Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 6-Akhir)

Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 6-Akhir)

0 89

Hashem Al Souki tengah duduk di sebuah bangku di perpustakaan umum Skinnskatteberg saat ia mendengan kabar buruk itu. Telah enam bulan sejak ia menginjak Swedia, Hashem masih menanti permohonan suakanya dikabulkan. Musim semi berganti musim panas, dan kini, musim dingin akan segera tiba. Dengan berlalunya waktu, ia semakin penasaran: jangan-jangan, suaka yang merupakan sebuah formalitas itu malah tak akan datang padanya. Kekhawatiran Hashem ini nampaknya menjadi kenyataan.

Hashem datang ke perpustakaan itu beberapa kali dalam seminggu, hanya agar memastikan dirinya tengah melakukan sesuatu. Siang ini, ia duduk dan berselancar di Facebook. Ada beberapa pos mengenai kondisi terbaru di Suriah. Tapi, dari puluhan kabar itu, ada satu yang membuat Hashem ingin menangis. Partai politik di Swedia telah sepakat berhenti memberikan suaka permanen bagi pengungsi Suriah, kecuali bagi mereka yang datang sebagai keluarga penduduk. Dan bagi mereka yang tak memiliki keluarga, akan ada pembatasan hak untuk bertemu kembali dengan keluarganya.

Kepala Hashem pening. Jika kabar ini benar, segala hal yang ia upayakan selama enam bulan adalah untuk omong kosong. Ia selamat. Tapi keluarganya, yang kesepian dan ketakutan di sisi lain Laut Mediterania, tak bisa diselamatkan. Atau, tak pernah bisa.

Keputusan Hashem untuk meninggalkan Suriah sejak 2.5 tahun lalu bukanlah untuk menelantarkan mereka. Rezim Suriah telah menyiksanya di dalam penjara, menghancurkan rumah, juga memaksa Hashem pindah dari satu kota ke kota lainnya agar bisa menghindari bom. Maka pada Juni 2013, ia bersama istrinya yang bernama Hayam, dan ketiga putranya, melarikan diri ke Mesir. Berharap menemukan kondisi yang stabil di negeri piramida itu. Tapi pasca revolusi Mesir, kestabilan itu sulit ditemukan. Maka pada April 2015, Hashem pergi dengan kapal penyelundup ilegal ke Italia. Sekira dua minggu kemudian, ia baru sampai ke Swedia. Ia berharap mendapat suaka dan mendaftarkan keluarganya dalam suaka tersebut. Namun, terdiam di perpustakaan, ia tahu ini terlihat mustahil.

“Sayang sekali,” tulisnya pada seorang kawan dengan putus asa, “.. mimpiku telah hancur.”

Enam bulan sebelumnya, tepat pada 29 April. Hashem sampai di Swedia Selatan, dan segalanya nampak begitu terang baginya. Setelah matahari terbenam, ia mengambil kereta ke utara dan menghabiskan waktu bersama kakak iparnya, Ehsan. Kakaknya itu telah sampai lebih dahulu darinya sejak musim semi tahun lalu. Hashem tak pernah lagi melihatnya sejak dua tahun lalu. Esok harinya, Ehsan mengantar Hashem dengan kereta ke Gavle, kota terdekat dari kantor Migrationsverket, kantor migrasi Swedia.

“Halo,” Hashem menyapa penjaga keamanan di sana. “Saya pengungsi Suriah.”

Penjaga itu tersenyum. “Selamat datang,” katanya. Ia lalu membawa Hashem ke resepsionis. Selanjutnya, resepsionis itu menulis dengan detail segala hal tentang Hashem, memberinya kunci, dan menunjukkannya kamar di lantai atas. Rasanya baru pertama kali dalam hidupnya, Hashem melihat  pemerintah memperlakukannya sebagai manusia.

Hashem menghabiskan akhir minggu di Gavle. Pada Selasa, ia diberitahu bahwa ia akan dibawa dengan bus ke pondokan permanennya. Bus itu meluncur melalui daerah pedalaman Swedia, melewati sawah dan danau, juga hutan-hutan lebat. Hashem mengagumi ketenangan negeri itu: keteraturan lalu lintas, serta hijaunya pemandangan. Ini sungguh berbeda dengan yang telah ia alami sebelumnya, begitu pun dengan desa yang ia pijak beberapa jam kemudian.

