Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 5)

Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 5)

0 89

Menuju Swedia?

Apakah dia kehilangan akal sehatnya? Kereta telah memasuki pemberhentian di bagian dalam perbatasan Jerman. Dengan teriakan tiba-tibanya tadi, Hashem bisa saja telah kalah dalam permainannya sendiri. Bagaimana jika ada polisi, lalu seseorang melaporkannya? Atau .. bagaimana jika di antara mereka ternyata adalah polisi?

Seorang wanita tua tiba di tempat tujuannya, dan meminta seseorang bertukar kursi. Lalu, diikuti oleh pria botak dengan janggut berantakan. Sejauh ini, aman-aman saja. Tapi, bagaimana dengan petugas perbatasan? Apa mereka tengah ada di peron? Dari sisi  ini, sedikit mengintip di belakang laman koran Suddeutsche Zeitung, Hashem tak dapat melihat apa-apa.

Menit menit terus berlalu. Seakan telah seabad, kereta akhirnya berhenti. Melalui pengeras suara, seorang wanita mengumumkan agar yang turun lebih dahulu adalah warga Jerman, baru kemudian yang lainnya. Hashem mendesah lega: ia berada di Jerman, akhirnya. Ia menurunkan surat kabar dari pandangannya. Tinggal dua perbatasan lagi.

Jalur kereta Saarbrucken akan menuju Mannheim, dan kereta Mannheim pada akhirnya akan ke Frankurt. Di situlah ia turun. Hasehem menunggu di peron kereta menuju Hamburg.

Jantungnya berdentam keras. Beberapa jam mendatang sangat menentukan hidupnya. Tiba-tiba saja, ia ingin merokok untuk menghilangkan gelisahnya. Hasehem menemukan ruang kecil smoking area di luar peron. Bagi pendatang baru, ini ganjil. Jika ia melewati garis, bukankah itu tidak diizinkan? Tapi jika ia bertahan di sisi ini, maka diperbolehkan? Lalu, apa yang dilakukan wanita yang merokok itu di sebelah sana?

Tiga setengah jam kemudian, Hashem sudah berada di Hamburg, kota cantik lainnya yang hanya bisa ia lihat sekilas. Untuk membunuh waktu yang tersisa, ia mulai berjalan-jalan di sekitar stasiun, dan terpesona dengan dua menara jam gaya gotik di sana.

Namun, hanya ada sedikit waktu untuk berpikir. Sebentar saja, dia sudah berada di kereta lain, yang tidak lebih nyaman dari lima kereta sebelumnya.  Ia berada di kompartemen khusus sepeda, dan harus sedikit menekuk kakinya ketika para pengendara sepeda itu meminta ruang untuk sepeda lipatnya. Sisi kota sebelah sana datar, wilayah yang cocok dengan kincir angin berwarna putih yang dilalui kereta itu tiap milnya.

Matahari telah tenggelam saat Hashem sampai di Flensburg, kota terakhir di Jerman. Pukul 20:56, kereta menuju Fredericia telah menunggu, dan perbatasan Denmark membentang satu mil di luar sana. Hashem memasuki kereta, dan duduk di kursi terjauh dari pintu. Bahasa yang digunakan pengeras suara berubah: dari bahasa Jerman, ke bahasa Denmark.

Hashem kembali menenggelamkan dirinya dalam kamuflase: kali ini di balik majalah Denmark Ud & Se. Lalu ia menanti. Seharusnya tak akan terlalu lama sampai ia berada di tujuannya: dalam lima menit, ia akan sampai di Padborg, stasiun pertama Denmark, dan merupakan batas kedua terakhir dari negeri yang ia tuju. Apa yang menunggunya di sana?

Ada sesuatu yang buruk, begitu awalnya ia berpikir. Di sana, berdiri dekat peron di Padborg, terdapat dua orang Denmark mengenakan pakaian seperti seragam. Hashem langsung tenggelam dalam kursinya, dan seketika mempersiapkan yang terburuk. Salah satu diantaranya berjalan lambat di gang-gang kereta sampai berada di depannya. Denting kunci milik orang itu semakin dekat dan makin dekat hingga akhirnya ia berhenti di samping meja Hashem. Hashem meliriknya. Dia hanya pengawas tiket yang menggantikan rekannya.

Pukul 10: 31 siang, kereta bertolak ke Fredericia. Ini adalah jalur utara terjauh yang pernah Hashem lalui,  ia mengigil. Sungguh dingin. Ia menunggu di ruang tunggubayang lampu Poul Henningsen menggantung di langit-langit. Ia telah mendapat salinan surat kabar Politiken sebagai kamuflase terbarunya. Hashem tak bisa merokok di ruangan itu, hingga dia terus menerus keluar masuk, terbelah antara keinginan mengkonsumsi nikotin dan kehangatan. Pukul 11 siang, kereta menuju Copenhagen tiba. Segera saja, ia meluncur ke ibu kota Swedia itu.

Dua setengah jam kemudian, di pagi hari Selasa, Hashem mendarat di peron ibukota. Tepat tiga belas hari setelah meninggalkan Mesir, enam hari setelah tiba di Italia, dan satu setengah jam lagi dengan kereta dari salah satu kota suci umat Kristiani. Pertama-tama, dia harus terlebih dahulu membeli tiket.

