Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 4)

Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 4)

0 79

Melintasi Eropa

Ia kini berada satu kilometer di dalam perbatasan Perancis. Hashem ragu, apakah aman jika ia meninggalkan toilet sekarang? Sepuluh menit lalu, ia mencoba bersembunyi di tempat itu. Melarikan diri dari polisi. Apa mereka sudah pergi? Jika belum, akankah mereka memeriksa toilet?

Hashem tak terpikir akan seperti ini. Ia mengira perjalanannya di kapal laut kemarin adalah yang tersulit, bukan setelah ia siap mengembara di Eropa. Tapi lima hari selepas turun dari kapal, ia mendapati dirinya harus mengatasi rintangan yang sebelumnya tak pernah terlintas sejak sampai di Italia. Jadwal kereta api, melintasi perbatasan, juga .. polisi.

Saat ini, polisilah yang harus diwaspadai. Sekelompok pria berpakaian militer memasuki kereta ke Menton, stasiun pertama di perbatasan Perancis. Mereka mencari orang-orang yang serupa dengan Hashem, para pengungsi yang mencoba meninggalkan Italy. Baru saja ia memasuki toilet, saat itu juga mereka berhasil menangkap dua pengungsi Eritrea di kompartemen yang sama. Keduanya duduk tak jauh dari Hashem. Mereka akan dibawa pulang ke Milan, dimana mereka akan diambil sidik jarinya. Itu menandakan, dua orang itu harus meminta suaka mereka di Italia.

Inilah yang hendak dihindari Hashem. Ia kini di Eropa, dan ia berhak meminta suaka di manapun. Awalnya, dia akan melakukannya di Italia, negeri pertama yang ia datangi. Tapi jika begitu, akan membutuhkan waktu lama hingga ia bisa bertemu dengan istri dan anak-anak. Proses perizinan pertemuan keluarga di Italia nampak sangat lambat, pun dengan Perancis. Maka Hashem bertujuan ke Jerman, dimana prosesnya diperkirakan akan lebih singkat. Atau bahkan mungkin ke Swedia, dimana para pengungsi Suriah diizinkan tinggal tanpa batas waktu. Bagi Hashem, itu adalah harapan yang sangat mewah: masa depan jangka panjang di sebuah tempat yang bisa membuat anak-anaknya hidup tanpa ketakutan.

Pertama-tama, ia harus melintasi Eropa. Namun, di luar toilet, polisi berlalu-lalang di koridor kereta. Hashem menunggu. Inilah yang akan ia lakukan: menunggu hingga mereka pergi. Ia berpikir, mencoba menghibur diri. Mungkin mereka tak akan memeriksa dua kali, hanya melihat-lihat keadaan. Mereka akan bosan, lalu pergi. Iya kan?

Menit-menit berlalu. Kereta itu tak bergerak. Tentu polisi-polisi itu ada di kompartemen lain. Mereka pasti sudah pergi. Ini sudah terlalu lama. Maka ia memutuskan untuk membuka kunci pintu toilet, sambil menarik nafas dalam-dalam, ia keluar. Sebuah keputusan yang akan menentukan tak hanya hidupnya, namun juga istri dan anak-anaknya.

Dia kembali memasuki kompartemennya, melihat sekeliling. Tak jauh dari sana, terhalang tempat duduk di depan Hashem, berdiri polisi Perancis.

Lima hari sebelumnya, ia sangat gembira bisa bertemu otoritas setempat. Perlu satu hari penuh untuk mencapai Katania, sebuah pelabuhan di Sisilia, dan selama perjalanan para migran tak bisa berhenti berterimakasih pada para penyelamat mereka. Orang-orang tidur larut, berbincang tentang rencana mereka. Ada yang hendak ke Swedia, ada pula yang ke Jerman. Mereka akhirnya sampai di pesisir Sisilia, Rabu 22 April pagi.

Di pelabuhan, Palang Merah memeriksa kesehatan Hashem, dan memberinya roti lapis. Setelah beberapa jam, muncul rentetan bus, dan para migran berjejalan di dalamnya. Tak ada yang tahu kemana mereka pergi, hanya bersumsi akan dibawa ke kamp bagi para pencari suaka. Namun, malam tiba, dan bus itu tak berhenti melaju. Seseorang bertanya pada supir, kami akan dibawa kemana? Venice, jawab supir itu.