Inilah Skinnskatteberg, kota kecil dan terpencil, yang hanya diisi 4 ribu penduduk, 90 mil jauhnya dari barat daya Gavle, dan 100 mil ke arah barat daya dari Stockholm. Tempat ini bukanlah lokasi yang akan dipilih negara lain untuk mengasramakan 70 orang asing yang ketakutan karena perang. Namun, dengan gelombang pengungsi ke Swedia, pemerintah berusaha mencari lokasi menetap bagi para pendatang baru.

Sebuah tempat sementara, yang adalah hotel tak terpakai di Skinnskatteberg, yang kemudian semampunya ditemukan pemerintah sebagai rumah bernaung Hashem dan kelompoknya. Reaksi awal Hashem adalah cukup terkesan. Ada halaman kecil di luar dengan beberapa kursi. Di belakang gedung, pemandangan menuju hutan. Mereka ada di atas lereng, sehingga jika mereka berdiri  di luar pintu dan berjalan kaki sedikit saja, akan terdapat pemandangan menakjubkan langsung ke desa dan pucuk menara gereja.

Di dalamnya, kejutan telah menunggu. Sejak disiksa di penjara Assad, Hashem menderita beberapa gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Ia mencoba menjelaskan hal ini dalam bahasa Arab pada staf Migrationsverket, agar ia bisa mendapat penanganan yang lebih spesifik. Namun tanpa penerjemah, mereka tak mengerti yang dikatakan Hashem, dan dia terlalu malu untuk menjelaskan lebih lanjut. Segera saja, mereka pergi, dipastikan tak akan kembali hingga minggu berikutnya. Para petugas itu benar-benar melakukan kunjungan singkat saja setiap minggunya, dari pukul 1 siang sampai dengan pukul dua. Sisanya, para pengungsi ini dibiarkan hidup sendiri.

Tetap saja, setidaknya Hashem memiliki tempat untuk tinggal. Paling tidak, ia di Swedia. Dan setidaknya, desa itu menyenangkan. Dia terkesan dengan gereja di sana. Hashem menemukan danau di sebelah selatan, dan menikmati waktu berjalan-jalan di sekitar sana. Ia pun dengan gembira terkejut dengan tiadanya polisi atau tentara di jalanan, dan fakta bahwa tak pernah ada suara jet perang di atas kepalanya.

Hari Selasa kembali datang. Hashem memakai kesempatan itu untuk memberi tahu petugas migrasi mengenai masalahnya. Waktu yang disediakan yang telah tiba, dan Hashem beranjak ke ruang tamu untuk menjelaskan masalahnya. Lagi-lagi, tak ada penerjemah. Ia mencoba menjelaskan situasinya. Namun tak seorang pun yang memahami. Merasa malu,  ia kembali ke asramanya. Hal yang sama kembali terjadi pekan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Ini situasi yang buruk. Ia telah melarikan diri dari neraka di Suriah dan Mesir. Namun sayangnya, sejauh ini Swedia hanya menyediakan tempat menetap untuknya. Baru pada minggu ke empat, ia benar-benar bisa menjelaskan kondisi sulitnya dengan benar.

Sedikit menengok kembali kondisi di Mesir, istri dan tiga putranya pun ditelantarkan pula. Awalnya, mereka kehilangan sumber pemasukan utama. Hashem sendiri tak bisa menolong. Tak ada pekerjaan di Skinnskatteberg. Selain itu, ia tak bisa berbicara bahasa Swedia. Petugas pengungsian PBB telah memangkas dana mereka. Istrinya, Hayem, lalu bekerja sebagai guru bahasa Arab bagi anak-anak Suriah, namun upahnya tak bisa menutup biaya hidup yang mahal.

Bagian yang paling sulit, bukanlah soal harta yang mereka miliki, tapi pengucilan sosial. Sebagai warga Suriah, hidup di Mesir sangat sulit. Kebencian pada warga asing memang menurun sejak puncak 2013, namun mereka merasa seperti warga terusir. Dan tanpa Hashem, mereka berhati-hati sekali jika harus meninggalkan rumah terlalu lama.

Sementara itu, masalah Hashem sendiri teratasi saat petugas Migrationsverket memahami kondisinya, danmemindahkan Hashem ke ruang pribadi. Sekarang, masalah utamanya adalah rasa bosan dan kesepian. Wawancara suaka baru akan dilakukan pada akhir Agustus nanti, dan sampai saat itu, yang dilakukan Hashem hanya menghitung hari. Di danau, ada sebuah batu besar yang kerap ia kunjungi. Belakangan, itu menjadi kebiasaan baru Hashem. Selama beberapa waktu, ia akan duduk di sana, dan memandangi air. Mencoba merenungi kehidupan.

