Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 3)

Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 3)

0 73

SOS

Kira-kira pada Senin siang, 20 April 2015, dalam sebuah kapal di tengah-tengah laut Mediterania, salah seorang teman seperjalanan Hashem memanggil seseorang melalui telepon. Pria tersebut satu-satunya suara yang terdengar di perahu tersebut. Mesin perahu telah dihentikan, dan ratusan orang yang berjubel di dek kapal tegang menunggu apa yang hendak pria tersebut katakan.

Nada panggil terhenti. Seorang wanita mengangkat teleponnya. Ia seorang aktivis asal Syria yang menetap di Sisilia. “Kami berada di tengah-tengah laut Mediterania,” kata pria tersebut, saat wanita itu mulai berbicara. “Ada sekira 600 orang – 200 orang perempuan, juga 100 orang anak-anak. Sudah tiga hari ini kami kehabisan air,”.

Suara aktivis itu tampak tenang. Nawal Soufi menjadi titik kunci komunikasi bagi orang-orang Syria untuk bisa sampai di Itali melalui perahu. Beberapa kali dalam seminggu, mereka menjalin kontak.  Setelah perahu para migran ini mendekati perairan Italia, mereka memanggil Soufi, yang lalu segera memanggil penjaga  pantai disana.

Pria tersebut melanjutkan, “Kapten kami melarikan diri,”.

Ini kebohongan belaka, demi menolong para kru kapal terlepas dari hukuman, jika perahu ini berhasil diselamatkan. Tapi, ini bukan saatnya berdalih. Pada hari para pengungsi ini meninggalkan Mesir, tersiar kabar 400 orang migran tenggelam di Italia Selatan.  Sehari sebelumnya, 800 orang mati di suatu tempat di Mediterania, yang disebut-sebut bisa membuat kapal secanggih apapun karam. Resiko bahwa perahu ini akan menjadi perahu berikutnya yang karam sangat besar.

“Demi Allah,” ujar pria itu. “Ada banyak wanita dan anak-anak dalam perahu ini. Kami tak tahu apa yang harus kami lakukan pada mereka,”.

Soufi mengambil alih percakapan. “Dengarkan ucapanku baik-baik,” katanya. Dia mengacuhkan koordinat yang diberitahu para kru kapal. Menurutnya, para kru itu sering salah. Alih-alih, Soufi memintanya memeriksa pengaturan teleponnya setelah mereka mengakhiri panggilan. Ia juga meminta pria tersebut langsung mengiriminya pesan terkait lokasi yang ditunjukan GPS. Setelah itu, baru ia akan memanggil para penjaga pantai.

“Aku minta satu hal padamu,” ucap Soufi. “Pastikan semua orang dalam perahu mengenakan pelampung saat ini. Jika ada yang tak memilikinya, satu pelampung bisa digunakan dua orang. Jangan kira laut tempatmu berada itu aman. Kapal bisa karam kapan saja, bahkan meski kapalmu telah diselamatkan.”

Ketika pertama kali sampai di Mesir, Hashem tak membayangkan nasibnya akan seperti ini. Mesir seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para pengungsi Syria – setidaknya begitulah keadaannya ketika ia sampai disana, akhir Juni 2013 lalu. Namun dalam beberapa hari setelah kedatangan Hashem, banyak hal berubah. Pada 3 Juli 2013, presiden pertama yang dipilih melalui pemilu, Mohamed Morsi, digulingkan oleh para tentara militer, seminggu setelah massa menentang pemerintahannya. Seketika, perlakuan negara tersebut pada para pengungsi Syria berubah dalam semalam.

Perbatasan ditutup bagi mereka yang tak memiliki visa. Jika dokumen tak lengkap, orang-orang akan ditahan dan diperiksa. Pemerintah dan media setempat mulai mengklaim orang-orang Syria adalah teroris, atau menyebut mereka pendukung Morsi.