Mereka yang memegang telepon genggam langsung memeriksa Venice di peta. Mereka terkejut, dan gembira, itu adalah ujung lain dari negeri Italia. Mereka semua ingin pindah ke wilayah utara, dan kini, orang-orang Italia ini mengabulkannya.

Tiga puluh jam kemudian, Hashem mencapai stasiun Milan. Ia bergabung dengan ratusan migran lainnya untuk merenungkan langkah mereka berikutnya. Hashem menatap sekelilingnya dengan penasaran. Ia dikeliling patung-patung, lampu hias, dan papan pengumuman berbahan pualam. Selama beberapa menit, stasiun itu terasa seperti istana indah, yang dibuat bagi para migran.

Para relawan dari lembaga sosial setempat menawari air dan makanan. Lainnya berkeliling, mencoba mencarikan tempat menetap bagi perempuan dan anak-anak. Tangisan panjang mengiringi para migran saat mengingat kembali hari-hari sebelumnya. Seraya duduk di kursi pualam, pengungsi Suriah lainnya berkisah bagaimana ia ditahan empat bulan lalu di pelabuhan Libya.

Di Stasiun Milan ini, bahkan ada Wi-Fi. Hashem menyalakan sistem telepon genggamnya, mencoba menyalakan Whatsapp pertama kali sejak ia di Mesir. Pesan-pesan yang belum terbaca langsung membanjiri kotak masuknya.

Berada di benua baru, bagaimanapun, membawa masalah baru pula. Bagaimana caranya ia menggeliat menaiki kereta api, menuju Swedia? Dia tak pernah benar-benar memikirkan ini sebelumnya. Ia kira akan langsung saja. Alih-alih, ia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit: melintasi perbatasan, atau menghindari polisi.

Ia pun membutuhkan uang. Ia juga perlu tahu lajur kereta api, tapi tak satu pun yang Hashem pahami. Di kerumunan orang banyak, ia mencoba membaca papan keberangkatan kereta. Nampak seperti tulisan Mesir kuno.

“Laut sih mudah!” Hashem tersenyum, setengah berguyon. “Langsung saja menuju Italia, Tanpa perubahan, polisi, stasiun, atau sidik jari,”

Siang berganti malam, stasiun itu sedikit demi sedikit mulai menghening. Hashem ingin tidur nyenyak malam ini. Tak seperti sepuluh hari sebelumnya, saat ia masih terombang-ambing di lautan. Ia juga ingin membersihkan diri. Lebih dari seminggu ia mengenakan pakaian yang sama. Hashem sampai tak nyaman dengan kulitnya sendiri. Di kakinya, ia merasakan kulitnya terkena infeksi.

Di sekelilingnya, beberapa pengungsi mulai tak tenang. Seorang pria menghantamkan kepalanya ke tumpukan barang. Lainnya mencaci dengan frustrasi: “Kita telah diperlakukan seperti binatang ternak ke manapun kita pergi – di Libya, Sisilia, dan sekarang di sini.” Relawan setempat menetap dan berjaga di lokasi sepanjang malam. Namun, tak semua orang menyambut antusias tindakan mulia mereka. Suara-suara orang yang hanya lewat menggema sampai ke tempat mereka: “Mengapa kamu menolong para imigran ini? Bukankah kalian sudah cukup miskin?”

Hashem tak ambil peduli. Masalah besarnya saat ini adalah perjalanan kedepan berikutnya. Kemana ia harus pergi? Bagaimana cara ia pergi? Menggunakan kereta adalah rute paling mudah tentu, namun bukan berarti aman, terutama di perbatasan Italia. Banyak pengungsi Suriah yang mencoba mencapai Jerman dengan kereta hari itu. Semua, kecuali dua orang, tertangkap saat mereka mencoba menyebrangi Austria.

Lelah dan limbung, Hashem masih harus berkelana di daratan Eropa. Namun ia tak yakin harus bagaimana.

Setidaknya, dia harus mencapai Jerman, yang kebijakan pemerintahannya jauh lebih murah hati. Namun inginnya, ia bisa pergi ke Swedia, di mana para pengungsi Suriah dijanjikan mendapat suaka permanen. Dia sudah sejauh ini, namun langkah selanjutnya bisa sangat fatal. Ada beberapa pilihan yang ia pertimbangkan:

Dengan mobil, langsung ke utara?

Ke Jerman..?

.. atau ke Swedia melalui Perancis?

