Curhatan Muslimah Palestina Atas Kesewenangan Israel Menahan Suaminya

Curhatan Muslimah Palestina Atas Kesewenangan Israel Menahan Suaminya

0 82

ALHIKMAHCO,– Fayha Shalash hidup dalam luapan kecemasan setelah suaminya, Mohammed al-Qeeq, sejak 2 bulan kemarin mogok makan di sebuah penjara Israel. Aksi ini sebagai bentuk protesnya atas penangkapan tanpa alasan dan tuduhan apa pun.

Sebagaimana yang dilansir dari laman Anadolu Agency, sebagai seorang ibu dari dua anak yang masih sangat belia, Shalash merasa kehidupan keluarganya telah jauh berubah sejak suaminya ditangkap.

“Awalnya, kami menjalani kehidupan tenang sebagai sebuah keluarga yang bahagia. Akan tetapi penangkapan suami saya mengubah segalanya. Kini, kami bergerak dari satu tempat ke tempat lain, memprotes ketidakadilan ini terus menerus,” kisah Shalash, medio Januari 2016.

Shalash menceritakan saat ini kondisi suaminya sangat kritis dan tengah dirawat di unit perawatan intensif. Setiap menit berlalu, imbuhnya, kondisi Al-Qeeq menjadi lebih buruk. Dia menolak untuk makan atau untuk menjalani uji medis.

Shalash pun menyeru kepada organisasi-organisasi hak asasi manusia untuk berdiri bersama suaminya. “Israel menahan suami saya tanpa tuduhan dan alasan. Penahanan ini tidak adil dan bertentangan dengan hukum internasional dan kemanusiaan,” tandasnya.

Sementara itu, saudara laki-laki Mohammed, Hammam al-Qeeq mengatakan bahwa keluarganya hanya tahu tentang kondisi saudaranya melalui pengacara, serta tidak ada komunikasi langsung antara keluarganya dengan yang bersangkutan.

“Keluarga kami menjalani kehidupan yang keras. Ayah saya sakit. Dia menjalani operasi jantung terbuka. Dia terus mengatakan bahwa penangkapan Mohammed membuatnya semakin terluka,” ungkap Hammam.

Mohammed al-Qeeq, pria yang berasal dari kota Hebron, Tepi Barat Palestina. Ia tinggal di Ramallah, di mana ia bekerja untuk al-Majd TV, saluran satelit berbahasa Arab populer.

Kasus mogok makan di penjara-penjara Israel bukan sesuatu yang dilakukan tanpa contoh. Khader Adnan, seorang pemimpin dalam kelompok Jihad Islam, sebelumnya melakukan mogok makan selama 67 hari di tahun 2012, untuk memprotes penahanan administratifnya. Ia pun baru dikeluarkan tiga tahun berikutnya.

Kebijakan penahanan administratif Israel memungkinkan untuk menahan warga Palestina dalam jangka waktu enam bulan yang dapat diperpanjang tanpa proses pengadilan. Menurut laporan resmi Palestina, Al-Qeeq bukanlah satu-satunya warga yang menjadi korban kesewenangan Israel, lebih dari 6.500 warga Palestina mendekam di penjara-penjara Israel saat ini. (Asih/ed.kevin/Alhikmah/aa.com.tr)