Dahsyatnya Wakaf Produktif di Negeri Minoritas Muslim

Dahsyatnya Wakaf Produktif di Negeri Minoritas Muslim

0 130
pic source: islamic-center.or.id

Salah satu pengembangan wakaf yang dilakukan adalah rekonstruksi wakaf Somerset Bencoolen, yang sebelumnya merupakan wakaf masjid dan 4 buah toko dari Syed Omar. Pada 2002, Warees membangun asset ini menjadi kompleks komersial. Kompleks ini berisi apartemen 12 lantai, 3 unit toko, 3 unit kantor, dan 1 bangunan masjid berdesain modern.

Dengan populasi muslim yang hanya 14%, pembaca tentu tak akan menyangka kalau wakaf telah lahir sejak dua abad silam, tepatnya tahun 1820 di negeri Singa tetangga kita, Singapura. Adalah Syed Omar Sharif Ali bin Al Junied, saudagar kaya dari Yaman yang mewakafkan tanahnya, di tepi selatan sungai Singapura, untuk dibangun masjid.

Sampai saat ini, masjid yang dikenal dengan nama Masjid Omar Kampong Malaka itu masih terus digunakan. Masjid pertama di Singapura itu pun menjadi ruang ibadah bagi 1.000 orang yang mayoritasnya adalah pekerja kantor itu.

Kontribusi wakaf Syed Omar tak hanya pada pembangunan masjid, ia juga mewakafkan tanahnya untuk digunakan sebagai pembuatan sumur, pemakaman, juga rumah sakit. Praktek wakaf saat itu terus menggeliat, terutama dari pedagang Yaman yang membawa tradisi wakaf dari tanah kelahiran mereka.

Sayangnya, sekira tahun 1970, perkembangan wakaf justru semakin surut. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya inovasi wakaf yang saat itu telah dikelola oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS), sementara harga properti kian melejit di luar kemampuan komunitas muslim Singapura.

Permasalahan ini ditambah dengan asset wakaf yang tak seluruhnya dapat dikelola oleh MUIS, karena beberapa wali wakaf memilih mengelolanya secara pribadi. Ini pun berdampak pada semakin buruknya manajemen yang dibuat MUIS, dan kasus-kasus penjualan asset wakaf tanpa sepengetahuan MUIS terus bermunculan.

Untuk memperbaiki keadaan tersebut, dibuatlah amandemen dari UU Administrasi Hukum Islam (AMLA). Undang-undang tersebut mewajibkan setiap waqif, untuk mendaftarkan asset wakaf mereka di MUIS, demi memastikan keberadaan asset wakaf di Singapura.

Hadirnya amandemen AMLA, meningkatkan perkembangan wakaf dengan signifikan. MUIS pun mulai merevitalisasi seluruh asset wakaf di Singapura untuk dikembangkan menjadi asset yang lebih produktif. MUIS memulai proyek pembangunan yang menggunakan skema pembiayaan syariah yang inovatif. Salah satunya investasi dalam real estate.

Pengembangan wakaf secara produktif ini pula yang menginisiasi berdirinya anak perusahaan MUIS, Waqf Real Estate Singapore (Warees) Investment Pte Ltd, pada 2001 dalam mengelola seluruh asset wakaf di Singapura. Saat itu, kompleksitas investasi tanah semakin meningkat, sehingga mau tak mau MUIS perlu mendirikan anak perusahaan.

Melalui Warees Investment Pte Ltd, MUIS berupaya memisahkan fungsi-fungsinya. Sementara Warees Investment Pte Ltd fokus mengelola fungsi komersial dari asset wakaf, MUIS dapat lebih leluasa menjalankan peran regulasi, mendistribusikan hasil wakaf, dan meningkatkan manajemen wakaf.

Salah satu pengembangan wakaf yang dilakukan adalah rekonstruksi wakaf Somerset Bencoolen, yang sebelumnya merupakan wakaf masjid dan 4 buah toko dari Syed Omar. Pada 2002, Warees membangun asset ini menjadi kompleks komersial. Kompleks ini berisi apartemen 12 lantai, 3 unit toko, 3 unit kantor, dan 1 bangunan masjid berdesain modern.

Proyek ini mengembangkan pembiayaan keuangan syariah dalam bentuk musyarakah dan ijarah. Mereka menyiapkan dana sekira 35 juta SGD dari para investor (gabungan dari sejumlah waqif), dengan profit sebesar 3.03 persen per-tahunnya. Oleh International Islamic Finance Forum, Singapura disebut-sebut sebagai satu-satunya negara di dunia yang melakukan inovasi wakaf dengan memanfaatkan konsep musyarakah.

Dari data yang dihimpun Zaki Halim Mubarak, melalui jurnalnya Peran Wakaf dalam Membangun Identitas Muslim Singapura, asset wakaf Singapura saat ini mencapai angka 586.700.000 SGD. Dari jumlah tersebut, MUIS menyalurkan dana sebanyak 98.900.000 SGD untuk kemaslahatan umat dan pemanfaatan sektor strategis.

Singapura, walau dikenal sebagai Negeri Modern cum Kebarat-baratan di Tanah Melayu, MUIS memastikan wakaf dapat menciptakan kesejahteraan komunitas muslim berdasarkan prinsip-prinsip agama. Terlebih dahulu, MUIS memprioritaskan hasil wakaf untuk masjid dan madrasah, karena pemerintah Singapura tidak memberikan bantuan finansial pada dua hal itu.

Per tahun 2012, masjid memang mendapat dana hasil wakaf terbesar, yaitu sebesar 1.536.780 SGD. Saat ini, masjid di Singapura diketahui sudah berjumlah 70 buah. Jumlah ini disusul oleh alokasi untuk madrasah, yang mencapai 310.750 SGD. Namun selebihnya, hasil wakaf didistribusikan untuk kebutuhan dhuafa, kegiatan sosial dan keagamaan, penyediaan layanan kesehatan, beasiswa, dan pengurusan pemakaman.

Rupanya, Singapura tak hanya mendistribusikan hasil dana wakaf pada masyarakat muslim di Singapura saja. Karena Singapura memiliki penduduk yang multi ras, tak jarang waqif ingin hasil wakaf mereka dirasakan oleh masyarakat muslim di negeri asal mereka. MUIS mengalokasikan 15% dari pendapatan wakaf untuk luar negeri.

Bahkan di Indonesia, MUIS memberikan dana hasil wakaf untuk pengelolaan masjid Az Zawiyah Al Atas di Jakarta. Sampai saat ini, Singapura terus mengalami kenaikan pendapatan wakaf, sehingga MUIS leluasa meningkatkan distribusi wakafnya ke berbagai sektor. Dari semua profit pengembangan wakaf ini, tak sedikit kegiatan ekonomi riil telah dihasilkan. Hal ini juga melahirkan banyak kesempatan kerja bagi para pengangguran.

(Aghniya/Alhikmah)