Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 2)

Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 2)

0 71

Awalnya ..

Tiga tahun lalu, di Syria, perjalanan Hashem dimulai. Saat itu 15 April 2012, Osama berulangtahun. Lagi-lagi, ulangtahunnya terganggu.

Hari Ahad adalah hari kerja di Syria, hari pertama kerja dalam seminggu. Hashem pulang pukul 6 sore, ia duduk santai dengan putra-putranya sambil menonton acara televisi. Hayam, istrinya yang merupakan seorang guru, tengah memasak makan malam di dapur. Hashem mengulur-ulur waktu sebelum ia mengejutkan Osama dengan sebuah kue ulangtahun.

Lalu, ada ketukan pintu. Lebih tepat disebut gedoran, gedoran pintu yang tak pernah Hashem harapkan sebelumnya.Ia bukanlah seorang yang senang bersikap politik. Kala itu, ia hanya  seorang petugas sipil biasa yang bertugas menangani urusan air. Sudah tugasnya menagih tagihan air ke seluruh penduduk kota di Damaskus. Ia selalu fokus dengan pekerjaannya, dan tak pernah mencampuri urusan orang lain.

Namun saat ini, bukan itu masalahnya. Rezim mendatangi setiap rumah, dan menangkap semua pria yang bisa mereka temukan. Entah karena mereka adalah Sunni yang hidup di negeri yang dijalankan oleh para Alawis yang merupakan Syiah, ia hanya dapat berspekulasi.

Putra-putra Hashem memandanginya kala ia beranjak membuka pintu. Di balik pintu, berdiri 20 orang laki-laki. Hashem tak tahu apakah mereka adalah tentara, polisi, atau orang-orang militer yang pro-rezim. Yang ia tahu, mereka ada untuk menangkapnya dan orang-orang lainnya disana.

Sampai saat ini, pertempuran yang terjadi sering menghindari wilayah Haran Al Awamid, sebuah tempat di tenggara Damaskus yang berisi sekira 15.000 orang warga. Haran Al Awamid adalah kota kecil yang tenang, yang sebagian besar penduduknya adalah karyawan pemerintah. Namun di waktu seperti sekarang, tekanan meningkat. Rezim telah membunuh dua pemuda, mengikat mayat mereka di mobil, dan menggiring mereka mengelilingi kota. Tak semua orang berani bereaksi, namun kerabat dan keluarga korban memprotes dan memaki mereka di jalan.

Kini, saat Hashem dipaksa masuk ke belakang mobil, putra-putranya memandanginya dari ruang depan rumah. Rezim hendak melaksanakan pembalasan dendam. Awalnya, Hashem dan para tetangganya dibawa ke sebuah sel rahasia, tak jauh dari bandara Damaskus. Tapi tiga hari kemudian, mereka dipindahkan ke markas intelijen Damaskus.

Disana, ratusan orang tahanan pria berdesakan dalam sel-sel kecil, jauh di bawah tanah. Setiap harinya, 4-5 orangdari tahanan digiring ke ruang penyiksaan. Tahanan yang belum menikah disetrum di area kelaminnya. Tahanan-tahanan yang telah berkeluarga, seperti dirinya, kerap terhindar dari pelecehan itu, namun para tentara menggantung pergelangan tangan mereka. Hashem pernah berada dalam posisi ini selama 12 jam, dengan seutas tali mengikat kulitnya erat. Tahanan lain bahkan ada yang mengalaminya lebih lama, dan akhirnya, tangan mereka perlu diamputasi.

Setelah beberapa minggu, mereka dipindahkan ke suatu tempat yang serupa dengan anggar. Tempatnya cukup luas, dan mampu menampung beberapa pesawat terbang. Kendati demikian, saking banyaknya tahanan, mereka bahkan tak bisa membaringkan tubuh mereka. Tanpa jam dinding ataupun cahaya, tak sedikit pun dari mereka yang mengetahui waktu.