Dan untuk membeli tiket, terbukti sulit. Booth pertama memerlukan kartu kredit: tak ada pengungsi Suriah yang membawa benda semacam itu. Kedua, yang boleh menggunakan uang cash, melahirkan masalah baru: kini ia berada di luar wilayah Euro, dan ia tak memiliki yang krona Denmark satu pun. Pada pukul 1:30 pagi, tak banyak bureaux de change  yang bisa menolongnya.

Maka, tertatih-tatih Hashem pergi ke jalanan yang lengang, dan menemukan Seven Eleven. Letaknya ada di perempatan yang terang benderang seperti lukisan Hopper. Apakah mereka mau bertukar dengan yang Euro? Kasir menjawab ya, namun hanya sepuluh euro. Tapi itu tak cukup.. Tiket ke Swedia berharga sekira sama dengan 18 atau 19 euro. Hashem pun memohon agar diizinkan membayar dengan uang sebanyak 20 euro, dan harus mengambil kembaliannya. Kasir itu menyerah. Baiklah.

Hashem lalu mengelilingi toko, berharap bisa membeli benda termurah di sana. Ia akhirnya menemukan paket kecil permen karet, dan ia mendapat kembalian dalam bentuk krona. Beberapa menit kemudian, ia sudah mendapat tiket ke Swedia.

Dan kereta itu, rupanya tak segera datang. Hashem sudah lelah, secara fisik, mental, emosional. Tiga tahun yang ia lalui telah membubuhkan trauma berkepanjangan dan penghinaan yang tak dapat ia lupakan. Dalam kurun waktu dua minggu, ia bisa saja tertangkap, mati, atau kelaparan saat menyeberangi lautan. Ia mengalami kehausan, lapar, bau, kurang tidur, dan kini, ia merasa khawatir. Terlebih, setiap langkah yang ia ambil, mengakibatkan perih dari kakinya yang terinfeksi.

Kereta tiba, bertolak menuju timur. Pertama-tama berhenti di Orestad, lalu Taarnby, dua wilayah di timur Kopenhagen. Malam telah larut, namun ia masih melihat penumpang naik-turun. Hashem memperhatikan setiap orang yang ada di kereta: yang ia tahu, semua orang bisa saja adalah polisi perbatasan. Kerata akan menuju wilayah di dekat  bandara Kopenhagen, stasiun terakhir. Ia kini hanya perlu melewati selat Oresund. Jembatan membentang antara Hashem dan tanah yang dijanjikan. Ia menekan tangannya kuat-kuat, menggesekannya satu sama lain. Resah.

Kereta itu memasuki jembatan. Dari luar, terlihat hitam kelam, selayaknya berada di terowongan. Hanya cahaya dari tepi laut yang nampak dari kejauhan. Hashem harus melalui batas negara terakhir dari dua minggu perjalanannya yang menyiksa.

Cahaya itu kian dekat, sampai jendela di samping kursinya setara dengan kemilau itu. Ia telah melintas sampai Swedia. Kereta mulai melambat, melewati lampu demi lampu hingga tiba di Hyllie, stasiun pertama Swedia. Perubahan antara dua negara (Denmark dan Swedia) hampir tak kentara: hanya huruf Ø berganti menjadi Ö, yang menandakan ia telah pindah negara.

Akankah ada kejutan lainnya setelah ia sampai di sini? Hashem melongok ke jendela, berjaga-jaga jika ada petugas kepolisian di peron, yang akan berusaha menggagalkan usaha Hashem sejauh ini. Namun, tak ada satu pun. Bahkan, tak ada pengunjung. Pintu-pintu berdebam, suara kereta di belakang bergemuruh di kesunyian.

Apakah Hashem berhasil? Ia masih belum percaya, dan berulang kali memastikan segalanya sebelum ia benar-benar bergembira. “Apakah kita,” bisiknya, terlalu takut mengatakannya keras-keras. “.. di Swedia?”

Tiba-tiba saja, pandangannya menjadi jelas, seringai menghiasi wajah Hashem setelah berhari-hari lamanya. Hashem mengangkat jempolnya, ragu-ragu awalnya, lalu genggaman tangannya menjadi tegas. Seolah bangga, atas keberhasilannya. Ia menggaruk telinga kanannya, membiarkan semua kenyataan ini mengendap dalam diri Hashem perlahan. Saat itu, pukul 2:41 malam, tanggal 22 April 2015, ia berhasil mencapai sebuah tempat yang kelak akan ia sebut rumah. Hashem memejamkan matanya, seraya menarik nafas dalam-dalam.

Di Malmo, salah satu kota besar di Swedia, ia menelepon Hayam, nun jauh di Mesir.

“Aku sampai di Swedia.”

Bersambung…

(Baca sebelumnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 4))

(Baca selanjutnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 6-Akhir)


Tulisan ini diterjemahkan oleh Alhikmah dari artikel berjudul The Journey tulisan Patrick Kingsley, wartawan migran The Guardian, dari laman website Theguardian.com.  Foto-foto: Sima Diab. Pelaporan tambahan: Manu Abdo, Sima Diab dan ENAR Bostedt.  (Aghniya/Alhikmah)