Bagi Hashem dan keluarga, itu adalah pengalaman suram. Setelah munculnya ISIS, pemilik supermarket di Mesir memarahinya, seakan munculnya para ekstrimis itu adalah salahnya. “Kalian yang membawa Daesh kemari, kau pasti adalah Ikhwanul Muslimin,” bentaknya.  Itu adalah sebutan warga Mesir untuk ISIS, dan pergerakan  politik Morsi. “Kembalilah ke negerimu sendiri,”.

Sama sekali bukan saran yang bagus. Sebagai gantinya, mereka pun memutuskan pergi ke Mediterania.

Setelah sebulan gagal  mencoba mencari cara, pada 6 September 2014, keluarganya akhirnya sampai di pesisir pantai utara Mesir. Disana, mereka berharap bisa menemukan perahu penyelundup menuju Eropa. Tatkala mereka tiba, lusinan pengungsi bersiap mengarungi ombak agar bisa naik ke dua perahu yang beberapa meter jauhnya dari tepi laut. Hashem, Hayam, dan anak-anak lelakinya menunggu gilirannya.

Namun, giliranmereka tak pernah datang. Alih-alih, mereka justru mendengar: “Polisi, polisi!”. Dalam sekejap, orang-orang berseragam muncul di pantai, seraya menembakkan senjata. Orang-orang berlarian. Hashem dan keluarganya tetap ditempat, yang menyebabkan mereka menghabiskan delapan hari berikutnya di penjara.

Kini, delapan bulan kemudian, ia mencoba mengulangi drama itu lagi. “Jika kau seorang pengungsi, kau perlu mencoba 10 kali untuk bisa tinggal disini,” tukasnya. Ia mengenakan pelampung, hadiah dari temannya. Di punggungnya, tersampir tas kecil berisi barang-barang penting. Jentera arlojinya, pakaian hangat berwarna biru, juga buku catatan. Surat-surat tanda identitas, dan sebuah laporan mengenai kehancuran kota Haran Al Awamid dari organisasi Human Rights Watch, tersimpan aman dalam sebuah kantong tahan air yang ia gantungkan di leher.

Kali ini, dia hanya sendiri. Ia tak berani mempertaruhkan keluarganya dalam situasi ini kedua kalinya. Namun, satu jam setelah ia berhasil meninggalkan Mesir, ia ragu ia bisa bertahan sendirian. Tubuhnya basah kuyup, dilempar beberapa kali dari satu perahu ke perahu lain, dan terlumur muntahan. Di perahu ketiga, yang seharusnya bisa membawanya ke Italia, ia merasa malam seakan tiada akhir.

Fajar menyingsing, akhirnya. Mulai terasa hangat, dan pakaian mereka mulai kering. Pertama kalinya, orang-orang mulai terbiasa menatap satu sama lain. Mereka berbagi pil anti-mabuk dan lemon untuk menghilangkan mual. Orang-orang tersenyum, dan mulai berbincang. Sekejap lagi, mereka akan sampai.

Tapi pertama-tama, ketika matahari mulai tergelincir, perubahan terjadi. Para penyelundup sadar mereka akan kehilangan kapal ini setelah tiba di Italia. Sebab itu, mereka akan menggunakan kapal yang lebih tua, dan jelas, lebih lambat. Para penumpang tak senang, namun tahu tak ada gunanya mengeluh. Kapal yang karam tahun lalu, dikabarkan terjadi karena para migran menolak pindah. Katanya, dua kapal yang dikendarai penyelundup itu saling bentur. Akibatnya, kapal pertama tenggelam.

Dua malam berlalu, matahari terbenam lagi. Matahari terbenam yang amat cantik. “Hanya kami, laut, matahari. Tak ada yang lain,” Hashem menulis di catatan hariannya. Ia mengeluarkan ponsel dan memfoto pemandangan tersebut. Namun ketika ia memandangi hasilnya, barulah ia menyadari sesuatu yang janggal. Bukankah matahari terbenam di sebelah barat? Lalu mengapa perahu ini berlayar menuju barat? Hashem menyampaikan keanehannya pada teman seperjalanannya. Lihat matahari itu, katanya. Apa kita berlayar kembali ke Mesir?