Suatu hari, berbulan-bulan setelah itu, para tahanan dibawa ke pusat kota Damaskus dan dilemparkan ke jalan. Mereka sama sekali tak mengetahui kala itu adalah Oktober, dan masyarakat tengah merayakan Idul Adha. Para tahanan menatap silau matahari yang menyinari mereka, seakan bertanya-tanya masa depan apa yang akan membawa mereka nanti setelah kejadian ini.

Namun bagi Hashem, masa depannya seketika suram. Saat ia dibebaskan, dua orang saudara laki-laki Hayam ditembak di hari yang sama.

Lalu, demi keamanan, Hashem dan Hayammemindahkan tiga putra mereka. Awalnya, mereka memindahkan anak-anak ke Hozroma, desa yang terletak tak jauh dari Damaskus. Tapi, ketika bom-bom meledak tak jauh dari posisi anak-anaknya, ia yakin Hozroma bukanlah tempat yang tepat untuk berlindung. Dalam beberapa hari, mereka telah bertolak ke sebuah desa bernama Tal, di sisi lain Damaskus.

Bagi mereka, negeri mereka telah luluh lantak, pun dengan rumah mereka. Secara harfiah memang seperti itu. Maka kembali ke Haran Al Awamid, rezim hendak membuat area netral di dekat bandara Damaskus. Pada Februari 2013, mereka pun menghancurkan rumah Hashem dan ratusan rumah lainnya. Sampai saat ini, Hashem selalu membawa kunci rumahnya, meski tahu tak ada lagi pintu yang perlu dibuka dengan kunci tersebut.

Melihat rumah mereka menjadi puing-puing, Hashem tahu Syria tak bisa lagi dijadikan sebagai tempat untuk hidup. Namun, kemana mereka harus pergi? Sempat terpikir untuk pindah ke Yordania, namun mereka mendengar kabar bahwa kondisi kamp di Yordania sangat memprihatinkan. Pilihan lainnya adalah Libanon, yang kini menjadi rumah bagi satu juta orang pengungsi Syria lainnya. Namun, mereka khawatir memikirkan reaksi milisi Syiah di negeri tersebut. Pilihan terakhir adalah Mesir. Pada Juni 2013, pemerintah Mesir menyambut para pengungsi dari Syria.

Mesir lah tujuan Hashem saat itu. Tapi, mereka tak punya tabungan untuk membeli tiket pesawat. Hingga akhirnya, Hayam menjual seluruh perhiasannya, kecuali cincin kawinnya. Sayangnya, jumlahnya tak mencukupi untuk membeli tiket pesawat.  Kendati begitu, mereka masih sanggup menumpang sebuah bus ke Yordania, lalu berganti kendaraan lagi sampai menuju Mesir. Dengan uang sekira 11.000 pounds Syria, mereka bisa mengendarai bus jarak jauh menuju pelabuhan Yordania Aqaba. Dan disana, mereka akan menemukan perahu menuju Mesir dengan harga $ 65.

Maka, pada 26 Juni 2013, keluarga kecil tersebut tiba di Marjeh Square, yang berada di pusat kota Damaskus. Tempat itu dipenuhi dengan warga-warga Syria yang akan melakukan perjalanan. Disana, terdapat berbagai agen wisata yang sebelum pemberontakan terjadi, banyak menyediakan jasa pariwisata.

Kali ini, ratusan pelanggan mengantri dan menanti bus-bus mereka. Bukan wisatawan, semuanya bertekad melarikan diri dari perang.

Bersambung

(Baca sebelumnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 1))

(Baca selanjutnya: Dari Damaskus ke Swedia, Perjalanan Mendebarkan Seorang Pengungsi Perang Suriah (Part 3)


Tulisan ini diterjemahkan oleh Alhikmah dari artikel berjudul The Journey tulisan Patrick Kingsley, wartawan migran The Guardian, dari laman website Theguardian.com.  Foto-foto: Sima Diab. Pelaporan tambahan: Manu Abdo, Sima Diab dan ENAR Bostedt.  (Aghniya/Alhikmah)