Opsi lainnya adalah dengan mobil. Di pertengahan malam, orang-orang mulai berbagi nomor dengan para penyelundup, yang bisa mengantarkan mereka ke utara secara berbayar. Ada pilihan yang jauh lebih aman: tak ada mau yang menghentikan mobil di perbatasan Eropa, dan kita tak diharuskan melalui sistem yang tak kita pahami, Seseorang asal dari Malmo, Swedia, mengatakan ia bisa memberi tumpangan pada empat orang, lansung ke Swedia dengan harga £875 untuk masing-masing orang. Lainnya memberi tarif £750 untuk perjalanan ke Kopenhagen.

Namun bahkan rute ini, masih ada risikonya. Salah satu dari pria itu menginginkan setengah biaya sebagai uang muka, sebelum pergi dari Italia. Tapi bagaimana jika setelah dia mengantongi uang itu, ternyata mereka gagal? Itu adalah uang yang amat banyak, jauh lebih banyak dari harga kereta. Pria dari Kopenhagen itu bahkan tak mau mengurangi ongkosnya.

Esok harinya, Hashem masih mengalami dilema. Kakak iparnya, Ehsan yang kini menjadi dokter di Swedia, meminjamkannya uang via Western Union agar ia bisa bertahan hidup.  Saat mengantri, ia memperhatikan bahwa tak hanya dia yang tengah kesulitan uang. Pun, uang yang dikirimkan saudaranya hanya £500.

Harus ia pakai untuk apa? Pada akhirnya, Hashem memilih jalan dengan kereta via Perancis. Baik mobil, maupun kereta, memiliki risikonya masing-masing. Tapi setidaknya kereta jauh lebih murah, dan potensi dicari polisi jauh lebih sedikit.

Maka, jam 7 pagi itu, ia bertolak ke kota Nice. Sepanjang jalur keretanya seakan memeluk pesisir pantai, yang menghadap langsung ke bagian barat bukit Piedmont. Kereta melesat cepat, keluar masuk terowongan. Sekilas, Hashem melihat trotoar yang berwarna pastel, dan lereng-lereng bukitnya yang curam. Sering, meski yang kerap ia lihat adalah laut, dan pemandangan itu sering membuatnya takut, rasanya ia tak bisa jauh saja dari Mediterania.

Segalanya mulai tak berjalan lancar di Menton, stasiun pertama setelah perbatasan Perancis. Di sana, Hashem menemukan jantungnya berdentam keras, terduduk takut di salah satu toilet kereta. Di sana pula, ia lebih dulu menyadari keberadaan polisi yang berjaga tepat di depan kursinya.

Hashem menelan air ludahnya. Seharusnya, ini adalah rute eraman. Apakah begini akhirnya? Ia terpikir untuk memutar balik, tapi itu justru akan memancing perhatian orang-orang. Jika dia melangkah ke depan dengan sengaja, polisi itu mungkin tak akan sadar. Mereka tak mengecek siapa-siapa. Dan ia berharap polisi tak terlalu lekat menatap pakaian Hashem. Sebab jika saja tak ada ketombe mengerak di kerah bajunya, atau kaus kaki baunya, mungkin, hanya mungkin, ia akan tampak 100% seperti pria Perancis.

Setidaknya, itulah yang ia harapkan saat ia bergerak maju ke tempat duduknya. Polisi itu menatapnya. Hashem mengangguk padanya. Sekilas, petugas kepolisisan itu berkedip, dan membiarkannya lewat.

Hashem lolos kali ini, tapi ia masih khawatir. Seiring dengan kereta melaju ke Nice pada jam 10 saat itu, Hashem berkutat dengan pikirannya. Jika kondisinya seperti ini di setiap perbatasan, apakah akan ada gunanya jika ia mencoba terus ke Swedia? Barangkali ia bisa mencoba sebisanya menuju Calais, dan mencoba naik ke gerbong ke Inggris. Sejauh  ini, mungkin itu rute yang paling mungkin bisa dilalui.

Tapi gawatnya, tak ada kereta menuju Paris yang memiliki kursi kosong selama enam jam kedepan. Semua telah dipesan. Maka, Hashem harus menghabiskan waktu sorenya dalam ketakutan. Karena bisa jadi, itulah akhir baginya. Membeli tiket pun, terasa siksaan baginya. Dia tak mengerti mesin yang harus dijalankan, sehingga ia mau tak mau berkali-kali membatalkan transaksi dan mengulanginya. Di antrian belakangnya, orang-orang mulai tak sabar. Mengetukkan kaki mereka dengan keras. Tak bisakah, ia melalui ini?