Waktu berlalu dengan sangat lamban. Hingga suatu hari, beberapa penduduk memulai kelas bahasa Swedia di aula gereja. Ini bukan proyek pemerintah, hanya keputusan beberapa pensiunan secara sepihak. Guru Hashem, Kerstin dan Eva, tak pernah diajari bahasa Inggris sebelumnya, sehingga pelajaran terkadang berjalan dengan sedikit melantur kemana-mana. Tapi, kelas ini lebih dari sekadar mempelajari bahasa. “Ini tentang ikatan!” kata Hashem usai kelas berakhir. Ia harus berteman dengan para penduduk Swedia. Para pribumi sendiri, yang terkadang sedikit merasa kesepian, mendapat sesuatu dari ikatan yang mereka jalin.

Khususnya, Hashem dekat dengan Kerstin, janda yang hidup sendirian di pondok kayu dekat hutan. Ia pernah meminta Hashem membetulkan komputernya, dan jalinan pertemanan itu akhirnya terbentuk. Ini membuat Hashem sering diminta mampir untuk minum teh setelah kelas selesai. Rumahnya tidaklah seperti yang biasa ia temui. Dalam suatu ruangan, Kerstin memiliki alat tenun besar. Di ruangan lainnya, terdapat meja yang dibuat dari kayu yang diukir pada 1623, lampu yang terbuat dari bagian kereta, dan kertas dinding hijau yang penuh dengan gambar daun clover. Ini bukanlah rumah biasa, tapi kediaman Kersten adalah rumah pertama yang menyambut Hashem dengan hangat.

Wawancara suakanya akhirnya akan tiba. Hashem tidak gugup, hanya bergairah. “Ini penetuan takdirku,” kata Hashem. Ia mandi dan bercukur, memasang alarm pukul 6 pagi, dan meminta Ehsan dan Hayam untuk meneleponnya untuk membangunkan. Tak diperlukan, sebetulnya. Ia bangun tepat waktu, bergegas, lalu pada 6.45, bus menuju Vasteras melaju. Ketika bus berjalan, Hashem mulai menyusun seluruh perjalanannya selama ini dalam pikirannya, cemas jika ia tak menampilkan diri dengan sebaiknya dalam wawancara. Pikirannya berkelana pada kondisi saat ia meninggalkan Suriah, juga alasan yang menyertainya. Ia bertanya-tanya, pertanyaan macam apa yang akan mereka tanyakan.

Hashem kemudian segera menemukan jawabannya. Ia bertemu dengan pekerja migrasi, Melalui penerjemah, petugas itu bertanya sejumlah pertanyaan metodis selama lebih dari dua jam. Dari Suriah bagian mana ia berasal? Wilayah apakah itu? Bagaimana situasi di sana? Bagaimana perang mempengaruhinya? Mengapa ia dipenjarakan? Apakah ia mendukung politik tertentu? Mengapa dia meninggalkan Suriah? Pertanyaan-pertanyaan itu tegas, namun tetap menghormati Hashem. Baginya, proses wawancara ini lumayan. Penanyanya memiliki tatakrama yang baik, dan Hashem lega.

Esok harinya, kembali ke Skinnskatteberg, Hashem memulai kebiasaan baru. Ia terus masuk ke laman website Migrationsverket setiap pagi, untuk memeriksa apakah mereka telah memutuskan kasusnya. Ia tahu prosesnya bisa mencapai beberapa minggu, namun pikirnya, hanya memeriksa toh tak akan menyakitinya. Setelah beberapa bulan, ternyata mengecek website mulai terasa sakit. Setiap kali ia masuk laman, tak ada perubahan status yang berarti. Ia memeriksa, dan terus memeriksa. Masih saja tak ada perubahan. Seiring dengan berubahnya September ke Oktober, ia mulai cemas. Apakah ada yang salah? Apakah pewawancaranya tak memercayai Hashem?

Perubahan situasi politik pun tak membantu. Semakin banyak pengungsi yang datang ke Eropa pada musim gugur. Syukurlah, karena kebijakan yang progresif, Swedia melanjutkan aturannya untuk meringankan beban krisis. Ruang-ruang bagi para pencari suaka menurun drastis.