Orang-orang mengangguk, dan kabar ini langsung tersebar ke seluruh kapal. Orang-orang mulai gempar. Terlalu jauh untuk kembali, mereka merasa geram. Sang kapten muncul. Dengan tenang, ia berucap bahwa bosnya ingin menjejalkan 30 orang tambahan. Tigapuluh? “Ya,” kata sang kapten, sebelum para penumpang protes. “Mereka membayar  $60.000.”

Senin tiba, dan mereka sudah memasuki hari kelima di perahu itu. Emosi mulai mereda. Di dek bagian belakang perahu, Hashem membangun persahabatan dengan penumpang lainnya. “Tempat ini berisi komunitas-komunitas, mulai dari keluarga, individu, muda dan tua, putih dan hitam,” kembali, ia menulis di catatan hariannya. “Sebuah komunitas kecil yang mengharuskan setiap orang bekerjasama dengan yang lainnya.”

Sekira siang, seorang pengungsi asal Syria dengan suaranya yang keras meraih telepon. Ia memanggil Nawal Soufi. Seluruh penumpang kapal seketika diam dan menunggu. Satu jam, atau mungkin tiga jam. Para kru kapal meninggalkan tempatnya dan mencari tempat diantara para penumpang. Ini dia, pikir Hashem. Berakhir sudah perjalanan kami.

Dan begitu pula yang orang lain pikirkan – sampai sebuah helikopter terbang merendah, memotret mereka dari atas perahu. Kapten mereka mendongak. Itu pesawat intelijen Yunani, ujarnya, bukan Italia. Orang-orang ikut mendongak. Pesawat Yunani? Apa mereka masih berada di perairan Yunani? Terlalu. Perairan Yunani dijaga oleh penjaga pantai Yunani dan para agen penyelamat Yunani. Tak ada yang berniat menuju Yunani. Berada di Yunani bisa menjadi bencana. Sebab itu berarti, mereka perlu melewati Makedonia dan Serbia, jika ingin sampai ke Jerman.

Para penumpang mulai rebut. Mereka sudah membayar agar bisa sampai di Italia, bukan Yunani. Mereka menuntut perahu putar haluan. Tak ada yang bisa kita lakukan, ungkap kapten. Penjaga-penjaga pantai telah dipanggil, atau kalian bisa melompat mati ke laut, lanjutnya. Tak ada yang bergerak. Akhirnya, ia pun pergi ke ruang kemudi. Sang kapten menyalakan mesin, perahu itu melaju sangat-sangat cepat dari sebelumnya. Hashem termangu, kebingungan, sampai ia jatuh tertidur, tanpa mengetahui pasti apakah ia akan sampai di Italia.

Namun, keesokan paginya, ia bangun terkaget-kaget oleh berita yang selama ini ia tunggu: mereka sampai di Italia. Ia mengedipkan matanya berkali, memastikan ia tak bermimpi. Dipandanginya sekeliling. Benar saja, terdapat empat perahu karet besar yang mengelilingi perahu mereka. Masing-masing perahu, memiliki kabin butih yang ditulisi kata “Guardia Costiera”. Suasana kian gembira. Mereka bertepuk tangan dan mengucap syukur. “Italia!” mereka bersorak.  “Italia, Italia, Italia!”

Bersambung

(Baca sebelumnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 2))

(Baca selanjutnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 4))


Tulisan ini diterjemahkan oleh Alhikmah dari artikel berjudul The Journey tulisan Patrick Kingsley, wartawan migran The Guardian, dari laman website Theguardian.com.  Foto-foto: Sima Diab. Pelaporan tambahan: Manu Abdo, Sima Diab dan ENAR Bostedt.  (Aghniya/Alhikmah)