Terutama, ia memikirkan Usamah, putra tertuanya. Kalender menunjukkan tanggal 15 April 2015, tanggal yang sama dengan hari lahir Usamah.  Usia 14 tahun Usamah diawali dengan tangisan ayahnya, permohonan maaf atas kepergian mendadak ayahnya, yang telah meninggalkan mereka, dengan mengetahui kemungkinan mereka tak akan pernah bisa berbincang lagi.

Bagaimana suasana sebenarnya di Suriah? Apa yang dilakukan rezim Syiah Alawi kepada Hashem – yang seorang muslim- di Damaskus, sehingga ia memutuskan untuk pergi dari Suriah? Bagaimana Hashem bisa sampai di Mesir? Apa yang terjadi di lautan gelap? Bagaimana perjalanan panjang seorang Hashem di Eropa? Akankah ia sampai di Swedia? Dapatkah Hashem bersua kembali dengan istri dan tiga anaknya? Kisah ini baru saja akan dimulai. Bersambung


Tulisan ini diterjemahkan oleh Alhikmah dari artikel berjudul The Journey tulisan Patrick Kingsley, wartawan migran The Guardian, dari laman website Theguardian.com.  Foto-foto: Sima Diab. Pelaporan tambahan: Manu Abdo, Sima Diab dan ENAR Bostedt.  (Aghniya/alhikmahco)