Para oposisi mulai meminta Swedia mengakhiri kebijakannya ini. Segera, pemerintah kehilangan wibawanya, berjanji tak akan lagi memberikan identitas kependudukan pada 2016, juga akses terbatas bagi keluarga. Kebijakan inilah yang membuat Hashem pening di perpustakaan. Tak bisakah masalahnya selesai tepat waktu?

Takut dengan hal terburuk yang bisa saja terjadi, Hashem telah hilang harapan. Penyakit PTSD-nya kembali kambuh. Ia memeriksa website Migrationsverket hampir seperti refleks. Setiap hari, setiap jam, ia mendapat kekecewaan. Ia memeriksanya sebelum sarapan, tidak ada apa-apa. Usai sarapan, ia kembali mengecek. Tak ada. Sebelum makan siang: tak ada. Setelahnya? Sama tak adanya.

Satu hari di bulan Oktober, Hashem akan bertolak ke gereja untuk mengikuti kelas bahasa Swedia. Sebelum pelajaran, ia memeriksa website. Masih belum ada apa-apa. Saat istirahat, ia kembali mengambil ponsel di saku celananya, memasukan kode identitas, dan melihat laman dengan teliti bila ada… ia berkedip. Hashem kembali membaca laman itu. Ada … sesuatu.

“Status aplikasi,” Hashem membaca dalam bahasa Arab. “Permintaan kependudukan Anda, izin bekerja, belajar, serta suaka telah diterima.”

Ia terus membaca sampai paragraf berikutnya.

“Dewan Pengurus Imigrasi Swedia telah memutuskan, untuk menerima atau menolak permintaan Anda.”

Lalu, lagi-lagi, tak ada apa-apa. Tak ada penjelasan apakah putusan mereka positif atau negatif. Tak ada klarifikasi, apakah kasusnya dipertimbangkan sebagai UU pembatasan baru, atau berada di bawah aturan lama. Di sana hanya dikatakan bahwa telah ada keputusan. Hashem harus melapor sekali lagi ke Migrationsverket di Vastaras untuk mencari tahu.

Dua minggu kemudian, Hashem mendapati dirinya kembali menunggu di halte bus Skinnskatteberg. Ia duduk tanpa suara selama perjalanan. Berdoa, berharap tak ada lagi kejutan. Ia masih satu jam menuju Vasteras, namun sudah tak sabar untuk segera sampai di gedung Migrationsverket.

Hashem ingin berada di antrian pertama. Keinginannya terkabul, tak ada orang lain di sana. Ia berjalan-jalan, duduk di kursi, berdiri lagi, dan pergi merokok. Hashem kembali, dan jam masih menunjukan pukul 8.30 pagi. Kekhawatirannya memuncak. Mengapa sangat lama? Apakah aplikasinya ditolak? Atau ada administrasi yang tertunda? Dan jika ia telah mendapatkan suaka, kependudukan mana yang akan ia dapatkan? Permanen? Sementara? Jika hanya kependudukan sementara, dia tak akan bisa mendaftar keluarganya. Dan itu akan menghancurkan seluruh usahanya. Perjalanannya dari Mesir, melintasi Mediterania, lalu Eropa. Semua hanya menghabiskan waktu.

Jam 9, sudah waktunya kantor dibuka. Namun pintu tetap saja tertutup. Di belakangnya, antrian sudah mulai ramai. Hashem ketakutan, hatinya berdegup kencang. Dalam beberapa menit, ia akan tahu nasib kehidupannya di Swedia.

Pintu akhirnya terbuka. Antrian kian sesak. Hashem mengambil tiket dari mesin, nomor 806, dan orang pertama yang dipanggil ke kubikel. Di dalamnya, di belakang kasir, seorang wanita menyapanya muram. Ia mendorong surat ke hadapan Hashem. Segera, ia merobek amplop itu, dan menemukan kartu di dalamnya.

Ia membacanya. Hari itu, tepat 10 November 2015. Tiga tahun setelah ia meninggalkan penjara Assad, dua tahun setelah ia meninggalkan Suriah, dan tujuh bulan setelah ia mengarungi samudera, Hashem akhirnya mendapatkan kata-kata yang selama ini ia tunggu.

“Permanent uppehallstikkstand,” kartu tersebut tertulis. “Kependudukan permanen.”

Selesai.

(Baca sebelumnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 5))


Tulisan ini diterjemahkan oleh Alhikmah dari artikel berjudul A refugee’s journey, part 2: After risking everything to reach Europe, what next?, tulisan karya Patrick Kingsley, wartawan migran The Guardian, dari laman website Theguardian.com(Aghniya/Alhikmah)