Pada akhirnya, ia bisa melalui itu. Hashem melalui sorenya yang suram di sekitar Nice. Ia berjalan-jalan, melihat-lihat gereja, taman, duduk di kursi taman, sebelum ia berbalik ke stasiun saat matahari terbenam. Pada loper koran, ia membeli surat kabar, benda yang bisa menyembunyikan wajahnya di keramaian. Ia berpura-pura menjatuhkan surat kabar bernama Le Monde itu.

Trik saja, sebenarnya. Pengawas tiket menyapanya dalam bahasa Perancis. Hashem menjawabnya dengan anggukan canggung, lalu buru-buru duduk di kursinya. Di kereta malam itu, ia mencatat dengan kagum, kursi terbuat dari sutra itu begitu nyaman diduduki, bahkan dipakai tidur. Hashem membuat dirinya nyaman, mencoba memejamkan mata. Tapi ketegangan membuat Hashem terus terjaga sepanjang malam. Yang ia pikirkan hanya perbatasa Jerman.

Fajar menyingsing, menyingkap pinggir selatan kota Paris. Beberapa saat kemudian, hampir 12 jam setelah ia meninggalkan Nice. Kereta sendiri baru tiba di ibukota pada Senin pagi, 27 April, setelah perjalanan selama 12 jam. Bagi Hashem, ini adalah pagi ke-12 sejak dari Mesir. Kereta jarak pendek membawa Hashem dari Gare Austerlitz ke Gare de l’Est. Kini, hanya tinggal sepenggal perjalanan kereta saja menuju Jerman.

Sebenarnya, ia bisa mencapai Swedia pada Subuh besok. Di Paris, ia bisa membeli tiket ke Hamburg, via Frankurt. Dari Hamburg, rentetan jalur kereta bisa membawa Hashem ke Kopenhagen. Dari sana, hanya setengah saja melintasi jembatan Øresund menuju Swedia.

Setelah pukul 9 malam, ia menaiki kereta dari Paris, langsung menuju Frankurt. Dua jam dua puluh menit menuju perbatasan. Kecemasan melandanya lagi. Hashem tak berniat berhenti sampai Jerman, tapi setidaknya ia harus bisa mencapai negeri itu agar bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Itulah yang penting.

Hayam, istrinya, menulis sms: dimana kau sekarang? Hashem tak menjawab – setidaknya belum. Ia tak mau sesumbar pada istrinya.

Kereta melaju keluar dari Paris, dan Hashem mengambil surat kabar Charlie Hebdo yang tergeletak di meja. Cover surat kabar itu menunjukan kartun Kate Winslet nampak diantara satu kapal berisi migran. “Un Titanic par semaine,” katanya. “Titanic Setiap Hari.” Hashem tak begitu mengerti. Siapa pula wanita ini? Namun ia tetap tersenyum. Ia paham, ini pun tentang para pengungsi sepertinya.

Pada pukul 23.30, kereta melewati perbatasan negara Jerman, dan perlahan mendekati Saarbrucken. Hashem menyibukkan dirinya. Ia menyibakkan ketombenya, mengenakan headphone ke telinganya, dan membenamkan diri dengan bacaan Süddeutsche Zeitung yang ia beli di Paris. Tak satu pun kata-kata yang ia mengerti, dan Hashem berharap tak ada orang yang mengetes bacaannya.

Kereta itu melintasi jembatan di atas sungai yang memotong jumputan kecil rerumputan lebat. Sungguh pemandangan yang cantik. Tiba-tiba saja, ia lupa diri. “Manzar gameel,” katanya keras-keras, mengalahkan musik yang berdengung di telinganya. “Pemandangan yang indah.”

Seisi kompartemen tersentak. Beberapa orang membalikkan tubuh dan menatap Hashem. Lalu,  kereta menghentikan lajunya di Saarbrucken.

Bersambung

(Baca sebelumnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 3))

(Baca selanjutnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 5-Akhir)


Tulisan ini diterjemahkan oleh Alhikmah dari artikel berjudul The Journey tulisan Patrick Kingsley, wartawan migran The Guardian, dari laman website Theguardian.com.  Foto-foto: Sima Diab. Pelaporan tambahan: Manu Abdo, Sima Diab dan ENAR Bostedt.  (Aghniya/Alhikmah)